memotong waktu

Dari masjid sayup terdengar lantunan ayat suci. seperti biasa, pertanda  Zhuhur akan menjelang. “Jam berapami inikah !!! ” seru AResky Amalia Putri , sahabat, saudara, teman kerja wanitaku satu-satunya. Secara kami memang cuma berdua wanita di tempat kerja 🙂

Cukup tersentak juga dengan seruannya. Tak terasa setengah hari hampir berlalu. Teringat kembali sebaris kalimat bijak dari negeri arab :

Waktu itu seperti pedang, jika kamu tak memotongnya dia yang akan memotongmu.

jam pasir

pic. fom web

Demikianlah waktu sangat [sesuatu]. Mau kita sibuk dengan seabrek, setumpuk, segudang aktivitas atau pun sebaliknya hanya berdiam diri alias nganggur tak melakukan apa-apa toh dia akan tetap melenggang dan akhirnya berlalu. Dan yang tlah berlalu tak akan pernah kembali, demikianlah prinsip sang waktu. Waktu tak mengenal alur maju-mundur seperti dalam settingan pelem-pelem ataupun sinetron. Waktu selalu istiqomah pada prinsipnya, lurus ke depan. So, semua berpulang pada kita, akan memanfaatkan setiap penggalan waktu sebaik-baiknya atau termanfaatkan.

This is the inside view from the museum.

This is the inside view from the museum. (Photo credit: Wikipedia)

Oh, Adzan Zhuhur sudah berkumandang, yok kita bersegera … 🙂