demikianlah

# Engkau adalah cerita

Kemarin adalah cerita tentangmu

Hari ini pun masih ku bercerita tentangmu

dan esok … kuharap demikian

tentangmu, aku selalu ingin bercerita

cerita yang selalu hangat diceritakan

cerita yang terlalu indah untuk dilupakan

cerita yang akan tersimpan rapi dalam kotak bernama kenangan di setiap masa

bagiku Engkau adalah cerita …

demikianlah

# Cinta

Jika orang berkata bahwa cinta adalah cerita indah namun tak berarti

aku toh justru memaknainya dengan kata yang lain yang lebih bermakna

bahwa cinta adalah saat tubuh mulai renta dan rambut mulai memutih,

dan kita saling menopang satu sama lain.

Betapapun dan siapapun kita di masa lalu, siapa yang peduli

Karena hanya ada satu hal, bahwa kita saling peduli.

bahwa cinta adalah kita di usia senja

demikianlah

a cup of semangat

Kecemasan membuat kita melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada.
Kecemasan membuat kita menjadi lumpuh sebelum kita akhirnya benar-benar jatuh.
Percayalah hari ini kamu akan mendapatkan jawaban-jawaban yang akan mengakhiri kecemasanmu.

sumber :

semangat pagiiiiiiiiiiiiiiiiiii ^^d

RIP dear papa (2)

Hari ini, adalah untuk 59 tahun mengenang kelahiranmu

dan hari ini pun adalah tepat sebulan sepeninggalmu.

Hari-hari terasa berbeda, tapi sungguh demikianlah hidup menguatkan kami

bahwa ada yang datang dan kemudian pergi

namun sungguh engkau selalu hidup dalam kenangan dan doa-doa kami,

anak-anakmu.

RIP-lah dear papa, we love u, but Allah hauh lebih mencintaimu

menyayangimu sebagaimana engkau menyayangi kami.

“Allaahumma-gfir lahu warhamhu wa akrim nuzulahu wa wassi’ madkholahu wa qihi fitnatal-qobri wa ‘adzaaba-nnaar”

di ruang rindu kita bertemu

aaaahhhh semilir angin pagi menghembuskan kerinduan, dan lagi-lagi aaaaagggghhhh pagi-pagi meleleh pagi-pagi melankolis.

dan kemudian pagi beranjak siang namun tak demikian dengan rindu yang tetap mengusik sedari pagi meski teriknya siang mulai menyengat. Lalu kemudian teriknya siang perlahan memudar di balik rona senja, namun rindu ini tetap terjaga.  “Namamu tersemat di ruang rindu, oh adakah dirimu demikian ?? ” , tanya hatiku.

pada penggalan waktu sore yang indah, 
telah kutitipkan cinta di selaput tipis ruang hatimu yang teduh,
maka biarkan cinta itu lelap disana,
meski gigil menggigit ngilu dan sedikit mengusik lelapnya mimpi,
mimpi tentang samudera yang terarungi namun tiada pernah terlihat tepiannya .

Ku tau cinta yang kutitipkan tak elok seperti asa di kehidupanmu,
hingga aku tak pernah tau seberapa berartinya cinta itu bagimu,
karena ku tau engkau seseorang yang penuh dengan ketakterdugaan ,
Namun pun begitu, 
ku tau dirimu telah mampu meneduhkan resah pada kesunyian yang tiada pernah sedetik pun enyah dari ruang waktu ku,
hingga tiada alasan apapun untuk tidak mengakui bahwa benarlah hadirmu telah mampu menerbangkan putik putik cinta dari dalam taman hatiku.

Aku tau engkau membutuhkan waktu untuk menerjemahkan setiap goresan kataku menjadi sebuah makna kalimat tentang cinta,
aku juga tau engkau memerlukan waktu untuk mengenal warna suaraku dimana intonasinya sering menjadi kacau kala kuterbius di indah suaramu.

Kadang terfikir olehku tentang keberanian untuk mencintaimu,
sedang ku tau akhir kisah ini tak akan menjadi indah seperti kisah cinta Romie dan Juliete .

Ah … aku merindukanmu,
sebuah ucapan ironis yang tanpa kusadari telah terucap dari belahan bibirku yang kaku lagi beku,
hingga langit akalku melesat untuk mencari cinta yang kutitipkan di selaput tipis hatimu itu .

Aku menyadari bahwa aku telah mengambil resiko untuk mencintaimu,
hingga kadang munafik ku berkata dengan angkuh nya bahwa aku akan siap untuk kehilanganmu ,
padahal jika sekejab saja aku kehilanganmu, 
ada kelu yang mengelus hati,
lalu menghadirkan sebuah rindu yang tak mampu kuramu untuk menjadi sebuah penawar .

Entahlah,
aku tidak sedang ingin menangis, 
kala ku tau engkau sedang meniti detik waktu yang ramah dalam sebuah romansa yang indah .

