Gadis Tak Berlengan

Dahulu kala di sebuah negeri yang bernama Mino hiduplah sebuah keluarga kaya raya. Nama keluarga itu adalah “Sansensa”. Keluarga ini memiliki seorang anak laki-laki yang sudah menginjak usia dewasa dan sudah pantas untuk berumah tangga. Akhirnya Si anak lelaki memutuskan untuk berkelana ke seluruh negeri untuk mencari calon isteri. Dengan ditemani seorang pengawal yang bertugas membawa barang-barang keperluannya, mereka menyamar sebagai pedagang kain keliling. Tujuan utama mereka adalah ke arah barat.

Dalam perjalanan mereka mendengar bahwa di Osaka ada dua orang gadis bersaudara yang cantik rupawan.  Namun, di antara ke dua gadis itu, sang kakak lah yang paling cantik. Bergegaslah lelaki tersebut ditemani sang pengawal ke Osaka dan tinggal di sana untuk beberapa lama. Keduanya menyelidiki gadis bersaudara yang terkenal cantik itu. Setelah melihat sendiri, Si pemuda itu tertarik pada sang kakak yang memang terlihat lebih cantik. Penapilannya halus dan lembut.

Merasa telah menemukan calon istri yang tepat, pulanglah pemuda itu. Ia meminta ayahnya melayangkan surat pinangan kepada orang tua gadis itu. Beberapa hari kemudian, keluarga si gadis di Osaka menerima surat pinangan tersebut.

Ternyata kabar itu tidak membuat ibu si putri sulung senang. Ternyata si putri sulung bukanlah anak kandungnya. Gadis itu adalah putri adik kandungnya. Sang ibu lebih senang jika si bungsu yang dilamar. Untuk menggaagalkan rencana perkawinan itu, sang ibu menyuruh si putri sulung pergi ke sebuah pesta bersama teman-temannya. Sang ibu juga meminta si putri menari bersama teman-temannya sebagai ungkapan perpisahan sebelum bepergian jauh.

Rencana sang ibu pun berlanjut. Ia berkata kepada suaminya bahwa putri sulung mereka menari telanjang. Mendengar hal ini sang Ayah pun marah. Karena terpancing oleh pengaduan istrinya, sang ayah menebas kedua tangan putri sulungnya. Sang putri kemudian dibuang ke jurang. Karena kedua tangannya terpotong oleh ayahnya sendiri, sang putri sulung jatuh pingsan. Sang ayah menyangka putri sulungnya telah meninggal. Ia pun pulang ke rumah.

Sang istri membalas surat keluarga Sansensa di Mino dan mengabarkan bahwa putri sulungnya telah meninggal karena sakit. Ia menawarkan pengganti putrinya, yaitu si putri bungsu. Lelaki dari Mino ini menolak tawaran keluarga itu dan mengatakan bahwa ia hanya mencintai putri sulung.

Sementara itu, putri sulung yang jatuh pingsan dengan kedua tangan terpotong memang masih hidup. Dengan langkah tertatih, putri sulung berjalan ke arah timur selama berminggu-minggu. Sampai suatu hari, tibalah ia di depan rumah  keluarga Sansensa. Ia melihat rumah itu begitu indah. Lama ia memandangi rumah itu hingga perutnya terasa lapar. Dengan menggunakan mulutnya ia menggapai buah yang ada di depannya. Saat itu datanglah putra pemilik rumah tersebut.

Lelaki muda itu terperanjat. ” Bukankah kau putri sulung dari Osaka ? ” tanyanya terkejut.

” Maafkan saya, Tuan, ” kata sang putri sambil bersimpuh di tanah.

Sang putri kemudian menceritakan kejadian yang dialaminya. Di luar dugaan, ternyata lelaki itu tetap meminta ayahnya agar menikahkannya dengan putri sulung, walaupun kini tanpa lengan. Akhirnya menikahlah keduanya atas restu keluarga Sansensa.

Setelah menikah, suami putri sulung kembali melakukan perjalanan dagang ke Osaka. Ia meninggalkan istrinya yang telah hamil. Suatu hari utusan keluarga ke Osaka membawa surat dari keluarga Mino yang mengabarkan bahwa sang bayi telah lahir. Saat itu sang suami tengah mabuk berat. Datanglah keluarga ibu tirinya. Ibu tirinya mengambil surat itu dan mengubah isi suratnya. Dia menulis, ” buah hatimu telah lahir, wajahnya buruk sekali seperti monster. Tolong berikan nama kepadanya. ”

Keesokan harinya lelaki itu sadar dari mabuknya. Ternyata ia adalah seorang ayah yang baik. Ia membalas surat itu, “meskipun ia berwajah buruk seperti monster, ia tetap buah hatiku yang kucintai “. Surat itu diberikan kepada si utusan untuk segera dikirim kepada keluarganya di Mino.

