The Masterpiece

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Mahakarya bocah-bocah lincah, hanya bisa tersenyum melihatnya … Terus berkarya ya … lanjutkan kreativitas kalian. Apapun yang terlintas di benak kalian, wujudkan ia tak mengapa handphone dipenuhi lukisan abstrak, dinding rumah seperti tembok lorong asal bakat kalian terus terasah 😙😙😙

 

Judulnya hanya menemani

Di satu malam di pertengahan bulan Mei 2016, saya memposting di salah satu akun medsos saya beberapa foto jejak perjalanan ke Pantai Akkarena di siang harinya. Judulnya sih cuma menemani tamu dari Jakarta dan niat awalnya bukan ke Akkarena, tapi ke Pulau Samalona. Berhubung niat awal tak kesampaian , jadilah kami ke Akkarena. Meski kedatangan kami disambut angin laut yang super kuenceng, tak menyurutkan semangat gifo kami :)))))

#cheeeeerrrrs #Turis-turis #nekat

Cukup pahami kami yang hanya ingin mengabadikan #kenangan

 

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

“kucing batuk” ;)

Yaaaa ada kucing batuk !!!
Hahahahaaa kebodohan masa kecil yang menggelikan. Rasanya di masa itu belum sekalipun aku pernah melihat “kucing batuk” tapi …
Entah mendapat bisikan dari mana, Udin, kakak pertama kami tiba-tiba memproklamirkan istilah itu. Dan dasar kami prajurit-prajurit kecil yang payah, begitu mendengar seruan itu akan refleks berlari menjerit ketakutan mencari perlindungan pada orang tua atau mengikuti arah kakak kami yang sudah lebih dulu berlari, entah dia benar-benar merasakan ketakutan seperti kami, tapi setelah beberapa tahun lamanya, sejak istilah itu perlahan menghilang seiring pertambahan usia kami. Saat aku membukanya kembali sebagai kenangan, saat itu aku pun yakin kalau itu hanyalah keisengannya semata.
3bf84c69_o
Begitu banyak kenangan, namun ketakutan kami pada kucing batuk, sepertinya ratingnya selalu tinggi. Kesannya mungkin sangat tak masuk akal, tapi ya namanya juga anak-anak. Mendengar seruan itu, sama saja dengan mendengar kakak kami berkata ada hantu atau monster berwajah seram seperti yang biasa kami lihat di televisi. Alhasil monster khayalan si kakak sukses membuat kami menjerit. Karakter Si Kucing Batuk yang menyeramkan benar-benar terekam di memori kami waktu itu. Apalagi jika seruan itu diucapkan di malam hari, saat pemadaman listrik dan kami duduk mengelilingi sebatang lilin. Di tengah celotehan kami yang selalu asyik, tiba-tiba Si Kakak berseru “ada kucing batuk” dan seketika itupun kami menjerit, berhamburan mencari nenek, mama atau bapak.
Masa-masa kecil yang lucu dan bahagia. Aku tampak seperti orang gila saat mengingatnya, tertawa sendiri namun airmata pun tak kuasa menahan diri. Awas kau kucing batuk !!!

aku memilih Bapakku

Tak ada pancong pukis pun jadi. Hmmm … aroma khas yang menguar saat melintas dekat pembakaran sukses bikin perut berbahasa kriuk-kriuk minta segera diisi. Hehehee …

Dulu alm. Bapak juga suka skali, menghangatkan pagi dengan kue pukis dan teh hangat. Tapi lebih dari itu, entah bapak suka atau tak pada semua makanan yang kami, anak-anaknya santap, sisanya selalu dihabiskannya. Itulah salah satu alasan mengapa Si Bapak memilih makan paling akhir, agar bisa menghabiskan makanan yang tersisa dari piring-piring kami. Bapak sangat tak suka membuang-buang makanan dan demikianlah Beliau mengajarkan pada kami dengan caranya.