Hingga biarlah waktu yang mengajariku tentang sebuah kata kebahagiaan,
di mana kebahagiaan yang kau rasa akan kurasakan juga,
entah mulai detik ini, 
entah esok atau nanti ,
dan entah hingga ruang waktu yang akan memaksanya , 
karena aku telah terlanjur mencintaimu dalam sebuah ruang kerinduan 

sumber : http://apsas.multiply.com/journal/item/911

Rindu ini mulai menguras hati 😦

rip. my papa

Seorang anak kawan lama mencarimu pagi ini.

“Amanat Bapak”, demikian katanya. Dan seperti beberapa kawan-kerabat lainnya. “Tak tahu”.

Mereka tak tahu namun sebuah hasrat kuat, firasat atau ikatan kah ??? entahlah namun membuat mereka begitu ingin menjumpaimu.

Namun, lagi-lagi takdir telah berkata lain, hanya nama dan kisahmu yang terdengar lirih. “innaa lillah wa innaa ilaihi roji’un … “.

28 days have passed … rest in peace papa. sampai jumpa di kehidupan yang lain.

*. Ya Allah, ampuni segala dosa-dosanya, lapangkan alam kuburnya, jauhkan ia dari siksa kubur dan api neraka. Amin amin amin Ya Robb.

.: Jum’at, 1 Ramadhan 1433 H :.

DARI ATAS SATU TANAH TEMPAT KITA BERPIJAK

Dari atas satu tanah tempat kita berpijak Teruslah bergerak, berhentilah mengeluh…

Pada setapak kehidupan ketika kau bersedih
Senandung cerita lirih hati yang tak bertepi Pada dimensi sajak hari yang terlalu dingin Ketika kesepian menjawab renta malam tanpa angin Semilir hidup dan sebuah kalimat mungkin
Pada harapan ketika jiwa harus tetap berdiri Membelai hidup yang tak memerlukan terima kasih

Maka, maafkanlah…
Hadapi hidup ini apa adanya Hidupi hidup dengan iman dan kesabaran
Enyahkan kejenuhan hidupmu buanglah rasa cemas Bersyukurlah seluas langit dan bumi
Tinggalkan kekosongan harimu dalam rencana esok pada kehidupan di hari yang lain
Tanyakan pada dirimu akan kesantunan yang selalu terabaikan !

Dari atas satu tanah tempat kita berpijak Teruslah bergerak, berhentilah mengeluh…

Peliharalah, peliharalah senyummu agar tak menjadi palsu
Menikmati kesedihan dan menjadi tangguh Menakhlukkan pedih menjadi peluru
Bernafas seperti batu, menjadi
singa dalam kejayaan matahari Menjaga malam bersama tamaknya ibadah para rahib rabbani
Mensyukuri semesta barsama para penjaga purnama Menikahkan jiwa bersama dakwah
Mencumbu cinta didalam jihad Bekali perjalanan bersama Allah dan RasulNya Membalut hati tanpa retorika

Siapkah kau jika hari menjadi pedang dan kesempatan kedua tak lagi memilki sarang Bertarung manjaga cinta dalam kesepian
Membunuh waktu dalam harapan Karena lahir adalah untuk melihat kenyataan

Dari atas satu tanah tempat kita berpijak Teruslah bergerak, berhentilah mengeluh…

Pada lautan airmata kita belajar
Pada kepedihan yang mendidik kita tuk tak gentar Bertahan menjadi akar, bersemi pada keteguhan yang mekar

Celakalah para humazah dan lumazah Neraka serapah jelantah Kebutuhan jiwa di alam barzakh

Menebar jejak misteri syafaat dan kesolehan Pada saat setiap telusuri sahara jiwa dan keabadian Didekat jasad syahid hamzah Temukanlah ibroh bukit uhud dari profil mini musoirah

Begitulah sejarah menuntut kita tuk bangkit kembali Meniti tangga hari walau berulang terjatuh bangkit dan kembali terjatuh

Berdiri dan optimislah! Karena kita adalah pewaris Rasulullah diajarkan bersabar diantara lapisan batu penduduk Thaif

Dari atas satu tanah tempat kita berpijak Teruslah bergerak, berhentilah mengeluh…

Low quality image of the historical "seal...