Sayangnya, dalam perjalanan utusan itu mampir ke kedai minuman milik si ibu tiri. Di kedai itu, utusannya pun mabuk berat. Dan lagi-lagi isi surat itu diubah oleh ibu tiri si putri sulung. Isi surat berubah menjadi, ” karena ia sangat buruk seperti monster, usir ia dan ibunya dari rumah “.

Ayah dan ibu si lelaki itu sangat heran dengan apa yang dipikirkan oleh anak lelakinya itu. Orang tuanya tidak tega mengusir menantu dan cucunya yang baru lahir itu. Dengan memberikan bekal uang yang cukup, akhirnya dengan berat hati ayahnya meminta agar menantu dan cucunya pergi meninggalkan rumah.

Dengan hati sedih, sang putri sulung dan si bayi pergi meninggalkan rumah itu. Karena tak punya tujuan, tibalah ia di dekat sungai. Karena kehausan ia berniat meminum air sungai itu. Tetapi saat ia hendak minum, bayi dalam gendongannya terjatuh ke sungai. Secara refleks lengannya yang telah putus itu mengarah ke bayinya yang nyaris terseret arus sungai. Sebuah keajaiban terjadi. Lengannya yang putus kembali utuh sehingga ia dapat mengambil bayinya yang tercebur ke sungai.

Setelah ia berhasil menyelamatkan bayinya, ia segera mengelap tubuh bayinya dengan kain. Tanpa sengaja ia melihat sebuah patung kayu Kozu Sama yang tidak memiliki lengan sama sekali. Barulah si putri sulung tersadar bahwa patung Kozu Sama itulah yang telah memberikan ke dua lengannya kepadanya.  Sang putri pun lalu bersimpuh untuk mengucapkan terima kasih dan akhirnya ia dan bayinya tinggal tak jauh dari sungai itu. Sang putri merawat bayinya dan patung Kozu sama itu.

Beberapa bulan kemudian, putra keluarga Mino kembali ke rumahnya. Ia sangat terkejut mengetahui isi suratnya telah diubah. Dengan segera ia mencari istri dan anaknya hingga tiba di sebuah sungai dengan kedai minuman di tepinya. Ketika ia hendak masuk ke dalam kedai, seorang anak kecil memanggilnya “otoo-chan”. Lelaki itu tersenyum. Ia merasa sedih membayangkan  anak itu seusia dengan anaknya yang sedang ia cari.

Tak lama kemudian, dari dalam kedai muncullah si putri sulung. Ketika ia hendak menyediakan teh pada sang tamu, ia menyadari bahwa tamunya adalah suami yang sangat ia cintai. Lelaki itu pun sadar bahwa perempuan di depannya adalah istrinya. Akhirnya pertemuan itu membawa kebahagiaan yang tak terhingga bagi ketiganya. Mereka pun tinggal di tepi sungai itu selamanya.

Nilai moral yang dapat diambil dari Cerita ini adalah bahwa keteguhan hati dan ketabahan akan mendatangkan kebahagiaan di kemudian hari.

Satu dari sekumpulan cerita rakyat dari negeri Sakura, ku ambil dari buku berjudul Jatuh 2x… berdiri 3x… karya Li Shi Guang.

Semoga bermanfaat

 

 

 

Jangan Sombong

Ada seorang filsuf yang menaiki sebuah perahu kecil ke suatu tempat. Karena merasa bosan dalam perahu, kemudian dia pun mencari pelaut untuk berdiskusi.

Filsuf menanyakan kepada pelaut itu: ” Apakah Anda mengerti filosofi?”
“Tidak mengerti.” Jawab pelaut.
“Wahh, sayang sekali, Anda telah kehilangan setengah dari seluruh kehidupan Anda.

Apakah Anda mengerti matematika?” Filsuf tersebut bertanya lagi.
“Tidak mengerti juga.” Jawab pelaut tersebut.

Filsuf itu, menggelengkan kepalanya seraya berkata:
“Sayang sekali, bahkan Anda tidak mengerti akan matematika.
Berarti Anda telah kehilangan lagi setengah dari kehidupan Anda.”

Tiba-tiba ada ombak besar, membuat perahu tersebut terombang-ambing. Ada beberapa tempat telah kemasukan air,
Perahu tersebut akan tenggelam, filsuf tersebut ketakutan. Seketika, pelaut pun bertanya pada filsuf: ” Tuan, apakah Anda bisa berenang?”

Filsuf dengan cepat menggelengkan kepalanya dan berkata: “Saya tidak bisa, cepat tolonglah saya.”
Pelaut menertawakannya dan berkata: “Berenang Anda tidak bisa, apa arti dari kehidupan Anda? Berarti Anda akan kehilangan seluruh kehidupan Anda.”

Semua orang sebenarnya memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Bangga atas prestasi itu wajar saja, tetapi jangan sampai membuat diri sendiri menjadi sombong maupun angkuh akan prestasi tersebut. Ingatlah, selalu ada yang lebih pintar dari kita. Dan kita juga masih perlu belajar dari kelebihan orang lain.