Mengajarkan baca Qur’an dengan tangannya sendiri, menghibur kami dengan cerita-cerita lucu karangannya sendiri dan lagu-lagu favoritnya meskipun kata Nenek suaranya fals dan tak ngerti nada. Tapi bukan Bapak kami namanya kalau goyah, sebaliknya “lanjut terus”. Bapak kami yang tabah dan kuat meski beberapa orang tak menganggapnya tapi dibalas senyum olehnya. Kepergiannya menyisakan banyak cerita dan kenangan, cinta yang banyak dari keluarga, sahabat dan rekan-rekannya dan yang terpenting [penyesalan] dari mereka yang sebelumnya tak menganggapnya.

Rest in peace dear Bapak. Semoga Allah mengampuni segala dosa-dosamu, melapangkan alam kuburmu, dan dijauhkan dari siksa kubur dan azab neraka. Aamin.


Mengapa aku memilih Bapakku untuk menjadi papaku ??? … kurasa semua  tahu jawabannya.

reuni semalam

Sore hari, Kamar 606 Imperial Aryaduta merekam moment hangat itu, meski air condition menebar suhu yang cukup dingin. Tujuh tahun memang bukan waktu yang singkat untuk sebuah kata bernama perpisahan. Dan di kamar inilah, kemudian kehangatan itu kembali tersenyum. Cipika-cipiki, say hai kabar masing-masing and then mengalirlah cerita-cerita lama yang selalu indah untuk dikenang.

Diiringi tawa dan celoteh bocah-bocah lincah yang tak mau kalah, topik apapun dalam perbincangan ini terasa seru. Bahkan kamar yang sudah seperti kapal pecah akibat ulah para bocah-bocah lincah pun membuat pertemuan makin seru.

Tak terasa, waktunya shalat maghrib. Kami pun bergegas memenuhi seruan Nya. Usai menunaikan kewajiban 3 rakaat, aku tergoda untuk menyeduh segelas kopi. Ku tuang sebotol air mineral 150 ml ke dalam ketel fasilitas hotel untuk memanaskan air. Hmmm … aroma kopi yang khas semakin menggoda saat diseduh. Kutambah sebungkus creamer dan gula. Hmmm … rasanya benar-benar nikmat. Tak salah jika aroma dan rasanya masih melekat sampai saat ini.

Selanjutnya, atas kesepakatan semua pihak, reunian berlanjut ke Es Teler 77 di seberang jalan.

Udara dan angin malam Pantai Losari yang mammiri sepoi-sepoi sungguh menyenangkan. Selengkung bulan sabit tipis di atas kubah Masjid terapung laksana garnish semakin mempercantik suasana malam itu. Aku sukaaaaaa

Hasfi SHutRudi AshadiAsmar SayutiNiar DanyahAlma SalmawatiДушата Майка, dan aku. Sayang banyak yang tak bisa datang, dadakan sih. Aku juga taunya tak lama sebelum akhirnya memutuskan untuk bergabung. Kapan lagi kan.

 

 

dengan berjalan miring seperti kepiting kurasa dan ke dua tangannya disilang kebelakang, mata melirik-gaya khasnya klo ada hal aneh yang dilakukannnya-ke arahku, dipikirnya mungkin aku, eki dan ibunya akan marah kali ini, seperti biasa kalau kenakalannya tak bisa kami kendalikan hohoho … tapi kali ini, meski aku tahu ada [sesuatua] yang disembunyikannya di balik dua tangan mungilnya itu, aku benar-benar tak bisa menahan tawa melihat ekspresinya  wkwkwkkkk …

dasar bocah :-p

nda’ profesionalko ceweTTT *colek Alma Salmawati Fadhliyah Muhammad Yusuf Isra Icca Ibhe … masih perluko belajar #nailainaction :-p

bingkai kenangan

go back in time, dimana semua cerita tentang kita, tentang indahnya sebuah kebersamaan, tersusun rapih dalam sebuah frame bernama kenangan. kenangan manis, seperti manisnya permen yang dulu sering kau hadiahkan untuk kami. Dan kenangan indah, seperti selengkung senyum yang mengantar langkah kami ke sekolah. Kenangan yang selalu hangat dalam dekapan memori, sehangat kue pancong di sore hari.

