*~ sesuatu di balik rembulan

Judul : Rembulan Tenggelam di Wajahmu
Penerbit : Republika
penulis : tere liye
tebal buku : 426 HALAMAN

Tutup mata kita. Tutup pikiran kita dari carut- marut kehidupan. Mari berpikir takjim sejenak. Bayangkan saat ini ada satu malaikat bersayap indah datang kepada kita, lantas lembut berkata: Aku memberikan kau kesempatan hebat. Lima kesempatan untuk bertanya tentang rahasia kehidupan, dan aku akan menjawabnya langsung sekarang. Lima Pertanyaan. Lima jawaban. Apakah pertanyaan pertamamu?
Maka apakah kita akan bertanya: Apakah cinta itu? Apakah hidup ini adil? Apakah kaya adalah segalanya? Apakah kita memilki pilihan dalam hidup? Apakah makna kehilangan?
Ray (tokoh utama dalam kisah ini), ternyata memiliki kecamuk pertanyaan sendiri. Lima pertanyaan sebelum akhirnya dia mengerti makna hidup dan kehidupannya.
Siapkan energi Anda untuk memasuki dunia Fantasi Tere-Liye tentang perjalanan hidup. Di sini hanya ada satu rumus: semua urusan adalah sederhana. Maka mulailah membaca dengan menghela nafas lega

Khas-nya Tere Liye, membuat cerita yang bisa jadi bahan perenungan bagi pembacanya..

Berikut kutipan dari novel ini yang paling berkesan:

Bayangkanlah sebuah kolam luas,
Kolam itu tenang,
saking tenangnya terlihat bak kaca.

Tiba-tiba hujan deras turun..
Bayangkan,
ada berjuta bulir air hujan yang jatuh di atas air kolam, membuat riak..
Jutaan rintik air yang terus-menerus berdatangan, membentuk riak, kecil-kecil memenuhi seluruh permukaan kolam…

Begitulah kehidupan ini,
bagai sebuah kolam raksasa.
Dan manusia bagai air hujan yang berdatangan terus-menerus, membuat riak..
Riak itu adalah gambaran kehidupannya.

Siapa yang peduli dengan sebuah bulir air hujan yang jatuh ke kolam, menit sekian, detik sekian? Ada jutaan bulir air hujan lain, bahkan dalam sekejap riak yang ditimbulkan tetes hujan barusan sudah hilang, terlupakan, tak tercatat dalam sejarah…

Siapa yang peduli dengan anak manusia yang lahir tahun sekian, bulan sekian, tanggal sekian, jam sekian, menit sekian, detik sekian? Ada miliaran manusia, dan bahkan dalam sekejap, nama, wajah, dan apalah darinya segera lenyap dari muka bumi! Ada seribu kelahiran dalam setiap detik, siapa yang peduli?
Itu jika engkau memandang kehidupan dari sisi yang amat negatif..

Kalau engkau memahaminya dari sisi positif,
maka kau akan mengerti ada yang peduli atas bermiliar-miliar bulir air yang membuat riak tersebut,
Peduli atas riak-riak yang kau timbulkan di atas kolam, sekecil atau sekejap apapun riak itu..

Dan saat kau menyadari ada yang peduli,
maka kau akan selalu memikirkan dengan baik semua keputusan yang akan kau ambil..
Sekecil apapun itu, setiap perbuatan kita memiliki sebab-akibat..

Siklus sebab-akibat itu sudah ditentukan..
Tak ada yang bisa mengubahnya, kecuali satu!
Yaitu Kebaikan..
Kebaikan bisa mengubah takdir..
Nanti engkau akan mengerti, betapa banyak kebaikan yang kau lakukan tanpa sengaja telah merubah siklus sebab-akibat milikmu..
Apalagi kebaikan-kebaikan yang memang dilakukan dengan sengaja..

Seseorang yang memahami siklus sebab-akibat itu,
Seseorang yang tahu bahwa kebaikan bisa mengubah siklusnya,
Maka dia akan selalu mengisi kehidupannya dengan perbuatan baik..
Mungkin semua apa yang dilakukannya terlihat sia-sia,
Mungkin apa yang dilakukannya terlihat tidak ada harganya bagi orang lain,
Tapi dia tetap mengisi sebaik mungkin…

hohoho … sangat sesuatu huhuhu …

*~ Kisah Tiga Orang Kuli Bangunan

Ini adalah sebuah kisah klasik tentang tiga orang kuli bangunan.

Kisah sederhana namun inspiratif.

