.: tentang rasa :.

ketika sebuah rasa
tak sempat berbicara
ketika sebuah kata
tak sempat terkata
ku hanya bisa terpaku
membisu,,,
dalam diamku
di antara tatapan
dan ratapan

ketika sebait puisi tak sempat tertulis
walau hati perih, merintih
semoga ku bisa menahan tangis
dalam sedih dan pedih
terselip sebaris senyum manis

“ketika duka memberikan seribu kesedihan, tunjukkanlah bahwa kita masih dapat tersenyum…^^d

.: Umar Kecil :.

Allah, Engkau ada dan Maha melihat, pun Maha mengurus. Tak ada ceritanya menyisakan ruang kebetulan pada apapun kisah yang menjadi takdir hidup.

Termasuk pertemuanku dengan umar kecilku (umaa).  Lincah, polos dan selalu ceria. sangat aktif !!! bergerak kesana kemari penuh semangat seperti lebah kecil yang lincah.

 

Suara khas si umar mulai berdengung di telingaku saat aku mulai mengumpilkan bahan untuk

tugas akhirku di Rumah Madu. Sejak hari pertama Umar kecil yang  aktif,

selalu menemaniku dengan riang dan lincahnya dia. Celoteh-celoteh dan tingkahnya yang lucu selalu menghangatkan hari-hariku berkenalan dengan

dunia madu. Awalnya aku sedikit kerepotan dengan bahasanya yang asli super “nda’ roaming…!!!

belum lagi, ngomongnya kayak kereta api . “Ahhh…akhirnya

aku yang lambat loading jadinya, sampai akhirnya aku juga menyebutnya “lokomotif kecil” .

Hmmm…itulah Umar yang lucu dan unik. Untuk setiap kata  dia punya bahasanya sendiri.

Lebah misalnya, dia menyebutnya “iibah”, dan yang selalu terkenang adalah saat  ia mengucapkan salam “alaituuum…”. Tapi syukur alhamdulillah akhirnya dengan sedikit kursus dari kakek-nenek umar, aku bisa mencerna setiap kata yang keluar dari mulut polosnya. dan senag sekali aku akhirnya  sukses menjadi lawan bicara yang baik untuknya.  Khusus untuk Bibi Maryam yang selalu baik, umar memanggilnya “Bibi Iya”.

Pola dan tingkah lucu umar adalah pemandangan indah yang kutemukan di rumah madu. Bergerak lincah seirama dengan tarian dan dengungan koloni apis mellifera yang selalu bersemangat. Bergerak lincah diantara barisan drum-drum madu yang memenuhi hampir seluruh halaman rumah madu, selain barisan pagar si merah Rosella tentunya.

Tapi keadaannya menjadi sangat berbeda saat aku menyaksikan umar kecilku terbaring lemah di sebuah bangsal anak di RSU DR Wahidin Sudirohusodo. So sad…!!! sangat terenyuh tapi aku mencoba untuk tak menitikkan air mata di depan K’Pur, Si Ummi terkasih, meski ke dua mataku terasa panas dan berkaca-kaca. Apalagi setelah menyaksikan botol-botol infus dan tabung oxygen … “hhh…

aku benar-benar tak kuasa menyaksikannya. Tapi Subhanallah Ya allah…!!! ternyata umar kecilku tidak lemah, sebaliknya dia sangat tabah dan kuat. Bibirnya bergetar pelan melafadzkan

ayat-ayat suci-Mu. “Ya Robb,,,aku makin terharu”.

Berhari-hari lebah kecil kami terbaring di rumah sakit. Meskipun Allah tahu kami sangat menyayanginya. tapi ternyata Allah jauh lebih sayang dan cinta padanya, bahkan sangat merindukannya.

Innaa lillahi wa innaa ilaihi roji’un, umar kecil kami akhirnya kembali kepada-Nya meninggalkan kenangan-kenangan manis yang akan selalu kami kenang. Kenangan akan kisah manis yang bukan hanya sekedar kata kebetulan, tapi adalah takdir hidup dia dan kami.

“Allaahumma ighfir lahu war-hamhu wa akrim nuzulahu wa wassi’ madkholahu … “

*. in memoriam Sahabat kecilku Umar Al-Faruq