Perjalanan : Al Haram from the top height

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Watching Al Haram from the heights at night. It’s an amazing sight. Alhamdulillah, i am one of these lucky people. A driver took us at one night to witness this amazing thing. How great the creation. Many thank for taking us on this experience.

Iklan

Perjalanan : Assalam ‘alaikum Tanah Haram (2)_ Ka’bah is calling

Labbaikallaahumma labbaik, labbaika laa syariika laka…

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Makkah Royal Clock Tower, kami lebih familiar dengan Zam-zam Tower tampak dari kejauhan, semakin lama semakin jelas kemegahannya, semakin mempertegas bahwa tempat yang kami tuju semakin dekat. Subhanallah, wal-hamdulillah wa laa ilaaha illallaah wallaahu akbar…

Labbaikallaahumma labbaik, labbaika laa syariika laka…

اَللهُمَّ هذَاحَرَمُكَ وَأَمْنُكَ فَحَرِّمْ لَحْمِىْ وَدَمِىْ وَشَعْرِىْ وَبَشَرِىْ عَلَى النَّارِ وَاَمِنِّىْ مِنْ عَذَابِكَ يَوْمَ تَبْعَثُ عِبَادَكَ وَاجْعَلْنِيْ مِنْ أَوْلِيَائِكَ وَأَهْلِ طَاعَتِكَ

Artinya :
Ya Allah, kota ini adalah Tanah Haram-Mu dan tempat yang aman-Mu, maka hindarkanlah daging, darang, rambut dan kulitku dari neraka. Dan selamatkanlah diriku dari siksa-Mu pada hari Engkau membangkitkan kembali hamba-Mu, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yanag selalu dekat dan taat kepada-Mu.

Alhamdulillah kota Makkah Al-Mukarramah, rasa syukur tak berhingga bisa menginjakkan kaki di kota suci ini. Pakaian ihram masih melekat, saatnya bergegas. Ka’bah is calling.

Ya Allah bukakanlah untukku pintu-pintu Rahmat-Mu.

Melangkahkan kaki pertama ke masjidil haram, kami menyatu dengan ribuan jama’ah. Masuk melalui pintu Ajyad,  kami melangkahkan kaki mengikuti ust. Pembimbing kami menuntun kami menuruni tangga ke lantai dasar, sehingga tampaklah bangunan yang menjadi kiblat, yang selama ini hanya terlihat di alam maya kini nyata di depan mata. Subhanallah.

اَللّٰهُمَّ زِدْ هٰذَا الْبَيْتَ تَشْرِيْفًا وَتَعْظِيْمًا وَتَكْرِيْمًا وَمَهَابَةً وَزِدْ مَنْ شَرَّفَّهُ وَكَرَّمَهُ مِمَّنْ حَجَّهُ أَوِاعْتَمَرَهُ تَشْرِيْفًا وَتَعْظِيْمًا وَتَكْرِيْمًا وَبِرًّا.

Ya Allah, tambahkan lah kemuliaan, kehormatan, keagungan dan kehebatan pada Baitullah ini dan tambahkanlah pula pada orang-orang yang memuliakan, menghormati dan mengagungkannya diantara mereka yang berhaji atau yang berumroh padanya dengan kemuliaan, kehormatan, kebesaran dan kebaikan.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Kami menunaikan sholat sunnah dan sholat isya, setelah mendapat tuntunan singkat, bismillah bergeraklah kami mendekat, semakin dekat dengan kiblat suci ummat Islam, bergabung dengan saudara seiman dari seluruh dunia, bertawaf. Bismillah Allaahu Akbar… putaran pertama dimulai…

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Lingkaran tawaf semakin lama semakin besar. Masyaallah, lingkaran tawaf ini yang akan terus dan terus berputar berlawanan arah jarum jam, akan ada jeda saat sholat tiba. Saat Sang Imam menggemakan takbiratul ihram, Allahu Akbar, seketika jama’ah yang sedang bertawaf pun patuh dan tunduk, membentuk shaf sholat, selanjutnya hanya suara Imam yang akan terdengar para ma’mun akan khusyu mengikuti di bawah komando Sang Imam termasuk mereka yang sedang bertawaf.  Dan Tawaf akan berlanjut lagi setelah Sang Imam selesai menjalankan tugasnya memimpin sholat . Demikian seterusnya, sungguh tak bisa dibahasakan lagi… Maha besar Allah atas perjalanan suci ini.

 

 

Perjalanan : Ayesha Mosque_Miqat for Makkah

Masjid ‘Aisyah, terletak di Tan’im, merupakan salah satu tempat #miqat, sekitar 7,5 km dari Masjidil Haram. Dinamakan Masjid ‘Aisyah karena pada saat #hajiwada’ tahun 9 #Hijriyah istri Rasulullah saw yaitu Aisyah binti Abu Bakar ra, tidak bisa melaksanakan umrah bersama-sama karena sedang uzur (haid), sehingga Rasulullah SAW memerintahkan Abdurrahman bin Abu Bakar (saudara laki-laki Aisyah) mengantarkan ke Tan’im untuk mengambil miqat di sana. Atas peristiwa tersebut, didirikanlah Masjid Tan’im yang dikenal juga dengan Masjid ‘Aisyah.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

.
.
.
Saya sendiri Alhamdulillah bisa mengunjungi Masjid ‘Aisyah karena menemani teman yang tak bisa ber-miqat bersama kami di Ji’ranah, karena uzur yang sama dengan uzur Aisyah ra waktu itu. Selepas melaksanakan rangkaian umroh, kami pun menuju Masjid Tan’im 👈 Ya Allah, bukakanlah bagi kami pintu-pintu Rahmat-Mu, Aamiin 😇
Ji’ranah sendiri adalah salah satu tempat miqat lainnya, adalah sebuah desa yang berjarak kurang-lebih 26 km dari Kota Makkah. Nama Ji’ranah adalah nama seorang wanita yang mengabdikan dirinya menjaga dan membersihkan sebuah Masjid di desa tersebut. Diriwayatkan dalam hadits Bukhari-Muslim disebutkan bahwa Rasulullah SAW sendiri memulai #ihram-nya di tempat tersebut.

Tomat Ketiga belas

Pada Suatu Sore, Pak Tani memanggiku, kemudian menunjukkan dua belas tomat yang ranum padaku. Aku diminta untuk memilih salah satu dari tomat-tomat yang menggiurkan itu. Aku suka sekali makan tomat. Jadi tentun saja tak keberatan untuk memenuhi permintaan Pak Tani. Namun, mengapa hanya satu buah tomat yang boleh aku ambil ? Hal itu menyebabkan aku harus berfikir lama untuk memutuskan tomat mana yang akan aku ambil.