Laa tahtaqir man duunaka  fa likulli sya’in  maziyyah

Jadi, janganlah kita bersikap, berlaku sombong dan meremehkan orang lain. Semoga bisa menjadi pelajaran berharga dan inspirasi bagi kita semua ^^d.

sumber cerita : DuniaPustaka.com Tempat Download Buku Gratis

Nenek dan Filosofi Pensilnya

Nasehat Nenek Yang Bijak

Seorang anak bertanya kepada neneknya yang sedang menulis sebuah surat.
“Nenek lagi menulis tentang pengalaman kita ya? atau tentang aku?”
Mendengar pertanyaan si cucu, sang nenek berhenti menulis dan berkata kepada cucunya,
“Sebenarnya nenek sedang menulis tentang kamu, tapi ada yang lebih penting dari isi tulisan ini yaitu pensil yang nenek pakai. Nenek harap kamu bakal seperti pensil ini ketika kamu besar nanti”, ujar si nenek lagi.Mendengar jawaban ini, si cucu kemudian melihat pensilnya dan bertanya kembali kepada si nenek ketika dia melihat tidak ada yang istimewa dari pensil yang nenek pakai.
“Tapi nek, sepertinya pensil itu sama saja dengan pensil yang lainnya”, Ujar si cucu.

Si nenek kemudian menjawab,
“Itu semua tergantung bagaimana kamu melihat pensil ini. Pensil ini mempunyai 5 kualitas yang bisa membuatmu selalu tenang dalam menjalani hidup, kalau kamu selalu memegang prinsip-prinsip itu di dalam hidup ini”,

Si nenek kemudian menjelaskan 5 kualitas dari sebuah pensil.

pertama:
pensil mengingatkan kamu kalau kamu bisa berbuat hal yang hebat dalam hidup ini. Layaknya sebuah pensil ketika menulis, kamu jangan pernah lupa kalau ada tangan yang selalu membimbing langkah kamu dalam hidup ini. Kita menyebutnya Allah, Dia akan selalu membimbing kita menurut kehendakNya”.

kedua:
dalam proses menulis, nenek kadang beberapa kali harus berhenti dan menggunakan rautan untuk menajamkan kembali pensil nenek. Rautan ini pasti akan membuat si pensil menderita. Tapi setelah proses meraut selesai, si pensil akan mendapatkan ketajamannya kembali. Begitu juga dengan kamu, dalam hidup ini kamu harus berani menerima penderitaan dan kesusahan, karena merekalah yang akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik”.
ketiga:
pensil selalu memberikan kita kesempatan untuk mempergunakan penghapus, untuk memperbaiki kata-kata yang salah. Oleh karena itu memperbaiki kesalahan kita dalam hidup ini, bukanlah hal yang jelek. Itu bisa membantu kita untuk tetap berada pada jalan yang benar”.

keempat:
bagian yang paling penting dari sebuah pensil bukanlah bagian luarnya, melainkan arang yang ada di dalam sebuah pensil. Oleh sebab itu, selalulah hati-hati dan menyadari hal-hal di dalam dirimu”.

kelima:
sebuah pensil selalu meninggalkan tanda/goresan…
Seperti juga kamu, kamu harus sadar kalau apapun yang kamu perbuat dalam hidup ini akan tinggalkan kesan.

creativesmilekids.com

Oleh karena itu selalulah hati-hati dan sadar terhadap semua tindakan”
Semoga kita bisa mengambil hikmah dari kisah ini

sumber : DuniaPustaka.com Tempat Download Buku Gratis

*~ Kisah Tiga Orang Kuli Bangunan

Ini adalah sebuah kisah klasik tentang tiga orang kuli bangunan.

Kisah sederhana namun inspiratif.

Entah darimana kisah ini berasal, yang jelas kisah ini telah melanglang

buana begitu jauh.

Dari mulut ke mulut, dari generasi ke generasi.

Menyeberangi lautan, tiba dibenua yang satu lalu tersebar disana kemudian

berangkat ke benua dan bahasa yang lain.

Suatu kali disiang yang terik, disaat ketiganya tengah sibuk bekerja,

melintaslah

seorang tua.

“Apa yang sedang kau kerjakan ?”, tanya orang tua itu kepada salah seorang

dari antara mereka.

Pekerja bangunan yang pertama tanpa menoleh sedikitpun, menjawab orang tua

itu dengan ketus.

“Hei orang tua, apakah matamu sudah terlalu rabun untuk melihat. Yang aku

kerjakan dibawah terik matahari ini adalah pekerjaan seorang kuli biasa !!”.

Orang tua itupun tersenyum, lalu beralih kepada pekerja bangunan yang kedua.

“Wahai pemuda, apakah gerangan yang sebenarnya kalian kerjakan ?”.

Pekerja bangunan yang kedua itupun menoleh. Wajahnya meskipun ramah

tampak sedikit

ragu.