Low quality image of the historical “seal of Muhammad”, with some added artistic decoration (and an illegible copyright notice). The seal itself is found on letters sent from Muhammad. The text reads “Muhammad rasul Allah (Muhammad is the messenger of God). (Photo credit: Wikipedia)

Semangkuk semangat, seikat inspirasi

Ini adalah sebuah cerita inspirasi yang sangat luar biasa antusias. Ku dapat dari sebuah buku yang sama luar biasa inspiratif dan antusiasnya berjudul Jatuh 2x… Berdiri 3x… , salah satu dari beberapa cerita rakyat Jepang yang disemat apik oleh Li Shi Guang. Seperti dikisahkan oleh pengarang bahwa cerita ini diperolehnya dari seorang teman. Cerita ini dibawa oleh anak gadis Ny. Hsu yang tinggal di Kao Hsiung. Anak gadisnya pulang dari Amerika pada awal Januari dengan membawa oleh-oleh sebuah sebuah kisah nyata yang menggugah hati. Kisah ini terjadi pada malam Chu Si (malam menjelang tahun baru imlek) dan tertuang dalam lebih dari 50 halaman. Kisah ini sangat mengharukan banyak orang Jepang. Cerita ini disebut sebagai kisah “Semangkuk Mi Kuah, yang diterjemahkan oleh Li Kuei Chuen.

Pada 31 Desember lima belas tahun  yang lalu, yang juga merupakan malam Chu Si, di sebuah jalan di Kota Sapporo, Jepang, berdiri sebuah toko mi bernama “Pei Hai Thing” (Pei = utara, Hai = Laut, Thing = Kios, Toko).

Makan mi pada malam Chu Si merupakan adat turun-temurun orang Jepang. Hari itu pemasukan toko-toko mi sangatlah baik, tidak terkecuali Pei Hai Thing. Hampir sehari penuh pengunjung ramai berkunjung. Tetapi setelah pukul 22.00 tidak ada lagi pengunjung yang datang, padahal biasanya jalan sangat ramai hingga waktu subuh. Namun karena semua orang terburu-buru pulang ke rumah untuk merayakan tahun baru, maka hari itu jalan dengan cepat menjadi sepi.

Pemilik Toko Pei Hai Thing adalah seeorang yang jujur dan polos. Istrinya pun adalah seorang yang ramah dan selalu melayani orang dengan penuh kehangatan. Saat tamu terakhir pada malam Chu Si itu telah keluar dari toko mi dan sang istri pun tengah bersiap menutup toko, pinti toko terihat kembali terbuka. Seorang wanita dengan membawa dua orang anak masuk. Ke dua anak itu berusia kira-kira 6 dan 10 tahun. Mereka mengenakan baju olahraga baru yang serupa satu dengan yang lainnya. Sementara Si Wanita memakai baju bercorak kotak yang telah usang.

“Silahkan duduk, ” Sang pemilik toko mengucapkan salam.

Wanita itu berkata dengan nada ketakutan, ” bolehkah … memesan semangkuk mi kuah ?”

Ke dua anak di belakangnya saling berpandangan, tak tenang.

“Tentu … tentu boleh, silahkan duduk di sini, ” sang istri mengajak mereka ke meja nomor dua di bagian paling pinggir, lalu berteriak dengan keras ke arah dapur, “semangkuk mi kuah !”

Sebenarnya jatah mi untuk semangkuk mi kuah hanyalah satu ikat, tetapi sang pemilik toko menambahkan lagi sebanyak setengah ikat, kemudian menyiapkannya dalam sebuah mangkuk besar. Hal ini tak diketahui oleh sang istri dan ketiga tamunya itu.

Ibu dan kedua anaknya mengelilingi semangkuk mi kuah tersebut dan menikmatinya dengan lahap. Sambil makan mereka berbicara dengan suara pelan, “enak sekali!”

Si adik menyumpit mi untuk menyuapi ibunya. Dan tak lama kemudian, semangkuk mi itupun habis. Setelah membayar 150 yen, ibu dan kedua anaknya dengan serempak memuji dan menghaturkan terima kasih.

“Lezat sekali, terima kasih banyak !” kata mereka seraya membungkuk memberi hormat, lalu berjalan meninggalkan toko.

Setiap hari berlalu dengan penuh kesibukan, tak terasa setahun pun telah berlalu. Sampai pada 31 Desember ini pun usaha  Pei hai Thing masih tetap ramai. Kesibukan pada malam Chu Si ini akhirnya selesai. Jam menunjukkan waktu telah lewat dari pukul 22.00. Sang istri pemilik toko tengah berjalan ke arah pintu untuk menutup toko ketika pintu itu terbuka lagi dengan pelan. Terlihat seorang wanita paruh baya melangkah masuk bersama dua orang anaknya. Ketika melihat baju bercorak kotak yang telah usang itu, seketika sang istri teringat akan tamu terakhir pada malam Chu Si tahun lalu.

” Bolehkah … membuatkan kami … semangkuk mi kuah ?”

” tentu, tentu, silahkan duduk.”

Sang istri mengajak mereka ke meja nomor 2–meja yang pernah mereka tempati tahun lalu–sambil berteriak dengan keras, “semangkuk mi kuah !”.

Sang suami menyahut smbil menyalakan api yang baru saja ia padamkan. Diam-diam istrinya masuk dan berbisik kepada suaminya, “masak tiga mangkuk untuk mereka, boleh tidak ?”