Sekalipun aku sudah berusaha untuk menentukan pilihan, tetap saja tak bisa memilih. Akhirnya aku memutuskan untuk bernegosiasi dengan Pak Tani agar diperbolehkan untuk mengambil lebih dari satu buah tomat yang ditawarkannya.

Pak Tani tegas menjawab, “Tidak!”

“Ada dua buah tomat yang menarik hatiku”, kataku kemudian agak memaksa.

“Sekali tidak, ya tetap tidak”, tegasnya, “… engkau hanya boleh mengambil satu buah. Pilihlah satu buah”.

Aku tetap bersikeras dan memutuskan untuk tidak mengambil sebuah pun. Kemudian, Pak Tani mengeluarkan sebuah tomat lagi dari keranjang bambunya. Kemudian berkata, ” pilihlah sekali lagi dan ambillah salah satu dari tomat-tomat ini”. Mataku terbelalak. Tanganku segera mengambil tomat ketigabelas itu sebelum Pak Tani sempat meletakkannya di samping kedua belas tomat tadi.

“Mengapa engkau begitu bernafsu mengambil tomat itu ?” Pak Tani bertanya.

“Aku tak ingin kehilangan tomat terbaik ini!”, jawabku.

“Lantas mengapa engkau berfikir bahwa tomat yang ketiga belas itu benar-benar yang terbaik ?”

Aku mengatakan kepada Pak Tani bahwa tomat yang ketiga belas itu benar-benar berbeda dengan dua belas tomat lainnya. Kulitnya begitu mulus, halus, dan mengkilat. Bulatan buahnya penuh dan padat. Warnanya pun sangat indah seolah-olah bersinar. Aku langsung merasa yakin bahwa tomat itu rasanya amat lezat. Ketika aku menjelaskan hal itu pada Pak Tani, Ia mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju.

“Tomat yang kamu pilih itu, katanya kemudian, “… memiliki kualitas biji yang sangat baik sehingga kita bisa menjadikannya benih agar menghasilkan tomat-tomat lain yang berkualitas tinggi”.

‘Apa yang menjadikan tomat itu istimewa ?”tanyaku.

“Karakternya”, Pak Tani menjawab.

“Hmmm … karakter”. Aku berusaha mencerna jawaban itu … apakah tomat benar-benar memiliki karakter.

Kemudian, Pak Tani memulai kuliahnya tentang “karakter buah tomat”.

Seperti halnya tomat, tentu saja kita pun sebagai manusia memiliki karakter. Karakter yang baik harus dibentuk secara sadar. Kita bisa melakukan sesuatu untuk membentuk karakter kita menjadi yang terbaik. Dengan demikian, jika pada suatu waktu kita akan menhadapi seleksi, karakter istimewa kita itulah yang akan menjadi faktor pembeda yang paling menonjol.

Bahasa Indonesia: Buah Tomat

Bahasa Indonesia: Buah Tomat (Photo credit: Wikipedia)

Marilah kita melihat contoh konkretnya saja di dalam kehidupan nyata. Ketika ada jabatan yang kosong di tempat kerjamu, sudah tentu para pengambil keputusan di perusahaanmu akan mempertimbangkan untuk memilih salah satu dari orang-orang yang bekerja di sana untuk menduduki jabatan yang sedang kosong itu. Namun, boleh jadi kamu menemukan kenyataan bahwa bos kamu lebih memilih merekrut orang luar untuk mengisi jabatan kosong itu. Jika hal itu terjadi, kamu tidak perlu merasa marah atau kecewa. Sebaliknya, kamu harus berfikir bahwa ini adalah kesempatan yang tepat bagi kamu untuk menanamkan karakter istimewa dari tomat ketiga belas di dalam diri kamu, dan membiarkannya untuk tumbuh dan berkembang dengan baik. Dengan demikian, jika kesempatan seperti itu datang lagi, keindahan kemilau karakter kamu tidak akan tertutupi oleh indahnya karakter orang lain.

Seperti yang terjadi pada buah tomat ketiga belas tadi, orang-orang akan memilih kamu karena mereka bisa melihat dengan jelas keindahan karakter diri yang kamu miliki. Mereka bisa melihatnya melalui sikap dan perilaku sehari-hari kamu dari waktu ke waktu serta melalui pencapaian-pencapaian yang kamu raih. Di mata mereka, kamu sungguh-sungguh tampak bagaikan sebuah bintang yang bersinar terang sehingga mudah dilihat dan dijadikan sebagai orang yang pantas untuk dipilih.

Lalu, bagaimana jika di dalam diri kamu terdapat karakter yang buruk ? Apakah mungkin bagi kamu untuk membangun sebuah karakter yang baik ? Mengapa tidak ! Kita bisa menambahkan dempul pada sebuah mobil rongsokan kemudian mengampelasnya hingga halus dan selanjutnya memolesnya dengan cat pilihan terbaik, sehingga mobil tua itu menjelma menjadi barang antik yang elegan dan menawan hati. Demikian pula kamu bisa “mendempul” beberapa lubang jelek di dalam karakter diri kamu dan “memoles”-nya di sana- sini sehingga menjadi semakin rata dan halus. Setelah itu, kamu bisa “mengecat”-nya dengan tingkah laku yang baik dan sikap yang manis dan menarik.

Hasilnya, kamu akan menjelma menjadi seseorang yang begitu “berkilauan”. Siapapun yang memandang ke arahmu akan menilai sebagai seorang bintang dan menjadikan kamu sebagai pilihan pertama jika mereka mencari seseorang yang dibutuhkan. Seperti buah tomat ketiga belas yang kita bicarakan tadi.

Dalam kehidupan karier kita, sering kali kita menghadapi kenyataan bahwa hanya satu orang yang akan dipilih menduduki jabatan yang lebih tinggi. Jadi, hal pertama yang harus kamu periksa adalah : apakah pesona yang kamu tebarkan itu berhasil menggambarkan diri kamu sebagai seorang yang pantas untuk dipilih atau tidak ?

Oleh karena itu, jadilah ” tomat yang paling istimewa” !