“Aku tidak tahu pasti, tetapi kata orang, kami sedang membuat sebuah rumah

Pak”, jawabnya lalu meneruskan pekerjaannya kembali.

Masih belum puas dengan jawaban pekerja yang kedua, orang tua itupun

menghampiri pekerja yang ketiga, lalu menanyakan hal yang sama kepadanya.

Maka pekerja yang ketiga pun tersenyum lebar,

lalu menghentikan pekerjaannya sejenak, lalu dengan

wajah berseri-seri berkata.

“Bapak, kami sedang membuat sebuah istana indah yang luar biasa Pak !

Mungkin kini bentuknya belum jelas, bahkan diriku sendiripun tidak tahu

seperti apa

gerangan bentuk istana ini ketika telah berdiri nanti. Tetapi aku yakin,

ketika selesai, istana ini akan tampak sangat megah, dan semua orang yang

melihatnya

akan berdecak kagum. Jika engkau ingin tahu apa yang kukerjakan, itulah yang

aku kerjakan Pak !”, jelas pemuda itu dengan berapi-api.

Mendengar jawaban pekerja bangunan yang ketiga, orang tua itupun sangat

terharu, rupanya orang tua ini adalah pemilik istana yang sedang dikerjakan

oleh ketiga pekerja bangunan itu. (*)

Hal yang sama rupanya berlaku pula dalam hidup ini.

Sebagian besar orang tidak pernah tahu untuk apa mereka dilahirkan kedunia.

Mungkin karena telah begitu disibukkan oleh segala bentuk “perjuangan”,

merasa tidak terlalu perduli dengannya.

Bisa hidup saja sudah syukur !

Sebagian lagi, yang biasanya adalah tipe “pengekor” atau “me too”

yaitu orang-orang

yang punya pandangan yang samar-samar tentang keberadaan mereka dalam

kehidupan.

Sepertinya begini…kayanya begitu…kata motivator sih

begono..tapi pastinya ?

Don’t have idea !!

Namun sisanya : golongan terakhir -biasanya hanya segelintir orang-

menemukan “visi” atau “jati diri” mereka didunia ini.

Mereka adalah orang-orang yang tidak hanya kebetulan lahir, sekedar hidup,

bertahan agar tetap hidup, tua karena memang harus tua, kawin lagi jika ada

kesempatan, lalu berharap mati dan masuk

surga, namun adalah orang-orang yang hidup dalam arti yang sebenar-benarnya.

Mereka sering dianggap sebagai “perpanjangan tangan TUHAN”.

Orang-orang yang tidak hanya berjalan dalam tuntunan tangan Yang Maha Kuasa,

tetapi juga mengenal benar kemana arah perjalanan itu, dan tentunya bergaul

karib dengan DIA, Sang Penuntun perjalanan mereka.

Semoga setelah kembalinya ke fitrah, membuat Anda dan saya tidak hanya

menjadi bersih dan suci,

namun lebih dari itu, mengetahui untuk apa kita hadir didunia ini.

Sehingga tugas maha luas dan abstrak “menjadi rahmat bagi semesta” dapat

kita konkritkan dan tunaikan sebelum selesainya sisa waktu yang kita miliki.

cerita oleh : oleh Made Teddy Artiana, S. Kom dalam http://hampala.multiply.com/journal/item/6635

early inspiration from dumay

Siapa bilang berjalan di dumay (dunia maya) mengerikan ??? … Boleh saja kamu berpendapat demikian karena mungkin kamu punya pengalaman buruk dengan dumay, aku tak menyalahkan meski aku berpendapat lain, karena di dumay aku banyak menemukan “something” tentang kemudahan, keindahan dan kebaikan. Yeah, actually depens on us juga sih. Seperti kunjunganku pagi ini, aku menemukan dua catatan dan cerita yang sangat inspiratif, dan as usual, I will share to you too …

Bacalah 1 Menit Saja, Bisa Mengubah Hidupmu 10 TAHUN Kedepan

# MENGUBAH DUNIA


“Ketika aku muda, aku ingin mengubah seluruh dunia. Lalu aku sadari, betapa sulit mengubah seluruh dunia ini, lalu aku putuskan untuk mengubah negaraku saja. Ketika aku sadari bahwa aku tidak bisa mengubah negaraku, aku mulai berusaha mengubah kotaku. Ketika aku semakin tua, aku sadari tidak mudah mengubah kotaku. Maka aku mulai mengubah keluargaku. Kini aku semakin renta, aku pun tak bisa mengubah keluargaku. Aku sadari bahwa satu-satunya yang bisa aku ubah adalah diriku sendiri.

Tiba-tiba aku tersadarkan bahwa bila saja aku bisa mengubah diriku sejak dahulu, aku pasti bisa mengubah keluargaku dan kotaku. Pada akhirnya aku akan mengubah negaraku dan aku pun bisa mengubah seluruh dunia ini.”