” Jangan, kalau seperti itu mereka bisa merasa tidak enak. ”

Sambil menjawab, sang suami menambahkan setengak ikat mi ke dalam kuah yang mendidih.

Setelah dihidangkan, kembali ibu dan kedua anak itu mengelilingi mi kuah tersebut. Ketika makan, mereka berbicara yang ternyata terdengar ke telinga suami pemilik toko.

Sangat wangi … sangat hebat … sangat nikmat !”

” Tahun ini masih bisa menikmati mi Pei Hai Thing, sangatlah baik !”.

” Alangkah baiknya jika tahun depan masih bisa datang untuk makan di sini ! ”

Setelah selesai makan dan membayar 150 yen, ibu dan kedua anak itu berjalan meninggalkan Pei Hai Thing.

” Terima kasih banyak ! Selamat Tahun Baru. ”

Memandang ibu dan anak yang berjalan pergi, suami istri pemilik toko berulang kali membicarakannya cukup lama.

Pada malam Chu Si tahun berikutnya, usaha Pei Hai Thing tetap berjalan dengan sangat baik. Saking sibuknya pada hari itu, sepasang suami istri itu sampai tak punya waktu untuk berbicara. Namun, setelah lewat pukul 21.30, ke dua orang itu justru mulai merasa tak tenang.

Pukul 22.00, pegawai toko telah pulang setelah menerima Hung Pao (Ang Pao). Pemilim toko dengan tergesa-gesa membalik setiap lembar daftar harga yang tergantung di dinding. Daftar kenaikan harga ” Mi Kuah 200 yen semangkuk ” sejak musim panas tahun ini, ditulis ulang menjadi 150 yen.

Di atas meja nomor 2, tiga menit yang lalu sang istri telah meletakkan kartu tanda “telah dipesan”. Sepertinya ia bermaksud menunggu tamu yang akan tiba. Setelah lewat pukul 22.00, ibu dengan dua orang anak itu akhirnya muncul kembali.

Sang kakak memakai seragam SMP, sedangkan sang adik mengenakan jaket–yang terlihat agak kebesaran–yang dipakai kakaknya tahun lalu. Kedua anak ini telah tumbuh dewasa. Sementara itu, sang ibu masih memakai baju bercorak kotak usang yang telah pudar warnanya.

” Silahkan masuk ! silahkan masuk ! ” sang istri pemilik toko menyambut dengan hangat.

Melihat istri pemilik toko yang menyambut dengan senyum hangat, ibu kedua anak itu dengan agak ketakutan berkata, ” Tolong … tolong buatkan dua mangkuk mi, bolehkah ? ”

Baik, silahkan duduk. ”

Sang istri mengajak mereka ke meja nomor dua, dengan cepat menyembunyikan tanda “telah dipesan” seakan-akan tak pernah diletakkan di sana, lalu berteriak ke arah dalam, “dua mangkuk mi!”

Sambil menyahuti teriakan sang istri, sang suami melempar tiga ikat mi ke dalam kuah yang mendidih. Setelah itu, ia segera menyajikan dua mangkuk mi panas kepada tiga orang tamunya.

Ibu dan kedua anak itu terlihat sangat gembira. Sambil makan, mereka bertiga tampak sedang berbincang. Sepasang suami-istri pemilim toko berdiri di balik pintu dapur, turut merasakan kegembiraan mereka.

” Siao Chun, kakak,hari ini ibu ingin berterima kasih kepada kalian berdua. ”

“Terima kasih ? Mengapa ?” tanya si anak sulung.

” Tentang kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan delapan orang terluka yang disebabkan oleh ayah kalian. Setiap bulan dalam beberapa tahun ini, uang sebesar 50,000 yen harus diserahkan untuk menutupi bagian yang tak dapat dibayar oleh pihak asuransi.”

“Ya, hal itu kami tahu, sang kakak kembali menyahut.

Istri pemilik toko terdiam mendengarkan pembicaraan itu.

“Awalnya kita harus membayar hingga Maret tahun depan, tetapi ternyata telah terlunasi pada hari ini. ”

“Oh, ibu, benarkah ?”

“Ya benar. Itu karena kakak mengantar koran dengan rajin, Siao Chun membantu membeli sayur dan menank nasi sehingga ibu bisa bekerja dengan hati tenang. Perusahaan memberikan bonus istimewa kepada ibu karena tidak pernah absen kerja. Oleh karena itu, ibu dapat melunasi seluruh bagian yang tersisa.”

“Ma! Kakak! Alangkah baiknya, tetapi biarkan Siao chun tetap menyiapkan makan malam.”

“Kakak juga ingin terus mengantar koran.”

“Terima kasih, ibu sungguh berterima kasih.”