Salah satu cerita yang selalu ku suka. Dan seperti beberapa cerita sebelumnya,  dengan berbagi pada semua,beginilah caraku menyimpannya. So, jika kisah ini pun menjadi salah satu kesukaanmu, kita bisa menyimpannya bersama-sama. Oh iya, kamu pun harus tahu juga dari mana kisah ini kuperoleh.

Kisah ini berjudul asli ” Tomat Istimewa & Pribadi yang Memesona”, dalam sebuah buku kumpulan kisah berjudul “Belajar Sukses kepada Alam” karya Dadang Kadarusman.

Udahan dulu ya … kumandang adzan isya sudah memanggil 🙂

MENEMPATKAN DIRI

English: Generic brand cola can from Jewel Com...

English: Generic brand cola can from Jewel Companies (US, 12 oz., 355 ml) (Photo credit: Wikipedia)

sumber : klik [di sini]

Sobat,Ada 3 kaleng coca cola. Ketiga kaleng tersebut diproduksi di pabrik yang sama,memiliki rasa yang sama,dan di kemas dengan kemasan yang sama pula.

Ketika tiba harinya, sebuah truk datang ke pabrik tersebut, mengangkut kaleng-kaleng coca cola dan menuju ke tempat yang berbeda untuk pendistribusian.

Pemberhentian pertama adalah toko biasa di pinggir jalan. Kaleng coca cola pertama diturunkan di sini. Kaleng itu dipajang di rak bersama dengan kaleng coca cola dan minuman lainnya dan diberi harga Rp.4.000,00.

Pemberhentian kedua adalah pusat perbelanjaan besar dan mewah. Di sana, kaleng kedua diturunkan. Kaleng tersebut ditempatkan di dalam kulkas supaya dingin dan dijual dengan harga Rp.7.500,00.

Pemberhentian terakhir adalah hotel bintang 5 yang sangat mewah. Kaleng coca cola ketiga diturunkan di sana. Kaleng ini tidak ditempatkan di rak atau di dalam kulkas. Kaleng ini hanya akan dikeluarkan jika ada pesanan dari pelanggan. Dan ketika ada yang pesan, kaleng ini dikeluarkan bersama dengan gelas kristal berisi batu es. Semua disajikan di atas baki dan pelayan hotel akan membuka kaleng coca cola itu, menuangkannya ke dalam gelas dan dengan sopan menyajikannya ke pelanggan. Harganya Rp.60.000,00.

Sekarang, pertanyaannya adalah : Mengapa ketiga kaleng coca cola tersebut memiliki harga yang berbeda padahal diproduksi dari pabrik yang sama, diantar dengan truk yang sama dan bahkan mereka memiliki rasa yang sama?

Lingkungan,sobat.Lingkungan Anda mencerminkan harga Anda. Lingkungan berbicara tentang RELATIONSHIP.

English: Coca Cola (bottle) sold in Indonesia....

English: Coca Cola (bottle) sold in Indonesia. Español: Botella de Coca Cola vendida en Indonesia. (Photo credit: Wikipedia)

Apabila Anda berada di lingkungan yang bisa mengeluarkan potensi terbaik dari diri anda, maka Anda akan menjadi cemerlang. Tapi bila Anda berada di lingkungan yang meng-kerdil- kan diri Anda, maka Anda akan menjadi kerdil.

Orang yang sama, bakat yang sama, kemampuan yang sama + lingkungan yang berbeda = NILAI YANG BERBEDA

Pesan yang bisa di tangkap adalah hati-hatilah dalam memilih lingkungan atau kawan Anda karena mereka yang akan membentuk Anda nantinya.

Semoga bermanfaat.

Ayah dan Semangat

Ketika duduk di bangku Sekolah Dasar dulu, banyak hal yang saya inginkan tak pernah terwujud, terutama sebuah keinginan yang melibatkan sesuatu yang harus diperoleh dengan uang. yang bagi sebagian orang jumlahnya tak begitu banyak tetapi tidak demikian bagi kami. Uniknya, ayah tak pernah mengatakan ia tak punya uang dan selalu berkata “ Sabar, nanti ayah belikan, berdoa saja!”. Berkali-kali kalimat itu keluar dari mulutnya yang saya sendiri bingung apakah itu sebuah janji atau nasehat.

Untuk menagih janji itu, tak ada satupun dasar yang kuat kapan dan bagaimana janji itu diucapkan oleh ayah pada saya, maka yang terjadi adalah rasa penasaran  kenapa ayah tak tampak meluluskan permintaan saya sesegera mungkin jika ia tak mengeluh tak punya uang.

Menagih apa yang dimintakan kepada ayah lebih sering terhalang oleh jadwal tugasnya yang tak menentu. Sebagai tentara dalam satu batalyon pasukan, belum sempat ia mengabulkan permintaan saya, panggilan tugas sudah menunggu dan membawanya berbulan bulan mengembara di hutan belantara. Ibu yang akhirnya lebih sering memberikan pengalihan pikiran terhadap apa yang saya pinta, dari permintaan akan sebuah mainan terbaru menjadi permintaan pada Tuhan agar ayah bisa kembali kerumah dengan tubuh dan jiwanya yang masih bersatu.

Suatu kali dibawah sinar bulan yang benderang ketika anak anak lain sibuk bermain di malam libur,saya pernah meminta ayah untuk membelikan sebuah bola kaki, namun belum sempat bola itu mampir dikaki, di suatu pagi buta ayah sudah harus berangkat ke suatu tempat yang waktu berangkat dan pulangnya tak dapat dijadwalkan seperti  layaknya perjalanan wisata. Dengan ransel hijau penuh dengan segala perlengkapan, satu tas coklat seperti sangsak tinju yang saya sendiri tak tahu apa isinya dan kilatan senjata laras panjang seolah menghapus pikiranku terhadap sebuah keinginan memiliki bola kaki yang jadi anganku beberapa hari sebelumnya.

Kali berikutnya ketika kulihat ayah sudah nampak sedikit agak lama berdiam dirumah, keinginan akan sebuah bola kaki seolah hilang lenyap dari kepala digantikan keinginan untuk memiliki sebuah game watch ayam dan telur, Sebuah kotak permainan elektronik  yang siapapun memimpikannya ketika kecil dulu padahal itu hanya sebuah permainan bagaimana seekor tikus harus menangkap telur yang terus menggelinding dari kandang dan tak boleh pecah.