analekta and me

Menghangatkan sore dengan sepiring kue pancong. Bersama bapak tersayang, menikmati hangatnya setiap gigitan. Maklumlah kue pancongnya baru saja di angkat dari pembakarannya. Tapi justru di situlah kenikmatannya, karena rasa  dan aroma kelapanya yang kuat akan lebih berasa saat masih hangat. Dan kehangatan inilah yang kemudian membawaku kembali ke masa kanak-kanak dulu yang di sana ada Bapak, kakak, aku, adik dan si jeruk. adalah Si jeruk motor honda bapak yang menjadi saksi sejarah keberlangsungan hidup Bapak dan keluarga sederhananya. Di masa kanak-kanak, tepatnya saat berseragam hijau-kuning, disitulah awal perkenalanku dengan si kue pancong atau yang lebih familiar kami sebut buroncong. Boruncong adalah menu wajib untu isian kotak makanan kami. Di perjalanan menuju sekolah, ayah selalu menghentikan si jeruk di samping sebuah gerobak buroncong seorang kakek paruh baya. Terkadang kami protes juga, soalnya teman-teman sekolah isi kotak makannya selalu berganti-ganti, sementara kami setiap hari, dari senin sampai senin berikutnya …

Lihat pos aslinya 335 kata lagi

Cerita dari pete-pete

Gadis penjaga toko, ku kira sudah dua kali aku seperjalanan_satu pete-pete_ dengannya. Yup betul, meski ada banyak wajah dan gaya penumpang yang setiap hari mengejar pete-pete nol lima tapi pada si Gadis Penjaga Toko ini ingatanku masih bisa diandalkan 🙂 . Aku masih ingat di dua perjalanan sebelumnya dengan rambut tergerai sebahu dan sebuah jepitan sederhana yang tersemat di rambut. Hmmm, entah ini baik atau tidak ya tapi pada penumpang yang lain pun aku juga mengamati sepintas juga, apalagi kalau mereka naiknya belakangan, bahkan tak jarang aku terlibat pembicaraan dengan mereka. Tapi paling tidak aku juga punya alasan mengapa aku sering mengamati beberapa penumpang, selain bentuk kewaspadaan pada hal-hal yang tak diinginkan, tak jarang pula aku bertemu teman , tetangga di dalam angkot hhehee. Oh iya, yang ku maksud dengan hal-hal yang tak diinginkan itu, aku pun punya pengalaman buruk yang na’udzubillah semoga tak terulang lagi.