Tidak ada yang bisa kita ubah sebelum kita mengubah diri sendiri. Tak bisa kita mengubah diri sendiri sebelum mengenal diri sendiri. Takkan kenal pada diri sendiri sebelum mampu menerima diri ini apa adanya.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ” QS 13:11

# KISAH DARI SEORANG PETANI

Dahulu kala, ada seorg petani miskin memiliki seekor kuda putih yg sangat cantik & gagah.
Suatu hari, seorg saudagar kaya ingin membeli kuda itu & menawarkan harga yg sangat tinggi. Sayang si petani miskin itu tidak menjualnya. Teman-2 nya menyayangkan & mengejek dia karna tdk menjual kudanya itu.

Keesokan hari nya, kuda itu hilang dr kandangnya. Maka teman-2 nya berkata : sungguh jelek nasibmu, padahal klo kemarin di jual kamu kaya, skrg kudamu sdh hilang. Si petani miskin hanya diam saja.

Beberapa hari kemudian, kuda si petani kembali bersama 5 ekor kuda lainnya. Lalu teman-2 nya berkata : wah beruntung sekali nasibmu, ternyata kudamu membawa keberuntungan. Si petani hanya diam saja.

Beberapa hari kemudian, anak si petani yg sedang melatih kuda-2 baru mereka terjatuh dan kakinya patah. Teman-2 nya berkata : rupanya kuda-2 itu membawa sial, lihat skrg anakmu kakinya patah. Si petani tetap diam tanpa komentar.

Seminggu kemudian terjadi peperangan di wilayah itu, semua anak muda di desa dipaksa utk berperang, kecuali si anak petani karna tdk bisa berjalan. Teman-2 nya mendatangi si petani sambil menangis : beruntung sekali nasibmu karna anakmu tdk ikut berperang, kami hrs kehilangan anak-2 kami.

Si petani kemudian berkomentar : Janganlah terlalu cepat membuat kesimpulan dgn mengatakan nasib baik atau jelek, semuanya adalah suatu rangkaian proses. Syukuri & terima keadaan yg terjadi saat ini, apa yg kelihatan baik hari ini belum tentu baik utk hari esok. Apa yg buruk hari ini belum tentu buruk utk hari esok.


Tetapi yg PASTI :

Tuhan paling tahu yg terbaik buat kita.. Bagian kita adalah :
“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Tuhan di dalam hidup kita”

sumber cerita : DuniaPustaka.com Tempat Download Buku Gratis

.: glory jane :.

huahua demam korea juga melanda diriku dan ni dia Glory Jane yang selalu bikin penasaran after full house yang meski sudah nonton berkali-kali tetap saja say not untuk kata “bosan” hhheheee … :)))))))

me sedang mengikuti :

n buat yang juga selalu penasaran, sinopsisnya di sini : http://recap-koreandrama.blogspot.com/2011/10/sinopsis-man-of-honor.html

.: Anak Kaki Gunung :.


Ini dia serial  yang jadi favorit orang rumah termasuk aku.  Serial TV karya Dedi Mizwar yang diangkat dari sebuah novel karya Tere Liye yang berjudul Anak-anak Mamak. Oh iya ngomong-ngomong tentang Tere Liye dia kan penulis hebat, aku suka karya-karyanya apalagi kan baru-baru ini Hafalan Surat Delisa-nya juga eksis tu di bioskop-bioskop tanah air. wah congrat n trus berkarya ya … salute ^^d.

Kembali ke komunitas anak kaki gunung, ini serial istimewa yang sangat layak nonton buat kita semua. Banyak pesan moral yang sayang untuk dilewatkan. Selain itu, kisah keluarga sederhana dan bahagia Pak Syahdan dan Mak Nur beserta empat orang anak-anaknya Eliana, Pukat, Burhan dan Amelia yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Keluarga bahagia  ini tinggal di sebuah kampung di kaki gunung Singgalang, Sumatera Barat,  yang jauh dari perkotaan. Hanya ada satu Sekolah Dasar yang bangunannya sudah tampak memprihatinkan, dan seorang guru bernama Pak Taufik yang mengajar.Seorang guru bantu/honorer yang sudah mengabdi selama 15 tahun. “Belum PNS”, kata Pak Taufik satu ketika pada seorang penyidik kepolisian dari kota di salah satu episode. Murid setiap kelas tidak lebih dari delapan orang. Di samping itu, Eliana, Pukat, Burhan, dan Amelia, bersama teman-temannya, setiap malam juga mengaji pada seorang guru mengaji yang mereka panggil dengan sebutan Nek Kiba , satu-satunya guru mengaji di kampung itu yang menolak pemberian dari setiap anak didiknya dengan alasan tak menjual ilmu agama yang dianugerahkan padanya. Selain itu, persahabatan indah antara ke empat kakak beradik ini dengan teman-temannya merupakan nilai tambah serial ini, yang diharapkan dapat menjadi tontonan yang menarik dan mendidik khususnya buat anak-anak. Anak Kaki Gunung, anak-anak yang peka terhadap alam dan makhluknya, yang selalu dapat mengatasi berbagai masalah dengan kearifan sebagaimana yang diajarkan oleh orang tua dan guru-gurunya. Kisah-kisahnya diramu secara apik dan menarik, sangat inspiratif tanpa kesan menggurui.