Lagi lagi ayah hanya tersenyum dan mengelus kepala sambil mengucap kata yang sama , “Sabar dan Berdoalah!”. Malangnya tak sampai seminggu permintaan itu kuutarakan, ayah kembali  pergi dari rumah  dengan ransel hijau , tas coklat dan senjata laras panjangnya. Doa untuk sebuah Game watch pun berubah menjadi doa agar ia pulang dengan selamat dan berkumpul kembali dengan kami.

Keinginan demi keinginan akhirnya memang harus atau terpaksa pergi seiring dengan drama rutin kepergian ayah yang tak menentu. Keinginan akan semua impian saya itu akhirnya berubah menjadi sebentuk harapan agar ia pulang dengan selamat, membawa serta kembali  nafas dalam tubuhnya yang menghembus terdengar ditelinga  ketika ia memeluk kami  keluarganya setelah kepergian sekian bulan lamanya demi Negara.

Suatu hari di sore yang terang setelah satu hari ayah kembali dari tugas, Ayah bertanya apakah aku sudah berdoa untuk mendapatkan apa yang aku pinta , game watch,bola kaki dan mainan lainnya selama ayah pergi?, Saya hanya menggeleng dan berkata padanya bahwa semua itu tak lagi singgah di pikiran saya, yang penting ayah bisa kembali selamat dan aku bisa tidur dalam pelukannya.

Meski seorang tentara, matanya sore itu berkaca kaca dan ia menatap saya begitu tajamnya. Sore itu juga ayah mengajak  saya ke pasar minggu lalu masuk ke sebuah toko grosir disana untuk mendapatkan beberapa barang seperti rokok,jamu,obat-obatan,batu battery,odol,sabun,minyak angin dan banyak macam lainnya hingga penuh tas itu dengan berbagai  macam barang yang dibelinya.

“Untuk apa ayah?” Saya bertanya. Dan ia menjawab dengan sigap dan penuh senyum.

“Untuk persiapan kalau ayah berangkat tugas lagi,ayah akan jual di tempat tugas dan uangnya bisa membeli mainan yang kamu dan adikmu minta, selebihnya buat ibu!” jawab ayah.

Rupanya,tas coklat mirip sangsak tinju yang selalu ayah gendong ketika berangkat tugas bersama ransel hijau serta senjatanya adalah bagian dari nalurinya untuk memberikan tambahan bagi ibu dan kami untuk sedikit rejeki selain dari gaji ayah yang tak seberapa. Konsumen ayah adalah kawan-kawannya sendiri yang tak mungkin mendapatkan warung ditengah hutan untuk memperoleh barang-barang yang sepele namun sangat berguna disana.

Tak lama ketika tas coklat telah penuh, ayah menggamit lenganku menuju Toko ‘Tetap Segar’ dan  semua mainan yang saya minta dari  Bola Kaki, Game watch hingga  papan monopoli singgah ke kedua tanganku.

Ia dengan tubuh yang sebetulnya mulai menua menngendong tas coklat mirip sangsak dibahu kanannya sambil membayar semua mainan saya dengan tumpukan uang lusuh merah dan biru. Uang dari para tentara yang terendam kadang dikubangan lumpur,pematang sawah serta tampias hujan dalam tenda-tenda.

Dulu ketika kecil,saya tak pernah mengira betapa hidup itu sangat bergantung pada apa yang kita pikirkan. Semakin kuat kita memikirkan sesuatu maka semakin kuat  juga kecenderungan  apa yang ada dipikiran itu akan menjadi kenyataan. Ayah mengajarkan bahwa Gaji adalah sebagian yang sangat kecil dari rejeki yang diberikan Tuhan. Ia tak punya rekening gendut atau menakuti rakyat dengan bedil dan seramnya seragam miliknya untuk menambah rejeki. Ayah hanya memiliki tas coklat gendut dengan segala macam isi yang  memanfaatkan selisih harga beli dan harga jual tidak lebih dan itu yang membawa kami meloloskan diri dari sebagian kesulitan yang dihadapi bersama-sama.

Peluh, keringat, jauhnya jarak, bahkan nyawa kerap tak bisa dihindari bagi beberapa pria pelindung keluarga. Dibalik kagagahan dan kegigihan kadang terselip air mata bila mengingat apa yang diminta oleh anak anaknya tak mampu dipenuhi saat itu juga, dalam kesulitan mendapatkanya hampir semua pria membenamkan permintaan itu sebagai sebuah energi yang tersimpan dan menjadikanya sebagai pemicu dan pelecut semangatnya untuk kemudian dipergunakan sebagai tenaga tambahan.

Seorang ayah memang tak akan pernah sempurna di hadapan anak anak dan istrinya, namun justru ketidak sempurnaan itulah yang menjadi jaminan ia akan melindungi anak dan istrinya untuk mencapai sebuah kesempurnaan.

Terima kasih kepada para ayah yang telah memberikan pelajaran bagi kita semua tentang arti berjuang untuk kehidupan. Dan saat ini, pelajaran itulah yang ditunggu oleh anak anak kita  karena masa kini adalah giliran kita.

Pria yang tak meluangkan waktu untuk keluarga bukanlah pria sejati. -Don Corleone – The Godfather.

Didedikasikan untuk para ayah yang telah mendahului kita dan beberapa yang masih diberi kesempatan menemani kita.

*. Sumber : http://www.readersdigest.co.id/forum/lihat/69

*. Tulisan ini pernah diposting pada milis Reader’s Digest Indonesia dengan judul Semangat Ayah Tak Pernah Pergi.

seri kehidupan : 1 Jam

sumber : http://hampala.multiply.com/journal/item/6832

Suatu hari seorang anak kecil datang kepada ayahnya dan bertanya :

”Apakah kita bisa hidup tidak berdosa selama hidup kita…? “

Ayahnya memandang kepada anak kecil itu dan berkata :

”Tidak, nak… “

Putri kecil ini kemudian memandang ayahnya dan berkata lagi…

”Apakah kita bisa hidup tanpa berdosa dalam setahun…?”

Ayahnya kembali menggelengkan kepalanya, sambil tersenyum kepada putrinya.

”Oh ayah, bagaimana kalau 1 bulan, apakah kita bisa hidup tanpa melakukan

kesalahan…?”

Ayahnya tertawa…

”Mungkin tidak bisa juga, nak…”

”OK ayah, ini yang terakhir kali…

Apakah kita bisa hidup tidak berdosa dalam 1 jam saja…?”

Akhirnya ayahnya mengangguk.

