segenggam garam dari seorang ajengan

Seorang pemuda kembali ke kampung halamannya untuk menemui seorang kakek yang tak lain adalah gurunya. Seorang ajengan yang sangat dihormati. Kepada Si Kakek, pemuda tersebut menceritakan tentang penderitaan yang baru saja dialaminya. Setelah mendengar keluh-kesah muridnya, Sang Guru mengambil segenggam garam dan melarutkannya ke dalam segelas air. “minumlah” kata beliau kemudian … dan pemuda itupun meminumnya. “Bagaimana rasanya ?”, lanjutnya… “asin, pahit, Guru …!!!” jawab si pemuda.

 

Kemudian Si Kakek mengajak pemuda tersebut ke tepi sebuah telaga. Sesampai di tempat yang dimaksud, Si Kakek kembali mengeluarkan segenggam garam dan menaburkannya ke dalam telaga dan mengaduknya dengan sepotong kayu. “minumlah” kata Si Kakek. Dengan rasa penasaran bercampur ragu, pemuda itu pun mengambil segenggam air telaga dan meminumnya. “Rasanya seperti apa ?” tanya si Kakek kembali. “Wah, segarrrr …, Guru!!!” seru si Pemuda.

 

Akhirnya Sang Guru berkata dengan bijaknya : “Nak, pahitnya kehidupan ini layaknya segenggam garam. Tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa asin itu adalah sama, tetapi rasa asin yang kita rasakan sangat tergantung dari wadah tempat kita meletakkan perasaan itu … dan wadah itu adalah HATI”.

courtessy of : Mandiri Pettarani episode : antrian dpn CS -menghabiskan 1/3 pagiku di awal Oktober ini tingkyu-so much …  mmmuach, ternyata menunggu tak selamanya membosankan…ya ya ya ^^d …

tingkyu tingkyu tingkyu so much ^__^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s