Entah darimana kisah ini berasal, yang jelas kisah ini telah melanglang

buana begitu jauh.

Dari mulut ke mulut, dari generasi ke generasi.

Menyeberangi lautan, tiba dibenua yang satu lalu tersebar disana kemudian

berangkat ke benua dan bahasa yang lain.

Suatu kali disiang yang terik, disaat ketiganya tengah sibuk bekerja,

melintaslah

seorang tua.

“Apa yang sedang kau kerjakan ?”, tanya orang tua itu kepada salah seorang

dari antara mereka.

Pekerja bangunan yang pertama tanpa menoleh sedikitpun, menjawab orang tua

itu dengan ketus.

“Hei orang tua, apakah matamu sudah terlalu rabun untuk melihat. Yang aku

kerjakan dibawah terik matahari ini adalah pekerjaan seorang kuli biasa !!”.

Orang tua itupun tersenyum, lalu beralih kepada pekerja bangunan yang kedua.

“Wahai pemuda, apakah gerangan yang sebenarnya kalian kerjakan ?”.

Pekerja bangunan yang kedua itupun menoleh. Wajahnya meskipun ramah

tampak sedikit

ragu.

“Aku tidak tahu pasti, tetapi kata orang, kami sedang membuat sebuah rumah

Pak”, jawabnya lalu meneruskan pekerjaannya kembali.

Masih belum puas dengan jawaban pekerja yang kedua, orang tua itupun

menghampiri pekerja yang ketiga, lalu menanyakan hal yang sama kepadanya.

Maka pekerja yang ketiga pun tersenyum lebar,

lalu menghentikan pekerjaannya sejenak, lalu dengan

wajah berseri-seri berkata.

“Bapak, kami sedang membuat sebuah istana indah yang luar biasa Pak !

Mungkin kini bentuknya belum jelas, bahkan diriku sendiripun tidak tahu

seperti apa

gerangan bentuk istana ini ketika telah berdiri nanti. Tetapi aku yakin,

ketika selesai, istana ini akan tampak sangat megah, dan semua orang yang

melihatnya

akan berdecak kagum. Jika engkau ingin tahu apa yang kukerjakan, itulah yang

aku kerjakan Pak !”, jelas pemuda itu dengan berapi-api.

Mendengar jawaban pekerja bangunan yang ketiga, orang tua itupun sangat

terharu, rupanya orang tua ini adalah pemilik istana yang sedang dikerjakan

oleh ketiga pekerja bangunan itu. (*)

Hal yang sama rupanya berlaku pula dalam hidup ini.

Sebagian besar orang tidak pernah tahu untuk apa mereka dilahirkan kedunia.

Mungkin karena telah begitu disibukkan oleh segala bentuk “perjuangan”,

merasa tidak terlalu perduli dengannya.

Bisa hidup saja sudah syukur !

Sebagian lagi, yang biasanya adalah tipe “pengekor” atau “me too”

yaitu orang-orang

yang punya pandangan yang samar-samar tentang keberadaan mereka dalam

kehidupan.

Sepertinya begini…kayanya begitu…kata motivator sih

begono..tapi pastinya ?

Don’t have idea !!

Namun sisanya : golongan terakhir -biasanya hanya segelintir orang-

menemukan “visi” atau “jati diri” mereka didunia ini.

Mereka adalah orang-orang yang tidak hanya kebetulan lahir, sekedar hidup,

bertahan agar tetap hidup, tua karena memang harus tua, kawin lagi jika ada

kesempatan, lalu berharap mati dan masuk

surga, namun adalah orang-orang yang hidup dalam arti yang sebenar-benarnya.

Mereka sering dianggap sebagai “perpanjangan tangan TUHAN”.

Orang-orang yang tidak hanya berjalan dalam tuntunan tangan Yang Maha Kuasa,

tetapi juga mengenal benar kemana arah perjalanan itu, dan tentunya bergaul

karib dengan DIA, Sang Penuntun perjalanan mereka.

Semoga setelah kembalinya ke fitrah, membuat Anda dan saya tidak hanya

menjadi bersih dan suci,

namun lebih dari itu, mengetahui untuk apa kita hadir didunia ini.

Sehingga tugas maha luas dan abstrak “menjadi rahmat bagi semesta” dapat

kita konkritkan dan tunaikan sebelum selesainya sisa waktu yang kita miliki.

cerita oleh : oleh Made Teddy Artiana, S. Kom dalam http://hampala.multiply.com/journal/item/6635