“Kemungkinan besar, bisa nak…”

Anak ini tersenyum lega…

”Jika demikian, aku akan hidup benar dari jam ke jam, ayah…

Lebih mudah menjalaninya, dan aku akan menjaganya dari jam ke jam, sehingga

aku dapat hidup dengan benar… “

Pernyataan ini mengandung kebenaran sejati… Marilah kita hidup dari waktu ke

waktu, dengan memperhatikan cara kita menjalani hidup ini…

Dari latihan yang paling kecil dan sederhana sekalipun…

Akan menjadikan kita terbiasa…

Dan apa yang sudah biasa kita lakukan akan menjadi sifat…

Dan sifat akan berubah jadi karakter…

HIDUPLAH 1 JAM TANPA :

Tanpa kemarahan,

Tanpa hati yang jahat,

Tanpa pikiran negatif,

Tanpa menjelekkan orang,

Tanpa keserakahan,

Tanpa pemborosan,

Tanpa kesombongan,

Tanpa kebohongan,

Tanpa kepalsuan…

Lalu ulangi lagi untuk 1 jam berikutnya.. .

HIDUPLAH 1 JAM DENGAN :

Dengan kasih sayang kpd sesama…

Dengan damai,

Dengan kesabaran,

Dengan kelemah lembutan,

Dengan kemurahan hati,

Dengan kerendahan hati..

Dengan ketulusan..

Dan Mulailah dari Jam ini…

1 jam yang sederhana, tapi sangat mungkin akan berarti bagi perjalanan 10

tahun kedepan, bahkan mungkin sampai akhir hayat kita.

hmmm, kedengarannya mungkin simpel bin sederhana tapi in action dan aplikasinya akan terasa berat tapi setidaknya kita harus dan harus optimis dan mencoba … bismillah

seri kehidupan : Kisah Tukang Kayu

Seorang tukang bangunan yang sudah tua berniat untuk pensiun dari profesi yang sudah ia geluti selama puluhan tahun. Ia ingin menikmati masa tua bersama istri dan anak cucunya. Ia tahu ia akan kehilangan penghasilan rutinnya, namun bagaimanapun tubuh tuanya butuh istirahat. Ia pun menyampaikan rencana tersebut kepada mandornya. Sang Mandor merasa sedih, sebab ia akan kehilangan salah satu tukang kayu terbaiknya, ahli bangunan yang handal yang ia miliki dalam timnya. Namun ia juga tidak bisa memaksa. Sebagai permintaan terakhir sebelum tukang kayu tua ini berhenti, sang mandor memintanya untuk sekali lagi membangun sebuah rumah untuk terakhir kalinya. Dengan berat hati si tukang kayu menyanggupi, namun ia berkata karena ia sudah berniat untuk pensiun maka ia akan mengerjakannya tidak dengansegenap hati. Sang mandor hanya tersenyum dan berkata,

Kerjakanlah dengan yangterbaik yang kamu bisa. Kamu bebas membangun dengan semua bahan terbaik yang ada.

Tukang kayu lalu memulai pekerjaan terakhirnya. Ia begitu malas-malasan. Ia asal-asalan membuat rangka bangunan, ia malas mencari, maka ia gunakan bahan-bahan berkualitas rendah. Sayang sekali, ia memilih cara yang buruk untuk mengakhiri karirnya.

pic. from : bocahbancar.wordpress.com

Saat rumah itu selesai. Sang mandor datang untuk memeriksa. Saat sang mandor memegang daun pintu depan, ia berbalik dan berkata, “Ini adalah rumahmu, hadiah dariku untukmu!” Betapa terkejutnya si tukang kayu. Ia sangat menyesal. Kalau saja sejak awal ia tahu bahwa ia sedang membangun rumahnya, ia akan mengerjakannya dengan sungguh-sungguh. Sekarang akibatnya, ia harus tinggal di rumah yang ia bangun dengan asal-asalan.

Inilah refleksi hidup kita!

Pikirkanlah kisah si tukang kayu ini. Anggaplah rumah itu sama dengan kehidupan Anda. Setiap kali Anda memalu paku, memasang rangka, memasang keramik, lakukanlah dengan segenap hati dan bijaksana.

Sebab kehidupanmu saat ini adalah akibat dari pilihanmu di masa lalu.Masa depanmu adalalah hasil dari keputusanmu saat ini.

kisah hidup yang sangat [sesuatu]. Ku dapat dari kotak inbox from Anne Ahira, special tingkyu buatnya slalu yang tak pernah bosan-bosannya sharing cerita dan motivasi ke aku salah satunya. Sooooo buat kamu kamu dan kamu yang juga tersetrum oleh kisah ini dan ingin kotak inboxnya diramaikan oleh pesan-pesan dari Anne Ahira yuuuuuuuks jangan ragu dan sungkan silahkan aja mampir ke http://www.anneahiranewsletter.com/ atau klo kamu masih malu-malu sekedar ngintip aja boleh tapi dijamin gak nyesel lho heheheee …

Sedekah … Ampuh !!!

Tausiah Yusuf Mansur :

Sedekah selamatkan karyawan dari kebakaran

Seperti biasa, selama waktu istirahat siang, Arivan yang bekerja sebagai karyawan swasta di Kota Bekasi Jawa Barat mengunjungi warung kesukaannya untuk makan. Tidak ada yang aneh siang itu, hanya saja ketika Arivan sedang makan, tiba-tiba dia diusik oleh kehadiran seorang laki-laki dengan membawa kotak amal kecil.

Sambil tangannya masih memegang sendok, diperhatikannya penampilan laki-laki itu. Memakai peci dan pakaian gamis putih. “Mohon sumbangan untuk pengembangan pendidikan anak-anak pemulung pak,” kata lelaki sambil menyodorkan kotak amal kecilnya.

Dengan menganggukkan kepalanya, segera Arivan merogoh sakunya dan memberikan sebagian uang sakunya. “Terima kasih pak, semoga barokah,” jawab lelaki itu sambil berpaling meninggalkan Arivan. Setelah selesai makan siang, Arivan segera kembali ke kantor untuk melanjutkan pekerjaannya.

Jam pulang kantor telah datang, dengan mengendarai sepeda motor kesayangannya, dia menyusuri kemacetan kota Bekasi hingga sekitar pukul 20.00 WIB dia sampai di rumahnya.

“Malam itu saya memasak air dengan teko listrik pemasak untuk mandi air hangat,” kata Arivan dikutip Ustaz Yusuf Mansur.