“Kami punya sebuah rahasia dan belum memberi tahu ibu, ” kata sang kakak. “Pada hari minggu di bulan November, sekolah Siao Chun menghubungi wali murid untuk hadir melihat program bimbingan belajar dari sekolah. Guru Siao Chun secara khusus menambahkan sepucuk surat, yang mengatakan karangan Siao Chun telah dipilih sebagai wakil seluruh Pei Hai Tao (Hokkaido) untuk mengikuti lomba mengarang seluruh negeri. Hari itu aku mewakili ibu untuk menghadirinya.”

“Benarkah? Lalu?” tanya sang ibu.

“Tema yang diberikan guru adalah ‘Cita-citaku (Wo Te Ce Yuen)’. Dengan karangan bertema semangkuk mi kuah, Siao Chun diminta membacanya di hadapan para hadirin.

“Isi karangan itu menceritakan bahwa ayah mengalami kecelakaan lalu lintas dan meninggalkan utang yang banyak. Untuk membayar utang, ibu harus bekerja keras dari pagi hingga malam. Aku yang harus mengantar koran juga ditulis oleh Siao Chun.

“Lalu, pada 31 Desember, kita bertiga bersama-sama makan semangkuk mi kuah yang rasanya sangat lezat. Tiga orang hanya memesan semangkuk mi kuah. Sang pemilik toko, yaitu paman dan istrinya, malah mengucapkan terima kasih dan selamat tahun baru kepada kami ! Suara itu seperti sedang memberikan dorongan semangat untuk kami agar tegar menjalani hidup, untuk secepatnya melunasi hutang ayah.

“Oleh karena itu, Siao Chun memutuskan untuk membuka toko mi setelah dewasa nanti. Ia ingin menjadi pemilik toko mi nomor satu di Jepang, juga ingin memberikan dorongan semangat kepada setiap pengunjung. “Semoga kalian berbahagia ! Terima kasih !”

Pasangan suami istri yang sebelumnya berdiri di balik pintu dapur dan mendengarkan pembicaraan mereka kini tampak berjongkok dengan selembar handuk di tangan mereka–berusaha keras menghapus air mata yang tak henti mengalir.

“Selesai membaca karangan itu, Guru berkata, “kakak Siao Chun telah mewakili ibunya datang ke sini. Silahkan naik ke panggung untuk menyampaikan beberapa patah kata.”

“Sungguhkah? lalu kamu bagaimana ?” tanya sang ibu

“Karena sangat mendadak, awalnya aku tidak tahu harus mengucapkan apa. Aku lantas mengucapkan terima kasih kepada semua orang atas perhatian dan kasih sayang terhadap Siao Chun, yang setiap hari harus membeli sayur dan menyiapkan makan malam. Dia juga sering kali harus terburu-buru pulang dari kegiatan berkelompok, yang tentu mendatangkan banyak kesulitan bagi semua orang. Dan saat dia membacakan karangan semangkuk mi kuah, aku sempat merasa malu. Tetapi melihat Siao Chun dengan dada tegap dan suara yang lantang menyelesaikan membaca karangan itu, rasa malu itulah yang malah jadi memalukan.

“Beberapa tahun ini, keberanian ibu yang hanya memesan semangkuk mi kuah, tidak akan pernah kami lupakan. Kami berdua pasti akan giat dan rajin, merawat ibu dengan baik. Dan selanjutnya, aku meminta kepada para hadirin untuk tetap memperhatikan Siao Chun, hari itu dan seterusnya.”

Ketiga orang itu kemudian saling menggenggam tangan dengan erat, saling menepuk bahu, menikmati mi tahun baru dengan perasaan yang lebih bahagia dibandingkan tahun sebelumnya. Setelah selesai, sang ibu membayar 300 yen dan mengucapkan terima kasih. Ia kemudian memberi hormat kepada pemilik toko dan meninggalkan toko mi bersama kedua anaknya.

Sang pemilik toko, seakan-akan sedang menutup tahun yang lama, dengan suara yang keras mengucapkan, “Terima kasih ! Selamat Tahun Baru !”

Setahun pun berlalu. Pemilik toko mi Pei Hai Thing kembali meletakkan tanda “telah dipesan” di meja nomor dua dan menunggu. Namun, ibu dan kedua anak itu tidak muncul. Tahun kedua, tahun ketiga, meja nomor dua tetap kosong–ketiga orang itu tetap tidak muncul.

Seiring berjalannya waktu, usaha Pei Hai Thing semakin berkembang. Toko itu pun telah direnovasi. Meja dan kursinya telah diganti dengan yang baru. Namun, meja nomor dua itu masih tetap seperti semula.

Banyak tamu yang datang ke toko mi itu merasa heran. Sang istri pemilik toko kemudian menceritakan kisah semangkuk mi kuah itu kepada para pengunjung. Selanjutnya, meja nomor dua itu, menjadi  “meja keberuntungan”. Setiap pengunjung kemudian menyampaikan kisah ini kepada orang lain. Banyak pelajar yang merasa ingin tahu dan datang dari jauh demi melihat meja tersebut dan menikmati mi kuah. Semua orang umumnya ingin duduk di meja tersebut.

