The Masterpiece

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Mahakarya bocah-bocah lincah, hanya bisa tersenyum melihatnya … Terus berkarya ya … lanjutkan kreativitas kalian. Apapun yang terlintas di benak kalian, wujudkan ia tak mengapa handphone dipenuhi lukisan abstrak, dinding rumah seperti tembok lorong asal bakat kalian terus terasah 😙😙😙

 

Allah Maha Baik

Memampukanku sebelum mengujiku, Allah Maha Baik.

Aku terjatuh dengan kepala bocor dan lengan kiri yang nyaris lepas, akibatnya penelitian tertunda yang akhirnya harus ku batalkan karena kondisi kesehatan pasca kecelakaan. Alhamdulillah saat itu kuliah sudah habis, jadi tak masalah meski berbulan-bulan tak menampakkan wajah di kampus. Allah memampukanku sebelum mengujiku, Allah sangat Baik.

Penelitian yang gagal membuatku harus berjuang dari nol kembali. Di satu hari, aku memberanikan diri menghadap ke dosen pembimbing dan meminta maaf karena tak mampu melanjutkan penelitian. Sebenarnya, sebelum menghadap ke dosen pembimbing aku telah mengupayakan hal-hal yang aku sanggupi saat itu, ke sana ke sini membawa lengan kiri yang nyeri dan terbalut perban. Dari semua orang yang berinteraksi denganku saat itu aku harap tak ada seorangpun yang tahu kondisiku, Alhamdulillah pakaian dan jilbabku menutupi semua kekuranganku.  Di perjalanan pulang aku berusaha menahan  berat dan panas, air mata memenuhi kelopak mataku, namun saat berada  di dalam pete-pete (baca:angkot), akhirnya tumpah juga. Bersyukur saat itu aku penumpang pertama untuk beberapa saat lamanya, cukup untukku menghibur dan membesarkan hatiku. Alhamdulillah, Allah begitu baik.

Enam bulan kemudian, aku kembali memberanikan diri menghadap ke seorang dosen untuk membimbing aku dalam penelitian baruku. Alhamdulillah beliau sangat welcome, dan mulailah aku berjuang dengan penelitian ke dua. Ada hikmah di balik semua musibah, penelitian ke dua membawa berkah besar buatku.  Sujud syukurku, Alhamdulillah.

Seiring berjalannya waktu, semakin jauh berjalan semakin aku merasakan nikmat dan kasih Allah yang tak berhingga padaku. Saat aku lemah tak berdaya, aku berdoa semoga Allah memampukan aku agar mampu sholat berdiri, namun lagi-lagi Allah memampukan banyak hal untukku. Alhamdulillah Allah Maha Baik.

20150124_165016.jpg

 

 

Burasa

Kata Wikipedia :

Burasa adalah salah satu panganan khas masyarakat Bugis dan makassar di Sulawesi Selatan. Panganan ini dikenal juga dengan nama lapat, lontong bersantan atau buras.[1] Bentuknya hampir mirip dengan lontong cuma agak pipih dan dimasak dengan cara tersendiri. Burasa merupakan makanan wajib bagi masyarakat Sulawesi Selatan di hari lebaran yang bisanya tersaji bersama coto makassar ataupun opor ayam.

Panganan ini terbuat dari beras yang dimasak tertebih dahulu dengan santan yang banyak hingga menjadi nasi lembek dan selanjutnya dibungkus dengan daun pisang. Biasanya dibuat menjadi dua bagian dalam satu ikatan (menggunakan tali rapia atau daun pisang) kemudian direbus hingga matang. Panganan ini juga biasanya ditemui di luar provinsi Sulawesi Selatan seperti Gorontalo atau Kalimantan dan beberapa daerah lain di Indonesia dan Malaysia. Mungkin dikarenakan banyaknya suku Makassar dan Bugis yang merantau dan menetap di daerah-daerah tersebut sehingga panganan ini ikut menjadi bagian dari tradisi hari lebaran di daerah-daerah tersebut.

Selain untuk hidangan di hari lebaran, burasa juga banyak dipilih sebagai makanan untuk bekal dalam perjalanan karena mampu bertahan hingga 2 x 24 jam. Burasa bisa dikonsumsi dengan sambal kacang, telur rebus atau sambal haban tetapi bagi masyarakat Bugis atau makassar lebih sering menjadikannya teman untuk makanan coto makassar, Sop Konro, pallubasa, nasu lekku’ (ayam masak lengkuas versi sulawesi selatan) atau makanan yang berkuah lainnya.

Bagi saya dan orang Sulawesi pada umumnya, burasa memang identik dengan hari lebaran. Idul Fitri, kemudian Idul Adha kemarin pun saya bersama orang-orang di rumah masih menyempatkan waktu membuat panganan ini. Beras dimasak dengan santan yang banyak, tak lupa pula bawang putih – bawang merah yang telah dihaluskan dengan garam secukupnya dan batang sereh yang telah dimemarkan, dimasak di kuali/wajan sambil terus diaduk hingga santan terserap merata (setengah matang).

