“instan” pun butuh proses

Bismillahirrahmanirrahim,

Berijab dulu, bahwa saya menyimpan News Letter ini karena saya sangat menghargai sebuah proses, dan menggaris bawahi_padahal, untuk jadi “istan” pun sebenarnya butuh proses_.

Kita lahir, hidup, dewasa, hingga mati adalah proses alami kehidupan yang tak ada satu pun makhluk yang tak mengalami. Dalam proses itulah, kita menjadi apa adanya hari ini. Sayang,  banyak orang yang kadang malah kurang menikmati atau kurang sabar akan adanya proses. Bisa jadi, semua itu dipengaruhi oleh lingkungan yang makin hari makin serbainstan—padahal, untuk jadi “instan” pun sebenarnya semua butuh proses.

Saya teringat sebuah kisah tentang proses yang luar biasa. Begini ceritanya:

Ada seorang pria bernama Takezo. Ia adalah seorang pria yang putus asa dan mau meninggalkan semuanya, baik pekerjaan, hubungan sosial, dan bahkan hendak bunuh diri karena merasa sudah tak punya arti dalam kehidupannya. Sebelum melakukan itu semua, ia menyempatkan pergi ke hutan untuk berbicara yang terakhir kalinya dengan seorang bijak bernama Takuan. Ia bertanya, “Apakah Takuan bisa memberi aku satu alasan yang baik untuk jangan berhenti hidup dan menyerah?”

Mendengar pertanyaan itu, Takuan dengan kebijakannya menjawab, “Coba lihat sekitarmu Takezo. Apakah kau melihat pohon pakis dan bambu itu?”
“Ya aku lihat itu,” jawab Takezo.
“Ketika menanam benih pakis dan benih bambu, alam merawat keduanya secara sangat baik. Alam memberi keduanya cahaya, dan memberi air. Pakis tumbuh sangat cepat di bumi, daunnya yang hijau segar menutupi permukaan tanah hutan. Tapi ketahuilah, sementara pakis tumbuh sangat subur, benih bambu tidak menghasilkan apa pun. Tapi, bambu berkata, ‘Aku tidak menyerah’,” sebut Takuan menyampaikan filosofinya.

“Pada tahun kedua, pakis tumbuh makin subur dan banyak, tapi belum ada juga yang muncul dari benih bambu. Tapi kembali bambu berkata, ‘Aku tidak menyerah’. Di tahun ketiga, bambu belum juga memunculkan sesuatu. Lagi-lagi bambu berkata, ‘Aku tidak menyerah’. Seterusnya di tahun keempat, masih juga belum ada apa pun dari benih bambu. Ia tetap berkata, ‘Aku tidak menyerah’. Kemudian, pada tahun kelima, muncul tunas kecil. Jika dibandingkan dengan pakis, tunas itu tampak kecil dan tidak bermakna,” jelas Takuan pada Takezo. “Tapi, lihatlah enam bulan kemudian. Bambu tumbuh menjulang sampai 100 kaki!”

“Begitulah, untuk menumbuhkan akar bambu perlu waktu lima tahun. Akar tersebut membuat bambu kuat dan memberi apa yang diperlukan bambu agar mampu bertahan hidup,” terang Takuan. “Ingat, Sang Pencipta tak akan memberi cobaan yang tak sanggup diatasi ciptaan-Nya.”

Takezo pun termenung mendengar semua ucapan Takuan yang kemudian melanjutkan nasihatnya, “Tahukah kau, Takezo… Di saat menghadapi semua kesulitan dan perjuangan berat ini, kau sebenarnya sedang menumbuhkan akar-akar yang kuat? Sebagaimana alam tidak meninggalkan bambu, Sang Pencipta juga tidak meninggalkan kamu. Jangan membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Bambu mempunyai tujuan yang beda dengan pakis. Tapi keduanya tetap punya manfaat membuat hutan menjadi indah.”

“Nah Takezo, waktu kamu akan datang. Kamu akan menanjak dan menjulang tinggi. Asal tetap mengandalkan Sang Pencipta dalam setiap rencana dan jalan hidupmu.”

Netter yang Luar Biasa,

Cerita tersebut merupakan sepenggal percakapan Takezo sebelum menjadi Miyamoto Musashi, pendekar Samurai yang sangat terkenal, yang saya ceritakan ulang dalam tulisan ini. Kisah tersebut menggambarkan terjadinya proses yang alami, lambat, namun justru di sanalah mengakar kekuatan yang sebenarnya dari batang-batang bambu.

Itulah penggambaran adanya proses kehidupan yang masing-masing makhluk punya jalan dan kisahnya sendiri-sendiri. Maka, ketika rasa pahit dan getir yang kita terima saat ini, jangan pernah putus asa. Sebab, saat itulah kita sedang berproses untuk mengakar kuat dan saatnya nanti menjelma menjadi “batang bambu” yang menjulang ke angkasa. Dan, dengan akar yang kuat itulah kita akan jauh lebih tegar dan kuat saat kembali dihempas angin.

Mari, kita lihat kembali berbagai proses yang kita alami dalam kehidupan. Nikmati, resapi, hayati, nilai-nilai apa yang bisa menjadi pegangan bagi kita untuk berbuat lebih baik dan lebih baik lagi. Jika itu terus kita lakukan, niscaya hasil apa pun yang kita terima, sebenarnya kita telah jadi pemenang sejati kehidupan.

Sumber : Aku Tidak Menyerah – Andrie Wongso

Iklan

2 thoughts on ““instan” pun butuh proses

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s