Dan beberapa tahun ini, setelah melewati malam Chu Si, para pemilik toko di sekitar Pei Hai Thing akan mengajak keluarganya menikmati mi di Pei Hai Thing setelah menutup toko pada malam Chu Si. Sebanyak 30 hingga 40 orang sering berkumpul hingga toko itu menjadi sangat ramai. Itu biasa terjadi dalam 5-6 tahun terakhir ini. Semua orang telah mengetahui kisah meja nomor dua itu. Meski mulut tidak berbicara, tetapi dalam hati mereka berpikir, “meja yang telah dipesan pada malam Chu Si, tahun ini mungkin sekali lagi akan menjadi meja dan kursi kosong menyambut datangnya tahun baru.”

Hari itu, semua orang kembali berkumpul pada malam Chu Si. Ada orang yang makan mi, ada yang minum arak. Semuanya berkumpul seperti sebuah keluarga. Setelah lewat pukul 22.00, pintu tiba-tiba kembali terbuka. Semua orang yang berdiri di dalam segera menghentikan pembicaraan. Seluruh pandangan mata tertuju ke arah pintu yang terbuka itu.

Dua orang remaja yang berstelan jas yang rapi dengan baju luar di tangan, melangkah masuk. Saat sang istri pemilik toko hendak mengatakan bahw meja telah penuh, seorang wanita berkimono berjalan masuk, berdiri di antara kedua remaja tersebut. Semua orang yang berada di dalam toko menahan nafas mendengar wnita berkimono tersebut perlahan mengatakan, “tolong … tolong … mi kuah … untuk tiga orang, bolehkah ?”

Belasan tahun telah berlalu, sang istri pemilik toko seketika mengingat kembali gambaran ibu muda dengan dua orang anaknya itu. Sang suami di balik pintu dapur pun termenung. Salah seorang anak di antara ibu dan anak tersebut menatap sang istri yang tengah salah tingkah dan mengatakan, “kami bertiga, 14 tahun yang lalu pernah memesan semangkuk mi kuah di malam Chu Si, dan kami mendapatkan dorongan semangat dari emangkuk mi tersebut. Hingga kami bertigapun dapat menjalani hidup dengan tegar.

“Lalu kami pindah ke kabupaten (Ce He) untuk tinggal di rumah nenek. Saya telah melewati ujian jurusan kedokteran dan praktek di Rumah Sakit Universitas Kyoto bagian penyakit anak. Bulan April tahun depan, saya akan praktek di Rumah Sakit Kota Sapporo.

“Sesuai dengan tatakrama, kami datang mengunjungi rumah sakit itu terlebih dahulu, sekalian sembahyang di makam ayah. Setelah berbicara dengan adik saya, yang pernah bepikir untuk menjadi pemilik toko mi nomor satu tetapi belum tercapai, dan sekarang bekerja di bank Kyoto, punya rencana istimewa, yaitu pada malam Chu Si tahun ini kami bertiga akan mengunjungi Pei Hai Thing di Sapporo, memesan tiga mangkuk mi kuah Pei Hai Thing. ”

Sang istri pemilik toko yang telah berhasil mengingat kembali kisah belasan tahun lalu itu, memepuk bahu sang suami sambil berkata, “Selamat datang! Silahkan … Ei! Meja nomor dua, tiga mangkuk mi kuah !”

***. sangatsesuatu .***

coz u are not alone ^^d

Another day has gone
I’m still all alone
How could this be
You’re not here with me
You never said goodbye
Someone tell me why
Did you have to go
And leave my world so cold

Everyday I sit and ask myself
How did love slip away
Something whispers in my ear and says
That you are not alone
For I am here with you
Though you’re far away
I am here to stay

You are not alone
I am here with you
Though we’re far apart
You’re always in my heart
You are not alone

All alone
Why, oh

Just the other night
I thought I heard you cry
Asking me to come
And hold you in my arms
I can hear your prayers
Your burdens I will bear
But first I need your hand
So forever can begin

Everyday I sit and ask myself
How did love slip away
Then something whispers in my ear and says
That you are not alone
For I am here with you
Though you’re far away
I am here to stay
For you are not alone
I am here with you
Though we’re far apart
You’re always in my heart
And you are not alone

Whisper three words and I’ll come runnin’
And girl you know that I’ll be there
I’ll be there

You are not alone
I am here with you
Though you’re far away
I am here to stay
You are not alone
I am here with you
Though we’re far apart
You’re always in my heart

You are not alone
For I am here with you
Though you’re far away
I am here to stay
For you are not alone
For I am here with you
Though we’re far apart
You’re always in my heart

For you are not alone

Michael JacksonYou Are Not Alone Lyrics

Saat kamu mengulurkan pertolongan, tanpa sadar kamu  menjalin hatimu dan hati orang lain dengan dawai emas yang tak tampak. Dawai itu bernama persaudaraan. Semakin banyak kamu menjalin dawai semakin jauh hati kamu dari kesepian. Karena dawai-dawai itu akan mendentingkan nada-nada yang memenuhi dan menghibur jiwa.

