Pancasila dan Perubahan

The Coat of Arms of Indonesia is called Garuda...

The Coat of Arms of Indonesia is called Garuda Pancasila. The main part of the coat of arms is the golden mythical bird Garuda with a shield on its chest and a scroll gripped by its leg bears the national motto: “Bhinneka Tunggal Ika”, roughly means “Unity in Diversity”. The shield’s five emblems represent Pancasila, the five principles of Indonesia’s national philosophy. Garuda Pancasila was designed by Sultan Hamid II of Pontianak, and was adopted as national coat of arms on February 1, 1950. (Photo credit: Wikipedia)

Pancasila

  1. Ketuhanan Yang Maha Esa

  2. Kemanusiaan yang adil dan beradab

  3. Persatuan Indonesia

  4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat dalam permusyawaratan perwakilan

  5. Keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia

Teringat kembali masa-masa sekolah … “zaman oma muda dulu hhehhee”, tapi enelan sih, ciyus !!! Rutinitas wajib di senin pagi, yah apalagi kalau bukan upacara bendera. Memang kadang terasa sangat membosankan jika hanya berdiri berpanas-panas mengikuti dan menjadi pendengar setia saat upacara. Namun, akan menjadi lain cerita manakala diri kita adalah salah satu dari petugas upacara di hari itu. Setiap siswa akan tiba pada gilirannya, mulai dari pasukan pembawa bendera, pembaca UUD 1945, pembaca Pancasila, pembaca Doa, … Semua punya kesan, semua punya cerita.  Saat membawa bendera, ada perasaan bangga dan was-was. Bangga karena bisa membawa bendera Merah-Putih, meski hanya di lapangan sekolah dan bukannya di Lapangan yang lebih besar seperti anggota paskib di upacara tujuhbelasan. Dan was-was, kalau-kalau kami melakukan kesalahan saat menarik bendera hingga tak berkibar mulus, dan ciyus !!! meski kemudian cerita tentang kesalahan itu hanya beredar di lingkungan sekolah, namun sungguh sangat malu rasanya. Saat membacakan Pancasila, dan serentak seluruh peserta upacara pun mengikuti, hmmm …

Berbicara tentang Pancasila, semua warga Negara Indonesia apalagi yang pernah mengikuti upacara bendera, pernah mengenal Ilmu PKN dan melafadzkan sendiri Pancasila dengan lisannya mestinya tahulah itu Dasar Negara Indonesia. Yang tak sekolah saja tahu. Di pelajaran sekolah juga selalu dikatakan bahwa Pancasila itu bukan Cuma dasar Negara saja, tapi lebih dari itu adalah ciri dan Nilai kita sebagai Bangsa Indonesia. Yah, kalau katanya Syahrini [sesuatu], … [sesuatu]nya Indonesia yang mestinya kita bangga dengan itu. Namun, memang sangat disayangkan, akibat arus globalisasi dan perkembangan zaman, tak dapat dipungkiri pergeseran Nilai pun ternyata tak dapat dihindari juga. Pancasila yang mengusung Nilai dan Moral Budaya Timur, dari hari ke hari menjadi semakin asing dan abstrak. Kemerosotan akhlak dan moral sungguh sangat memprihatinkan. Budaya malu berbuat salah, dari hari ke hari makin terkikis dan berubah menjadi sebuah kebanggaan. Kalau dahulu bangsa ini tersenyum membawa nilai-nilai Pancasila kita kemana-mana, sekarang bukan rahasia lagi bahwa korupsi sudah menjadi sebuah budaya di negeri ini. Sungguh sebuah perubahan besar yang nyata namun menyedihkan.

Perubahan. Mengutip kata sebuah iklan di TV “tak ada yang abadi selain perubahan itu sendiri”, perubahan memang tak dapat dihindarkan, namun haruskah perubahan itu membawa kegalauan bagi banyak orang ? Saatnya kita berbenah.

“Kalau bukan kita siapa lagi, kalau bukan sekarang kapan lagi”, mulai dari sekarang mari semua berbenah. Tak peduli, tua-muda, pejabat atau orang biasa, nilai kita sama, sama-sama Warga Negara Indonesia. Meski memang terlalu banyak yang mesti dibenahi, namun jika kita tak memulai dari satu langkah dan gebrakan kecil dari sekarang, tak akan ada langkah besar yang akan kemudian tercipta, dan akibatnya keprihatinan akan semakin memprihatinkan.

Kulihat ibu pertiwi

Sedang bersusah hati

Air matamu berlinang

Mas intanmu terkenang

Hutan gunung sawah lautan

Simpanan kekayaan

Kini ibu sedang susah

Merintih dan berdoa

Bencana alam yang marak terjadi menjadi bukti nyata betapa Ibu Pertiwi benar-benar bersusah hati. Kerusakan alam karena ulah anak-anak bangsalah penyebab utamanya. Dan lihatlah yang tersisa kini.  Kalau dahulu kail dan jala cukup menghidupimu, seperti kata Om-om Koes Plus, namun kini apalah arti sebuah kail dan jala. Toh bapak-bapak nelayan tak sanggup menyekolahkan anak. Sementara anak-anak nelayan bersama para ibu pun harus bekerja demi membantu Si Bapak memenuhi kebutuhan hidup.

Alangkah lucunya negeri ini. Negeri maritim yang kaya akan hasil laut namun berbanding terbalik dengan nasib para nelayan.

Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Inilah cita-cita dan tujuan yang ingin dicapai oleh sebuah bangsa yang berlandaskan Pancasila, yang tidak hanya sebagai dasar dan simbol pun sekedar kata-kata yang diucapkan di bangku sekolah semata. Namun perwujudannya harus teraplikasi nyata di kehidupan sehari-hari.

sekeping cerita dari Barombong

sekeping cerita dari Barombong

Terlalu banyak yang harus dibenahi, namun sekali lagi pembenahan itu harus benar-benar terjadi. Kita sudah jauh berlayar. Ibarat sebuah kapal, kita sudah berada di tengah lautan. Angin dan ombak perubahan hebat menghantam, sementara daratan yang makmur belum tampak. Jangan sampai angin dan ombak menghempas dan menenggelamkan kita. Jika diam, kita akan tenggelam. Jadi tak ada kata lain selain berbenah dan terus berlayar. Meski demikian angin perubahan tak boleh dianggap musuh, karena bagaimanapun perubahan tak dapat dipungkiri. Namun, marilah kita menjadikan perubahan sebagai teman, sebagaimana para pendahulu kita, para pelaut tangguh yang bersahabat dengan ombak.

 

nenek moyangku orang pelaut
gemar mengarung luas samudra
menerjang ombak tiada takut
menempuh badai sudah biasa

angin bertiup layar terkembang
ombak berdebur di tepi pantai
pemuda b’rani bangkit sekarang
ke laut kita beramai-ramai

Dengan menjadikan perubahan sebagai teman seperjalanan semoga jalan menuju terciptanya cita-cita luhur bangsa, yaitu masyarakat yang adil dan makmur yang berlandaskan Pancasila bisa segera terlaksana.

300x300xlomba_blog_pusakaid.jpg.pagespeed.ic.RIylEVJS5m

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s