Buras dibungkus dengan daun pisang yang dengan ukuran sesuai selera dan biasanya daun pisangnya telah dibuat layu agar saat membungkus daun pisang tidak sobek. Selanjutnya diikat menggunakan tali rafia. Cara mengikat burasa pun tidak asal mengikat, agar saat membuka nantinya hanya dengan sekali tarik, ikatan bisa langsung terbuka.

 

Dangke – keju putih dari Enrekang

Hari Minggu kemarin judulnya di rumah saja, nah kebetulan di lemari es masih tersimpan  “Dangke” ups !!! Dangke ???

DANGKE adalah makanan khas dari Kabupaten Enrekang. Terbuat dari susu kerbau/sapi dan getah daun pepaya, yang diolah secara tradisional. Dangke seperti keju dan tentu mengandung protein yang cukup tinggi, berwarna putih seperti tahu dan terasa lembut ketika mengkonsumsinya menjadi ciri khas tersendiri dari Dangke.‌

Cukup di seduh dengan air panas dan diberi sedikit garam, kita sudah bisa menyantapnya. Bisa juga diiris tipis, kemudian di panggang/digoreng. Tak pake lama tak pake ribet … Praktis kan !!!

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

 

 

Cukup di sini

20160616_072408

tentang kamu ‘tuk terakhir kali

yang menyisakan satu janji

kemarin, aku belum menagih

dan tak akan lagi

karena, ku tahu hari ini, pun setelah hari ini

janji itu tak akan kau tepati

kecewa, sakit, sedih sudah pasti

namun ku coba berbesar hati

dan kamu cukup sampai di sini

Duhai Sang Pemilik hati,

ku pasrahkan hati ini

agar tak lagi luka dan perih

Pada Mu ku berserah diri

 

 

percaya lagi

 

 

d kampoengAda rasa yang membuatku kembali percaya

Mengganti sepi yang perlahan sirna

Entah brapa lama, aku mengunci hati

Membaginya hanya untukku sendiri

Kehangatan yang kau bawa

 

Membuatku kembali mengeja pagi

Secercah cahaya mulai kembali

 

Meski tak mudah membuka hati yang tlah lama terkunci

Namun kau membuatku percaya lagi

Dan aku ingin membaginya denganmu

Hanya denganmu

Cahaya pagiku

secangkir senyum

Mengapa aku memilih tersenyum pagi ini ! … Hmmm, jadi begini ya, akhirnya aku memilih untuk tersenyum dan menjauhkan keluh kesah adalah karena setelah aku melihat ke kiri ke kanan, ke segala arah yang mampu terjangkau oleh pandanganku, semakin aku menemukan banyak kesyukuran dalam diriku.  Aku tersenyum meski di hatiku masih ada setumpuk masalah yang belum menemukan jalan keluar, namun aku mencoba menyemangati hati dan diriku dengan sepotong kalimat sakti … ” di mana ada masalah, di situ ada peluang …”. Ini bukan kalimat ciptaanku, aku menemukannya di sebuah acara di salah satu tv swasta di satu sore. Kalimatnya begitu hangat, sehangat secangkir teh di sore hari. Aku termotivasi dengan kalimat ini, kemudian menyimpannya di dalam hati dan pagi ini, aku menggunakannya untuk tersenyum pagi ini.

Aku rasa cukup, please ya jangan merusak senyumku pagi ini …

Cantik, itulah kamu

Kamu menutup telingamu rapat-rapat ketika orang lain menyuruhmu menjadi orang yang bukan dirimu.

Itulah Kamu, yang apa adanya.

Kamu terus berjalan maju, meski tak ada orang lain di sampingmu untuk memberi semangat.

Itulah kamu, yang tak pernah menyerah

Kamu menyanyangi dirimu dan peduli pada orang-orang di sekelilingmu

Itulah kamu, yang mengulurkan tangan dengan suka rela

Kamu sangat menghargai pendapat orang lain, tak pernah merasa dirimulah yang paling benar.

Itulah kamu, seorang yang berhati hangat

Kamu selalu tersenyum menghadapi masalah, meski akhirnya kamu tak kuasa menahan tangis dan air mata, senyummu tak terhapus

Itulah kamu, yang selalu optimis

Kamu tak mengejar kesempuraan, karena kamu sadar kesempurnaan hanya pada-Nya

Itulah kamu, wanita yang bijaksana

Cantik dengan cara yang sederhana

Itulah Kamu, cantik luar biasa

Terima kasih

Alhamdulillah, segala puji pada Sang Pemberi waktu, untuk hari, bulan yang telah terlewati

Ada banyak cerita yang telah membersamai,

Bulan ke dua belas pun tak lama lagi akan berucap selamat tinggal

dan cerita-cerita itu pun akan menjelma menjadi keping-keping kenangan

manis atau pahitkah dia, jangan lupa  tersenyum

toh hidup tak akan indah tanpa warna

yang harus berlalu biarkan berlalu

dan dirimu, menjelmalah lebih baik

Terima kasih