When you reached out for help, without knowing you establish your hearts and hearts of others with invisible strings of gold. The string is called brotherhood. More and more you establish your heart strings further away from loneliness. Because the strings would be clinking tones that meet and entertain the soul.

dalam balutan hujan

Menari dalam hujan.

Kuyup ??? Taklah kali ini aku berpayung hitam andalanku.

Dengan sentuhan-sentuhan ajaib titik-titik hujan, dan

tadaaaaa abra ka dabra terbentuklah sketsa dedaunan

Ohhohohoooo … tampaknya tirai-tirai hujan makin deras membalutku

dan ohohohhhooo … dedaunan semakin nyata dan … sempurna

yeaaaaaaahhh saatnya berpesta, menderas bersama hujan.

Oh, sekelebat aku membayang dalam balutan hujan.

Hujan sore, Allaahumma shoyyiban naafi’an.

Hmmm, sepertinya ada yang butuh tumpangan teduh dari si hitam, yuuuk merapat. Hohohohohhooo si hitam muat buat berdua rupanya. Basah tak mengapa toh yang terpenting my note-little white-book dan kawan-kawannya yang tersembunyi di balik ransel tetap hangat dalam dekapan.

pic. 1 . from : http://www.irmasenja.com/2010/02/dibawah-rinai-hujan.html

pic. 2 from : http://edelweiss321.blogspot.com/2012/04/kiss-rain.html

Gadis Tak Berlengan

Dahulu kala di sebuah negeri yang bernama Mino hiduplah sebuah keluarga kaya raya. Nama keluarga itu adalah “Sansensa”. Keluarga ini memiliki seorang anak laki-laki yang sudah menginjak usia dewasa dan sudah pantas untuk berumah tangga. Akhirnya Si anak lelaki memutuskan untuk berkelana ke seluruh negeri untuk mencari calon isteri. Dengan ditemani seorang pengawal yang bertugas membawa barang-barang keperluannya, mereka menyamar sebagai pedagang kain keliling. Tujuan utama mereka adalah ke arah barat.

Dalam perjalanan mereka mendengar bahwa di Osaka ada dua orang gadis bersaudara yang cantik rupawan.  Namun, di antara ke dua gadis itu, sang kakak lah yang paling cantik. Bergegaslah lelaki tersebut ditemani sang pengawal ke Osaka dan tinggal di sana untuk beberapa lama. Keduanya menyelidiki gadis bersaudara yang terkenal cantik itu. Setelah melihat sendiri, Si pemuda itu tertarik pada sang kakak yang memang terlihat lebih cantik. Penapilannya halus dan lembut.

Merasa telah menemukan calon istri yang tepat, pulanglah pemuda itu. Ia meminta ayahnya melayangkan surat pinangan kepada orang tua gadis itu. Beberapa hari kemudian, keluarga si gadis di Osaka menerima surat pinangan tersebut.

Ternyata kabar itu tidak membuat ibu si putri sulung senang. Ternyata si putri sulung bukanlah anak kandungnya. Gadis itu adalah putri adik kandungnya. Sang ibu lebih senang jika si bungsu yang dilamar. Untuk menggaagalkan rencana perkawinan itu, sang ibu menyuruh si putri sulung pergi ke sebuah pesta bersama teman-temannya. Sang ibu juga meminta si putri menari bersama teman-temannya sebagai ungkapan perpisahan sebelum bepergian jauh.

Rencana sang ibu pun berlanjut. Ia berkata kepada suaminya bahwa putri sulung mereka menari telanjang. Mendengar hal ini sang Ayah pun marah. Karena terpancing oleh pengaduan istrinya, sang ayah menebas kedua tangan putri sulungnya. Sang putri kemudian dibuang ke jurang. Karena kedua tangannya terpotong oleh ayahnya sendiri, sang putri sulung jatuh pingsan. Sang ayah menyangka putri sulungnya telah meninggal. Ia pun pulang ke rumah.

Sang istri membalas surat keluarga Sansensa di Mino dan mengabarkan bahwa putri sulungnya telah meninggal karena sakit. Ia menawarkan pengganti putrinya, yaitu si putri bungsu. Lelaki dari Mino ini menolak tawaran keluarga itu dan mengatakan bahwa ia hanya mencintai putri sulung.

Sementara itu, putri sulung yang jatuh pingsan dengan kedua tangan terpotong memang masih hidup. Dengan langkah tertatih, putri sulung berjalan ke arah timur selama berminggu-minggu. Sampai suatu hari, tibalah ia di depan rumah  keluarga Sansensa. Ia melihat rumah itu begitu indah. Lama ia memandangi rumah itu hingga perutnya terasa lapar. Dengan menggunakan mulutnya ia menggapai buah yang ada di depannya. Saat itu datanglah putra pemilik rumah tersebut.