Jadi, di satu sore sepulang dari tempat kerja yang lama, aku itu ternyata satu angkot dengan sindikat copet. Aku naik lebih dulu dari seorang laki-laki yang kemudian duduk di sebelahku hampir bersamaan dengan seorang gadis yang kemudian duduk berhadapan dengan laki-laki tersebut. Sepanjang jalan laki-laki ini terus berlagak seolah-olah sedang menelpon seseorang dengan handphone di tangannya sambil sesekali digoyangkan. “no signal”, katanya. Begitu seterusnya sampai kemudian Sopir angkot kembali menaikkan seorang penumpang laki-laki yang kemudian duduk dekat pintu, sebangku dengan gadis tadi namun diapit oleh seorang penumpang lain. Baru saja beberapa meter angkot berjalan, si penumpang yang baru naik ini tiba-tiba merasa mual dan muntah meski dari mulutnya tak mengaluarkan cairan apapun dan tak lama kemudian meminta angkot berhenti dan turun. Pete-pete kemudian berjalan kembali setelah menurunkan laki-laki yang telah menyita sejenak perhatian kami, namun tak lama berselang, Si gadis yang duduk berhadapan dengan lelaki yang sedari tadi sibuk dengan handphone nya tiba-tiba berseru kehilangan handphone nya yang membuat seisi angkot panik termasuk lelaki di sebelahku yang kemudian menjatuhkan sebuah handphone ke bawah tempat duduknya. “Hp ku !!! … kenapa bisa ada di situ ??? ” kata si gadis sambil menunjuk ke bawah tempat duduk si lelaki. Pak Sopir kemudian menghentikan angkot yang ternyata di tempat yang sama banyak rekan-rekan sesamanya para sopir sedang beristirahat. Mengetahui insiden di dalam pete-pete mereka hampir saja menurunkan si lelaki dan mengeroyoknya tapi dengan memasang wajah tak berdosanya meski tampak ketakutan pun lelaki ini berdalih tak sengaja. Untung saja bapak-bapak sopirnya baik sehingga lelaki ini selamat dari aksi pengeroyokan. Kembali ke pete-pete, usut punya usut ternyata aksinya dimulai saat lelaki yang muntah yang ternyata adalah rekannya mengusik perhatian kami. Kami hanya memperhatikan dia muntah tapi tak memperhatikan tangannya yang ternyata menepuk bahu si gadis agar si gadis terhipnotis dan lelaki yang duduk disebelahku bisa mengambil handphone di tas kecil si gadis. Sentuhan magic yang sudah terasah tentunya, namun kata si gadis ternyata tak cukup berhasil karena si gadis yang kebetulan sedang berpuasa-puasa sunnat mungkin-tak lupa mengingat Allah katanya. Subhanallah, Allah Maha Besar. dan ganjarannya ia  tahu bahwa Allah Maha Melihat, Maha Melindungi.

Oh, iya balik lagi ke gadis penjaga toko yang entah ia pun melakukan hal yang sama sepertiku atau tidak it’s okay lah karena aku kan punya argumen yang cukup untuk menguatkan pengamatan yang mungkin ada sebagian orang yang menganggap aneh meski aku merasa itu wajar dan sah-sah saja. Yup karena selain alasan-alasan tadi itu dengan pengamatan seperti ini aku bisa mengasah dan memperkaya kepekaan, rasa, ingatan, pengalaman dan yang terpenting memperkaya Analekta-ku tentunya hhehee …

Di pertemuan ke tiga dengan si gadis penjaga toko ini, ada sesuatu yang beda tampaknya. Rambut yang sebelumnya lurus tergerai itu, sekarang terbalut rapi  sebuah jilbab paris berwarna hitam. Alhamdulillah, segala puji Sang Pemberi hidayah. Semoga tetap istiqomah. Amin.

***. pete-pete it’s angkot, di makassar kami menyebutnya demikian oh iya penyebutannya pete’-pete’ … jangan salah ya 🙂

Mom

lirik by Art2tonic-Bunda

Adakah hidup yang sempurna

Bagai dongeng kecilku dulu

Teringat ku hadirmu Bunda

Manjakan ku di kecil dulu

 

Tak pernah kuingin menjauh

Tahukah kau akan rinduku

Sujud ampunkanlah dosaku

Melukai hatimu, Bunda

Apakah tergetar hatimu

Disini anakmu terjatuh

Tak ada tempatku mengadu

Tangisku dalam sendiriku

 

Tak ada setulus cintamu

Tak ada seteduh pelukmu

Rinduku hadirmu Oh Bunda

Tidurkanku dalam pelukmu

tentang suatu malam yang hening, in my home sweet home. Duduk  bertengger di atas loteng (my fav. place, selain bedroom tentunya ), menikmati hembusan angin malam yang mammiri sepoi-sepoi dari segala ventilasi.

kucerna kata demi kata dari setiap lirik mu yang mengalun indah dari Si Merah (laptop andalan) … hiks hik hiks …  Bunda … kasihmu sepanjang masa, luv u so much ^_kiss’n’hug_^ 

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.