ost. Anak kaki Gunung

Gigi – Sahabat

Terimakasih kawan teman baikku
Kau membuatku senang, membuat ceria
Sahabat paling sejati selalu

Persahabatan kita kisah klasikku
Tahun bulan dan hari kita lalui
Sahabat paling sejati selalu

Syalala aku gembira
Syalala selalu tertawa
Syalala aku bahagia
Syalala bersama

Jatuh bangun bersama selama ini
Suka duka bersama selama ini
Sahabat paling sejati selalu

Syalala aku gembira
Syalala selalu tertawa
Syalala aku bahagia
Syalala bersama

Sahabat paling sejati selalu

Syalala aku gembira
Syalala selalu tertawa
Syalala aku bahagia
Syalala bersama

.: Setitik terang dalam setiap kesulitan (Rahasia Hidup Bahagia) :.

Alhamdulillah sangat, sesuatu banget, nge-cek n re-cek kotak inbox nemu kiriman kisah yang sangat “sesuatu” … inspiratif plus sukses bikin hati ku meleleh … tapi penuh rasa bahagia. Dan karenanya diriku ingin berbagi kebahagiaan ke kamu Anda dan kalian yang akhirnya juga membacanya. Ok Ok Okay !!! siiiiiiip

Bismillah, …

 

MotivasiHidup.Tk – Suatu kala, ada seorang yang cukup terkenal akan kepintarannya dalam membantu orang mengatasi masalah. Meskipun usianya sudah cukup tua, namun kebijaksanaannya luar biasa luas. Karena itulah, orang berbondong-bondong ingin bertemu dengannya dengan harapan agar masalah mereka bisa diselesaikan.

Setiap hari, ada saja orang yang datang bertemu dengannya. Mereka sangat mengharapkan jawaban yang kiranya dapat menjadi solusi bagi permasalahan yang sedang mereka hadapi. Dan hebatnya, rata-rata dari mereka puas akan jawaban yang diberikan. Tidak heran, kepiawaiannya dalam mengatasi masalah membuat namanya begitu tersohor.

Suatu hari, seorang pemuda mendengar pembicaraan orang-orang di sekitar yang bercerita tentang orang tua tersebut. Ia pun menjadi penasaran dan berusaha mencari tahu keberadaannya. Ia juga ingin bertemu dengannya. Ada sesuatu yang sedang mengganjal di hatinya dan ia masih belum mendapatkan jawaban. Ia berharap mendapatkan jawaban dari orang tua tersebut.

Setelah berhasil mendapatkan lokasi tempat tinggal orang tua itu, ia bergegas menuju ke sana. Tempat tinggal orang tua tersebut dari luar terlihat sangat luas bagai istana.

Setelah masuk ke dalam rumah, ia akhirnya bertemu dengan orang tua bijaksana tersebut. Ia bertanya, “Apakah Anda orang yang terkenal yang sering dibicarakan orang-orang mampu mengatasi berbagai masalah?”

Orang tua itu menjawab dengan rendah hati, “Ah, orang-orang terlalu melebih-lebihkan. Saya hanya berusaha sebaik mungkin membantu mereka. Ada yang bisa saya bantu, anak muda? Kalau memang memungkinkan, saya akan membantu kamu dengan senang hati.”

“Mudah saja. Saya hanya ingin tahu apa rahasia hidup bahagia? Sampai saat ini saya masih belum menemukan jawabannya. Jika Anda mampu memberi jawaban yang memuaskan, saya akan memberi hormat dan dua jempol kepada Anda serta menceritakan kehebatan Anda pada orang-orang,” balas pemuda itu.

Orang tua itu berkata, “Saya tidak bisa menjawab sekarang.”

Pemuda itu merengut, berkata, “Kenapa? Apakah Anda juga tidak tahu jawabannya?”

“Bukan tidak bisa. Saya ada sedikit urusan mendadak,” balas orang tua itu. Setelah berpikir sebentar, ia melanjutkan, “Begini saja, kamu tunggu sebentar.”

Orang tua itu pergi ke ruangan lain mengambil sesuatu. Sesaat kemudian, ia kembali dengan membawa sebuah sendok dan sebotol tinta. Sambil menuangkan tinta ke sendok, ia berkata, “Saya ada urusan yang harus diselesaikan. Tidak lama, hanya setengah jam. Selagi menunggu, saya ingin kamu berjalan dan melihat-lihat keindahan rumah dan halaman di luar sambil membawa sendok ini.”

“Untuk apa?” tanya pemuda itu dengan penasaran.

“Sudah, jangan banyak tanya. Lakukan saja. Saya akan kembali setengah jam lagi,” kata orang tua itu seraya menyodorkan sendok pada pemuda itu dan kemudian pergi.