Lelaki muda itu terperanjat. ” Bukankah kau putri sulung dari Osaka ? ” tanyanya terkejut.

” Maafkan saya, Tuan, ” kata sang putri sambil bersimpuh di tanah.

Sang putri kemudian menceritakan kejadian yang dialaminya. Di luar dugaan, ternyata lelaki itu tetap meminta ayahnya agar menikahkannya dengan putri sulung, walaupun kini tanpa lengan. Akhirnya menikahlah keduanya atas restu keluarga Sansensa.

Setelah menikah, suami putri sulung kembali melakukan perjalanan dagang ke Osaka. Ia meninggalkan istrinya yang telah hamil. Suatu hari utusan keluarga ke Osaka membawa surat dari keluarga Mino yang mengabarkan bahwa sang bayi telah lahir. Saat itu sang suami tengah mabuk berat. Datanglah keluarga ibu tirinya. Ibu tirinya mengambil surat itu dan mengubah isi suratnya. Dia menulis, ” buah hatimu telah lahir, wajahnya buruk sekali seperti monster. Tolong berikan nama kepadanya. ”

Keesokan harinya lelaki itu sadar dari mabuknya. Ternyata ia adalah seorang ayah yang baik. Ia membalas surat itu, “meskipun ia berwajah buruk seperti monster, ia tetap buah hatiku yang kucintai “. Surat itu diberikan kepada si utusan untuk segera dikirim kepada keluarganya di Mino.

Sayangnya, dalam perjalanan utusan itu mampir ke kedai minuman milik si ibu tiri. Di kedai itu, utusannya pun mabuk berat. Dan lagi-lagi isi surat itu diubah oleh ibu tiri si putri sulung. Isi surat berubah menjadi, ” karena ia sangat buruk seperti monster, usir ia dan ibunya dari rumah “.

Ayah dan ibu si lelaki itu sangat heran dengan apa yang dipikirkan oleh anak lelakinya itu. Orang tuanya tidak tega mengusir menantu dan cucunya yang baru lahir itu. Dengan memberikan bekal uang yang cukup, akhirnya dengan berat hati ayahnya meminta agar menantu dan cucunya pergi meninggalkan rumah.

Dengan hati sedih, sang putri sulung dan si bayi pergi meninggalkan rumah itu. Karena tak punya tujuan, tibalah ia di dekat sungai. Karena kehausan ia berniat meminum air sungai itu. Tetapi saat ia hendak minum, bayi dalam gendongannya terjatuh ke sungai. Secara refleks lengannya yang telah putus itu mengarah ke bayinya yang nyaris terseret arus sungai. Sebuah keajaiban terjadi. Lengannya yang putus kembali utuh sehingga ia dapat mengambil bayinya yang tercebur ke sungai.

Setelah ia berhasil menyelamatkan bayinya, ia segera mengelap tubuh bayinya dengan kain. Tanpa sengaja ia melihat sebuah patung kayu Kozu Sama yang tidak memiliki lengan sama sekali. Barulah si putri sulung tersadar bahwa patung Kozu Sama itulah yang telah memberikan ke dua lengannya kepadanya.  Sang putri pun lalu bersimpuh untuk mengucapkan terima kasih dan akhirnya ia dan bayinya tinggal tak jauh dari sungai itu. Sang putri merawat bayinya dan patung Kozu sama itu.

Beberapa bulan kemudian, putra keluarga Mino kembali ke rumahnya. Ia sangat terkejut mengetahui isi suratnya telah diubah. Dengan segera ia mencari istri dan anaknya hingga tiba di sebuah sungai dengan kedai minuman di tepinya. Ketika ia hendak masuk ke dalam kedai, seorang anak kecil memanggilnya “otoo-chan”. Lelaki itu tersenyum. Ia merasa sedih membayangkan  anak itu seusia dengan anaknya yang sedang ia cari.

Tak lama kemudian, dari dalam kedai muncullah si putri sulung. Ketika ia hendak menyediakan teh pada sang tamu, ia menyadari bahwa tamunya adalah suami yang sangat ia cintai. Lelaki itu pun sadar bahwa perempuan di depannya adalah istrinya. Akhirnya pertemuan itu membawa kebahagiaan yang tak terhingga bagi ketiganya. Mereka pun tinggal di tepi sungai itu selamanya.

Nilai moral yang dapat diambil dari Cerita ini adalah bahwa keteguhan hati dan ketabahan akan mendatangkan kebahagiaan di kemudian hari.

Satu dari sekumpulan cerita rakyat dari negeri Sakura, ku ambil dari buku berjudul Jatuh 2x… berdiri 3x… karya Li Shi Guang.

Semoga bermanfaat