Sambil menunggu air panas, Arivan melihat televisi di ruang tamu. Namun karena kelelahan, pria bujang itu tertidur sampai pagi hari saat azan Subuh berkumandang. Tidak satupun saudara atau orang tuanya membangunkan ketika masakan airnya mendidih.

Terkejut bangun pagi hari, dia langsung berlari menuju teko listrik yang berada di dapur rumahnya. Dilihatnya kabel teko pemasak air masih terhubung ke sambungan utama listrik, dengan elemen pemanas yang sudah gosong dan air di dalamnya sudah menguap habis.

Mengetahui kondisi itu, Arivan heran. Menurutnya tidak mungkin teko hanya gosong, secara umum seharusnya teko meledak dan menimbulkan kebakaran. Setelah lama merenungi, Arivan teringat sedekah yang diberikannya kepada lelaki yang mengganggunya makan siang hari sebelumnya.

Alhamdulillah, sedekah menghindarkan rumah saya dari kebakaran,” pungkasnya.

Sedekah memang ajaib, Subhanallah, that’s it !!!

sumber cerita : http://www.merdeka.com/ramadan/sedekah-selamatkan-karyawan-dari-kebakaran-tausiah-yusuf-mansur.html

Semangkuk semangat, seikat inspirasi

Ini adalah sebuah cerita inspirasi yang sangat luar biasa antusias. Ku dapat dari sebuah buku yang sama luar biasa inspiratif dan antusiasnya berjudul Jatuh 2x… Berdiri 3x… , salah satu dari beberapa cerita rakyat Jepang yang disemat apik oleh Li Shi Guang. Seperti dikisahkan oleh pengarang bahwa cerita ini diperolehnya dari seorang teman. Cerita ini dibawa oleh anak gadis Ny. Hsu yang tinggal di Kao Hsiung. Anak gadisnya pulang dari Amerika pada awal Januari dengan membawa oleh-oleh sebuah sebuah kisah nyata yang menggugah hati. Kisah ini terjadi pada malam Chu Si (malam menjelang tahun baru imlek) dan tertuang dalam lebih dari 50 halaman. Kisah ini sangat mengharukan banyak orang Jepang. Cerita ini disebut sebagai kisah “Semangkuk Mi Kuah, yang diterjemahkan oleh Li Kuei Chuen.

Pada 31 Desember lima belas tahun  yang lalu, yang juga merupakan malam Chu Si, di sebuah jalan di Kota Sapporo, Jepang, berdiri sebuah toko mi bernama “Pei Hai Thing” (Pei = utara, Hai = Laut, Thing = Kios, Toko).

Makan mi pada malam Chu Si merupakan adat turun-temurun orang Jepang. Hari itu pemasukan toko-toko mi sangatlah baik, tidak terkecuali Pei Hai Thing. Hampir sehari penuh pengunjung ramai berkunjung. Tetapi setelah pukul 22.00 tidak ada lagi pengunjung yang datang, padahal biasanya jalan sangat ramai hingga waktu subuh. Namun karena semua orang terburu-buru pulang ke rumah untuk merayakan tahun baru, maka hari itu jalan dengan cepat menjadi sepi.

Pemilik Toko Pei Hai Thing adalah seeorang yang jujur dan polos. Istrinya pun adalah seorang yang ramah dan selalu melayani orang dengan penuh kehangatan. Saat tamu terakhir pada malam Chu Si itu telah keluar dari toko mi dan sang istri pun tengah bersiap menutup toko, pinti toko terihat kembali terbuka. Seorang wanita dengan membawa dua orang anak masuk. Ke dua anak itu berusia kira-kira 6 dan 10 tahun. Mereka mengenakan baju olahraga baru yang serupa satu dengan yang lainnya. Sementara Si Wanita memakai baju bercorak kotak yang telah usang.

“Silahkan duduk, ” Sang pemilik toko mengucapkan salam.

Wanita itu berkata dengan nada ketakutan, ” bolehkah … memesan semangkuk mi kuah ?”

Ke dua anak di belakangnya saling berpandangan, tak tenang.

“Tentu … tentu boleh, silahkan duduk di sini, ” sang istri mengajak mereka ke meja nomor dua di bagian paling pinggir, lalu berteriak dengan keras ke arah dapur, “semangkuk mi kuah !”

Sebenarnya jatah mi untuk semangkuk mi kuah hanyalah satu ikat, tetapi sang pemilik toko menambahkan lagi sebanyak setengah ikat, kemudian menyiapkannya dalam sebuah mangkuk besar. Hal ini tak diketahui oleh sang istri dan ketiga tamunya itu.

Ibu dan kedua anaknya mengelilingi semangkuk mi kuah tersebut dan menikmatinya dengan lahap. Sambil makan mereka berbicara dengan suara pelan, “enak sekali!”

Si adik menyumpit mi untuk menyuapi ibunya. Dan tak lama kemudian, semangkuk mi itupun habis. Setelah membayar 150 yen, ibu dan kedua anaknya dengan serempak memuji dan menghaturkan terima kasih.

“Lezat sekali, terima kasih banyak !” kata mereka seraya membungkuk memberi hormat, lalu berjalan meninggalkan toko.

Setiap hari berlalu dengan penuh kesibukan, tak terasa setahun pun telah berlalu. Sampai pada 31 Desember ini pun usaha  Pei hai Thing masih tetap ramai. Kesibukan pada malam Chu Si ini akhirnya selesai. Jam menunjukkan waktu telah lewat dari pukul 22.00. Sang istri pemilik toko tengah berjalan ke arah pintu untuk menutup toko ketika pintu itu terbuka lagi dengan pelan. Terlihat seorang wanita paruh baya melangkah masuk bersama dua orang anaknya. Ketika melihat baju bercorak kotak yang telah usang itu, seketika sang istri teringat akan tamu terakhir pada malam Chu Si tahun lalu.

” Bolehkah … membuatkan kami … semangkuk mi kuah ?”

” tentu, tentu, silahkan duduk.”

Sang istri mengajak mereka ke meja nomor 2–meja yang pernah mereka tempati tahun lalu–sambil berteriak dengan keras, “semangkuk mi kuah !”.

Sang suami menyahut smbil menyalakan api yang baru saja ia padamkan. Diam-diam istrinya masuk dan berbisik kepada suaminya, “masak tiga mangkuk untuk mereka, boleh tidak ?”

” Jangan, kalau seperti itu mereka bisa merasa tidak enak. ”

Sambil menjawab, sang suami menambahkan setengak ikat mi ke dalam kuah yang mendidih.