Setengah jam berlalu, dan orang tua bijak itu pun kembali dan segera menemui pemuda itu.

Ia bertanya pada pemuda itu, “Kamu sudah mengelilingi seisi rumah dan halaman di luar?”

Pemuda itu menganggukkan kepala sambil berkata, “Sudah.”

Orang tua itu lanjut bertanya, “Kalau begitu, apa yang sudah kamu lihat? Tolong beritahu saya.”

Pemuda itu hanya diam tanpa menjawab.

Orang tua itu bertanya lagi, “Kenapa diam? Rumah dan halaman begitu luas, banyak sekali yang bisa dilihat. Apa saja yang telah kamu lihat?”

Pemuda itu mulai bicara, “Saya tidak melihat apa pun. Kalau pun melihat, itu hanya sekilas saja. Saya tidak bisa ingat sepenuhnya.”

“Mengapa bisa begitu?” tanya orang tua itu.

Sang pemuda dengan malu menjawab, “Karena saat berjalan, saya terus memperhatikan sendok ini, takut tinta jatuh dan mengotori rumah Anda.”

Dengan senyum, orang tua bijak itu berseru, “Nah, itulah jawaban yang kamu cari-cari selama ini. Kamu telah mengorbankan keindahan rumah yang seharusnya bisa kamu nikmati hanya untuk memerhatikan sendok berisi tinta ini. Karena terus mengkhawatirkan tinta ini, kamu tidak sempat melihat rumah dan halaman yang begitu indah. Rumah ini ada begitu banyak patung, ukiran, lukisan, hiasan dan ornamen yang cantik. Begitu juga dengan halaman rumah yang berhiaskan bunga-bunga warna-warni yang bermekaran. Kamu tidak bisa melihatnya karena kamu terus melihat sendok ini.”

Ia melanjutkan, “Jika kamu selalu melihat kejelekan di balik tumpukan keindahan, hidup kamu akan dipenuhi penderitaan dan kesengsaraan. Sebaliknya, jika kamu selalu mampu melihat keindahan di balik tumpukan kejelekan, maka hidup kamu akan lebih indah. Itulah rahasia dari kebahagiaan. Apakah sekarang sudah mengerti, anak muda?”

Pemuda itu benar-benar salut atas kebijaksaan dari orang tua itu. Ia sungguh puas dengan jawabannya. Akhirnya ia menemukan jawaban yang selama ini ia cari. Sebelum pergi, ia menepati janjinya dengan memberi hormat dan dua jempol kepada orang tua tersebut.

Sobat Motivasi…Dalam hidup ini, alangkah baiknya kita tidak menjerumuskan diri kita ke dalam keterpurukan. Selalu ada hal positif yang bisa kita ambil. Jangan mengorbankan keindahan hidup hanya untuk melihat sisi jeleknya. Jadilah orang yang senantiasa melihat setitik terang di dalam gelap.

SUMBER: Suhardi – andriewongso.com

special tingkyu yg banyak buat mbak Yenni Asbur dan kafe-muslimah@yahoogroups.com yang selalu berbagi kisah inspiratif … jazaakumullah ^_*

…..

for d last, aku akan menyematkan “sesuatu” dari Chiken Soup – kalimat yang sangat kusukai karena sesuatunya dan berharap semoga bisa menjadi sesuatu buat semua^^d

Bahagian terpenting dari Hidup adalah Menemukan Kebahagiaan dalam segala Hal

… sesuatu kan ??? …………. ^^d

.: Baru Ditanam sudah Berbuah :.

Zaitun

Zaitun (Photo credit: galigo)