Setelah dihidangkan, kembali ibu dan kedua anak itu mengelilingi mi kuah tersebut. Ketika makan, mereka berbicara yang ternyata terdengar ke telinga suami pemilik toko.

Sangat wangi … sangat hebat … sangat nikmat !”

” Tahun ini masih bisa menikmati mi Pei Hai Thing, sangatlah baik !”.

” Alangkah baiknya jika tahun depan masih bisa datang untuk makan di sini ! ”

Setelah selesai makan dan membayar 150 yen, ibu dan kedua anak itu berjalan meninggalkan Pei Hai Thing.

” Terima kasih banyak ! Selamat Tahun Baru. ”

Memandang ibu dan anak yang berjalan pergi, suami istri pemilik toko berulang kali membicarakannya cukup lama.

Pada malam Chu Si tahun berikutnya, usaha Pei Hai Thing tetap berjalan dengan sangat baik. Saking sibuknya pada hari itu, sepasang suami istri itu sampai tak punya waktu untuk berbicara. Namun, setelah lewat pukul 21.30, ke dua orang itu justru mulai merasa tak tenang.

Pukul 22.00, pegawai toko telah pulang setelah menerima Hung Pao (Ang Pao). Pemilim toko dengan tergesa-gesa membalik setiap lembar daftar harga yang tergantung di dinding. Daftar kenaikan harga ” Mi Kuah 200 yen semangkuk ” sejak musim panas tahun ini, ditulis ulang menjadi 150 yen.

Di atas meja nomor 2, tiga menit yang lalu sang istri telah meletakkan kartu tanda “telah dipesan”. Sepertinya ia bermaksud menunggu tamu yang akan tiba. Setelah lewat pukul 22.00, ibu dengan dua orang anak itu akhirnya muncul kembali.

Sang kakak memakai seragam SMP, sedangkan sang adik mengenakan jaket–yang terlihat agak kebesaran–yang dipakai kakaknya tahun lalu. Kedua anak ini telah tumbuh dewasa. Sementara itu, sang ibu masih memakai baju bercorak kotak usang yang telah pudar warnanya.

” Silahkan masuk ! silahkan masuk ! ” sang istri pemilik toko menyambut dengan hangat.

Melihat istri pemilik toko yang menyambut dengan senyum hangat, ibu kedua anak itu dengan agak ketakutan berkata, ” Tolong … tolong buatkan dua mangkuk mi, bolehkah ? ”

Baik, silahkan duduk. ”

Sang istri mengajak mereka ke meja nomor dua, dengan cepat menyembunyikan tanda “telah dipesan” seakan-akan tak pernah diletakkan di sana, lalu berteriak ke arah dalam, “dua mangkuk mi!”

Sambil menyahuti teriakan sang istri, sang suami melempar tiga ikat mi ke dalam kuah yang mendidih. Setelah itu, ia segera menyajikan dua mangkuk mi panas kepada tiga orang tamunya.

Ibu dan kedua anak itu terlihat sangat gembira. Sambil makan, mereka bertiga tampak sedang berbincang. Sepasang suami-istri pemilim toko berdiri di balik pintu dapur, turut merasakan kegembiraan mereka.

” Siao Chun, kakak,hari ini ibu ingin berterima kasih kepada kalian berdua. ”

“Terima kasih ? Mengapa ?” tanya si anak sulung.

” Tentang kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan delapan orang terluka yang disebabkan oleh ayah kalian. Setiap bulan dalam beberapa tahun ini, uang sebesar 50,000 yen harus diserahkan untuk menutupi bagian yang tak dapat dibayar oleh pihak asuransi.”

“Ya, hal itu kami tahu, sang kakak kembali menyahut.

Istri pemilik toko terdiam mendengarkan pembicaraan itu.

“Awalnya kita harus membayar hingga Maret tahun depan, tetapi ternyata telah terlunasi pada hari ini. ”

“Oh, ibu, benarkah ?”

“Ya benar. Itu karena kakak mengantar koran dengan rajin, Siao Chun membantu membeli sayur dan menank nasi sehingga ibu bisa bekerja dengan hati tenang. Perusahaan memberikan bonus istimewa kepada ibu karena tidak pernah absen kerja. Oleh karena itu, ibu dapat melunasi seluruh bagian yang tersisa.”

“Ma! Kakak! Alangkah baiknya, tetapi biarkan Siao chun tetap menyiapkan makan malam.”

“Kakak juga ingin terus mengantar koran.”

“Terima kasih, ibu sungguh berterima kasih.”

“Kami punya sebuah rahasia dan belum memberi tahu ibu, ” kata sang kakak. “Pada hari minggu di bulan November, sekolah Siao Chun menghubungi wali murid untuk hadir melihat program bimbingan belajar dari sekolah. Guru Siao Chun secara khusus menambahkan sepucuk surat, yang mengatakan karangan Siao Chun telah dipilih sebagai wakil seluruh Pei Hai Tao (Hokkaido) untuk mengikuti lomba mengarang seluruh negeri. Hari itu aku mewakili ibu untuk menghadirinya.”

“Benarkah? Lalu?” tanya sang ibu.

“Tema yang diberikan guru adalah ‘Cita-citaku (Wo Te Ce Yuen)’. Dengan karangan bertema semangkuk mi kuah, Siao Chun diminta membacanya di hadapan para hadirin.

“Isi karangan itu menceritakan bahwa ayah mengalami kecelakaan lalu lintas dan meninggalkan utang yang banyak. Untuk membayar utang, ibu harus bekerja keras dari pagi hingga malam. Aku yang harus mengantar koran juga ditulis oleh Siao Chun.

“Lalu, pada 31 Desember, kita bertiga bersama-sama makan semangkuk mi kuah yang rasanya sangat lezat. Tiga orang hanya memesan semangkuk mi kuah. Sang pemilik toko, yaitu paman dan istrinya, malah mengucapkan terima kasih dan selamat tahun baru kepada kami ! Suara itu seperti sedang memberikan dorongan semangat untuk kami agar tegar menjalani hidup, untuk secepatnya melunasi hutang ayah.

“Oleh karena itu, Siao Chun memutuskan untuk membuka toko mi setelah dewasa nanti. Ia ingin menjadi pemilik toko mi nomor satu di Jepang, juga ingin memberikan dorongan semangat kepada setiap pengunjung. “Semoga kalian berbahagia ! Terima kasih !”

Pasangan suami istri yang sebelumnya berdiri di balik pintu dapur dan mendengarkan pembicaraan mereka kini tampak berjongkok dengan selembar handuk di tangan mereka–berusaha keras menghapus air mata yang tak henti mengalir.

“Selesai membaca karangan itu, Guru berkata, “kakak Siao Chun telah mewakili ibunya datang ke sini. Silahkan naik ke panggung untuk menyampaikan beberapa patah kata.”

“Sungguhkah? lalu kamu bagaimana ?” tanya sang ibu

“Karena sangat mendadak, awalnya aku tidak tahu harus mengucapkan apa. Aku lantas mengucapkan terima kasih kepada semua orang atas perhatian dan kasih sayang terhadap Siao Chun, yang setiap hari harus membeli sayur dan menyiapkan makan malam. Dia juga sering kali harus terburu-buru pulang dari kegiatan berkelompok, yang tentu mendatangkan banyak kesulitan bagi semua orang. Dan saat dia membacakan karangan semangkuk mi kuah, aku sempat merasa malu. Tetapi melihat Siao Chun dengan dada tegap dan suara yang lantang menyelesaikan membaca karangan itu, rasa malu itulah yang malah jadi memalukan.

“Beberapa tahun ini, keberanian ibu yang hanya memesan semangkuk mi kuah, tidak akan pernah kami lupakan. Kami berdua pasti akan giat dan rajin, merawat ibu dengan baik. Dan selanjutnya, aku meminta kepada para hadirin untuk tetap memperhatikan Siao Chun, hari itu dan seterusnya.”

Ketiga orang itu kemudian saling menggenggam tangan dengan erat, saling menepuk bahu, menikmati mi tahun baru dengan perasaan yang lebih bahagia dibandingkan tahun sebelumnya. Setelah selesai, sang ibu membayar 300 yen dan mengucapkan terima kasih. Ia kemudian memberi hormat kepada pemilik toko dan meninggalkan toko mi bersama kedua anaknya.

Sang pemilik toko, seakan-akan sedang menutup tahun yang lama, dengan suara yang keras mengucapkan, “Terima kasih ! Selamat Tahun Baru !”

Setahun pun berlalu. Pemilik toko mi Pei Hai Thing kembali meletakkan tanda “telah dipesan” di meja nomor dua dan menunggu. Namun, ibu dan kedua anak itu tidak muncul. Tahun kedua, tahun ketiga, meja nomor dua tetap kosong–ketiga orang itu tetap tidak muncul.

Seiring berjalannya waktu, usaha Pei Hai Thing semakin berkembang. Toko itu pun telah direnovasi. Meja dan kursinya telah diganti dengan yang baru. Namun, meja nomor dua itu masih tetap seperti semula.

Banyak tamu yang datang ke toko mi itu merasa heran. Sang istri pemilik toko kemudian menceritakan kisah semangkuk mi kuah itu kepada para pengunjung. Selanjutnya, meja nomor dua itu, menjadi  “meja keberuntungan”. Setiap pengunjung kemudian menyampaikan kisah ini kepada orang lain. Banyak pelajar yang merasa ingin tahu dan datang dari jauh demi melihat meja tersebut dan menikmati mi kuah. Semua orang umumnya ingin duduk di meja tersebut.

Dan beberapa tahun ini, setelah melewati malam Chu Si, para pemilik toko di sekitar Pei Hai Thing akan mengajak keluarganya menikmati mi di Pei Hai Thing setelah menutup toko pada malam Chu Si. Sebanyak 30 hingga 40 orang sering berkumpul hingga toko itu menjadi sangat ramai. Itu biasa terjadi dalam 5-6 tahun terakhir ini. Semua orang telah mengetahui kisah meja nomor dua itu. Meski mulut tidak berbicara, tetapi dalam hati mereka berpikir, “meja yang telah dipesan pada malam Chu Si, tahun ini mungkin sekali lagi akan menjadi meja dan kursi kosong menyambut datangnya tahun baru.”

Hari itu, semua orang kembali berkumpul pada malam Chu Si. Ada orang yang makan mi, ada yang minum arak. Semuanya berkumpul seperti sebuah keluarga. Setelah lewat pukul 22.00, pintu tiba-tiba kembali terbuka. Semua orang yang berdiri di dalam segera menghentikan pembicaraan. Seluruh pandangan mata tertuju ke arah pintu yang terbuka itu.

Dua orang remaja yang berstelan jas yang rapi dengan baju luar di tangan, melangkah masuk. Saat sang istri pemilik toko hendak mengatakan bahw meja telah penuh, seorang wanita berkimono berjalan masuk, berdiri di antara kedua remaja tersebut. Semua orang yang berada di dalam toko menahan nafas mendengar wnita berkimono tersebut perlahan mengatakan, “tolong … tolong … mi kuah … untuk tiga orang, bolehkah ?”

Belasan tahun telah berlalu, sang istri pemilik toko seketika mengingat kembali gambaran ibu muda dengan dua orang anaknya itu. Sang suami di balik pintu dapur pun termenung. Salah seorang anak di antara ibu dan anak tersebut menatap sang istri yang tengah salah tingkah dan mengatakan, “kami bertiga, 14 tahun yang lalu pernah memesan semangkuk mi kuah di malam Chu Si, dan kami mendapatkan dorongan semangat dari emangkuk mi tersebut. Hingga kami bertigapun dapat menjalani hidup dengan tegar.

“Lalu kami pindah ke kabupaten (Ce He) untuk tinggal di rumah nenek. Saya telah melewati ujian jurusan kedokteran dan praktek di Rumah Sakit Universitas Kyoto bagian penyakit anak. Bulan April tahun depan, saya akan praktek di Rumah Sakit Kota Sapporo.

“Sesuai dengan tatakrama, kami datang mengunjungi rumah sakit itu terlebih dahulu, sekalian sembahyang di makam ayah. Setelah berbicara dengan adik saya, yang pernah bepikir untuk menjadi pemilik toko mi nomor satu tetapi belum tercapai, dan sekarang bekerja di bank Kyoto, punya rencana istimewa, yaitu pada malam Chu Si tahun ini kami bertiga akan mengunjungi Pei Hai Thing di Sapporo, memesan tiga mangkuk mi kuah Pei Hai Thing. ”

Sang istri pemilik toko yang telah berhasil mengingat kembali kisah belasan tahun lalu itu, memepuk bahu sang suami sambil berkata, “Selamat datang! Silahkan … Ei! Meja nomor dua, tiga mangkuk mi kuah !”

***. sangatsesuatu .***