Alkisah seorang Raja dari Negeri Parsi bernama Nusyirwan, suatu hari berkeliling diiringi oleh beberapa orang pembesar kerajaan. Beliau menyamar sebagai orang biasa.  Sang Raja hendak melihat bagaimana kehidupan rakyatnya sehari-hari. Di tengah perjalanan, dilihatnya seorang lelaki paruh baya-seorang kakek-di dalam kebunnya.
Sang Raja tampak keheranan menyaksikan kakek tersebut sedang menanami kebunnya bukan dengan tanaman sayur-sayuran atau pun tanaman berumur pendek lainnya, melainkan tanaman berumur panjang. Diliputi rasa penasaran, akhirnya Sang Raja menghampiri Kakek tersebut.
“Assalamu ‘alaikum, wahai kakek” ujar sang Raja
“Oh…wa’alaikum salam” jawab si kakek terkejut. Penglihatannya yang sudah kabur sejenak memperhatikan lelaki yang tak dikenalnya itu.
“Sedang menanam apa, Kek?”tanya sang Raja kemudian
“Menanam Zaitun.” jawab kakek
“Zaitun… ?”ulang Raja. Semakin heran
“Kakek menanam Zaitun sedang kakek sudah tua, kapan Kakek akan menikmati buahnya ? tanya Sang Raja lagi.
Si kakek tertawa
. Tak tampak sebiji gigi pun di rahangnya.
“Saya maklum wahai anak muda”jawab Kakek mantap. “tetapi bukankah nenek moyang kita dahulu juga begitu ? ia menanam tanaman berumur panjang bukan untuk dirinya, melainkan untuk anak cucunya. Demikian pula yang saya lakukan.”
“sungguh luar biasa jawaban kakek” sahut Sang Raja kagum
“Ini.., Kek. Terimalah hadiah dari saya.” lanjut Sang Raja dan memberikan beberapa keping mata uang kepada si kakek yang disambutnya penuh hormat dan ucapan terima kasih. Ia pun tertawa
.
” mengapa kakek tertawa ?” tanya raja heran
“seperti yang tuan saksikan, biji yang saya tanam baru saja saya masukkan ke dalam tanah, tetapi sudah memberikan hasil (berbuah) yang lumayan. Nampaknya Tuan bukan sembarang orang.” Jawab kakek
Raja sangat kagum mendengar jawaban kakek tersebut. “rupanya otak tua itu kadang-kadang cemerlang juga ya Kek ?”ujar sang raja
“maklum sudah berpuluh tahun diasah”sahut kakek
Raja merogoh sakunya lagi, kagum mendengar jawaban Si Kakek.”ini saya tambah lagi hadiahnya” ujar Baginda Nusyirwan sambil memberikan beberapa keping dinar emas. Melihat kepingan itu, maka tertawalah kakek tersebut lebih keras lagi sehingga seluruh rahangnya yang ompong kelihatan.
“saya sudah terima hasil pohon ini untuk lima tahun panen nantinya” katanya. “saya doakan semoga Tuan diberkahi Allah SWT, lanjut umur dan bahagia. Barangkali Tuan seorang pembesar penting dalam kerajaan dan maafkanlah saya kalau salah menghormati Tuan” lanjutnya panjang lebar.
Baginda Nusyirwan semakin terpikat mendengar perkataan si kakek. Dirogohnya pundi-pundinya. Beberapa keping dinar emas meluncur lagi ke telapak tangan si kakek.
“terima kasih tuan, sudah saya terima upah untuk seumur hidup saya, insyaallah saya tidak akan kekurangan lagi. Saya yakin tuan adalah Raja negeri ini, sebab tak ada orang yang lebih pemurah darpada Tuan. Semoga Allah memberkahi umur panjang kepada Tuan dan menjadi pemimpin yang bijaksana yang mensejahterakan rakyatnya” Ucap Si kakek.
Akhirnya Baginda Nusyirwan berpamitan pada si kakek berotak cemerlang yang berpikir jauh ke depan
. Ia berbuat bukan untuk pribadinya, tapi lebih dari itu untuk generasi selanjutnya.

***. Kisah ini di kutip dari sebuah buku kecil bersampul hijau muda, dengan judul yang sama Baru ditanam sudah berbuah”. Kisah yang selalu menjadi favoritku.

***. kemudian di akhirnya aku sematkan petuah yang sangat bijak ” Jangan Hutan yang meninggalkan Kakek, tapi Kakek yang meninggalkan Hutan.

***. Baru ditanam sudah berbuah ^^d

segenggam garam dari seorang ajengan

Seorang pemuda kembali ke kampung halamannya untuk menemui seorang kakek yang tak lain adalah gurunya. Seorang ajengan yang sangat dihormati. Kepada Si Kakek, pemuda tersebut menceritakan tentang penderitaan yang baru saja dialaminya. Setelah mendengar keluh-kesah muridnya, Sang Guru mengambil segenggam garam dan melarutkannya ke dalam segelas air. “minumlah” kata beliau kemudian … dan pemuda itupun meminumnya. “Bagaimana rasanya ?”, lanjutnya… “asin, pahit, Guru …!!!” jawab si pemuda.

 

Kemudian Si Kakek mengajak pemuda tersebut ke tepi sebuah telaga. Sesampai di tempat yang dimaksud, Si Kakek kembali mengeluarkan segenggam garam dan menaburkannya ke dalam telaga dan mengaduknya dengan sepotong kayu. “minumlah” kata Si Kakek. Dengan rasa penasaran bercampur ragu, pemuda itu pun mengambil segenggam air telaga dan meminumnya. “Rasanya seperti apa ?” tanya si Kakek kembali. “Wah, segarrrr …, Guru!!!” seru si Pemuda.

 

Akhirnya Sang Guru berkata dengan bijaknya : “Nak, pahitnya kehidupan ini layaknya segenggam garam. Tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa asin itu adalah sama, tetapi rasa asin yang kita rasakan sangat tergantung dari wadah tempat kita meletakkan perasaan itu … dan wadah itu adalah HATI”.

courtessy of : Mandiri Pettarani episode : antrian dpn CS -menghabiskan 1/3 pagiku di awal Oktober ini tingkyu-so much …  mmmuach, ternyata menunggu tak selamanya membosankan…ya ya ya ^^d …

tingkyu tingkyu tingkyu so much ^__^