dobedo : dasar bocah

dengan berjalan miring seperti kepiting kurasa dan ke dua tangannya disilang kebelakang, mata melirik-gaya khasnya klo ada hal aneh yang dilakukannnya-ke arahku, dipikirnya mungkin aku, eki dan ibunya akan marah kali ini, seperti biasa kalau kenakalannya tak bisa kami kendalikan hohoho … tapi kali ini, meski aku tahu ada [sesuatua] yang disembunyikannya di balik dua tangan mungilnya itu, aku benar-benar tak bisa menahan tawa melihat ekspresinya  wkwkwkkkk …

dasar bocah :-p

nda’ profesionalko ceweTTT *colek Alma Salmawati Fadhliyah Muhammad Yusuf Isra Icca Ibhe … masih perluko belajar #nailainaction :-p

bingkai kenangan

go back in time, dimana semua cerita tentang kita, tentang indahnya sebuah kebersamaan, tersusun rapih dalam sebuah frame bernama kenangan. kenangan manis, seperti manisnya permen yang dulu sering kau hadiahkan untuk kami. Dan kenangan indah, seperti selengkung senyum yang mengantar langkah kami ke sekolah. Kenangan yang selalu hangat dalam dekapan memori, sehangat kue pancong di sore hari.

analekta and me

Menghangatkan sore dengan sepiring kue pancong. Bersama bapak tersayang, menikmati hangatnya setiap gigitan. Maklumlah kue pancongnya baru saja di angkat dari pembakarannya. Tapi justru di situlah kenikmatannya, karena rasa  dan aroma kelapanya yang kuat akan lebih berasa saat masih hangat. Dan kehangatan inilah yang kemudian membawaku kembali ke masa kanak-kanak dulu yang di sana ada Bapak, kakak, aku, adik dan si jeruk. adalah Si jeruk motor honda bapak yang menjadi saksi sejarah keberlangsungan hidup Bapak dan keluarga sederhananya. Di masa kanak-kanak, tepatnya saat berseragam hijau-kuning, disitulah awal perkenalanku dengan si kue pancong atau yang lebih familiar kami sebut buroncong. Boruncong adalah menu wajib untu isian kotak makanan kami. Di perjalanan menuju sekolah, ayah selalu menghentikan si jeruk di samping sebuah gerobak buroncong seorang kakek paruh baya. Terkadang kami protes juga, soalnya teman-teman sekolah isi kotak makannya selalu berganti-ganti, sementara kami setiap hari, dari senin sampai senin berikutnya …

Lihat pos aslinya 335 kata lagi

Cerita dari pete-pete

Gadis penjaga toko, ku kira sudah dua kali aku seperjalanan_satu pete-pete_ dengannya. Yup betul, meski ada banyak wajah dan gaya penumpang yang setiap hari mengejar pete-pete nol lima tapi pada si Gadis Penjaga Toko ini ingatanku masih bisa diandalkan 🙂 . Aku masih ingat di dua perjalanan sebelumnya dengan rambut tergerai sebahu dan sebuah jepitan sederhana yang tersemat di rambut. Hmmm, entah ini baik atau tidak ya tapi pada penumpang yang lain pun aku juga mengamati sepintas juga, apalagi kalau mereka naiknya belakangan, bahkan tak jarang aku terlibat pembicaraan dengan mereka. Tapi paling tidak aku juga punya alasan mengapa aku sering mengamati beberapa penumpang, selain bentuk kewaspadaan pada hal-hal yang tak diinginkan, tak jarang pula aku bertemu teman , tetangga di dalam angkot hhehee. Oh iya, yang ku maksud dengan hal-hal yang tak diinginkan itu, aku pun punya pengalaman buruk yang na’udzubillah semoga tak terulang lagi.

Jadi, di satu sore sepulang dari tempat kerja yang lama, aku itu ternyata satu angkot dengan sindikat copet. Aku naik lebih dulu dari seorang laki-laki yang kemudian duduk di sebelahku hampir bersamaan dengan seorang gadis yang kemudian duduk berhadapan dengan laki-laki tersebut. Sepanjang jalan laki-laki ini terus berlagak seolah-olah sedang menelpon seseorang dengan handphone di tangannya sambil sesekali digoyangkan. “no signal”, katanya. Begitu seterusnya sampai kemudian Sopir angkot kembali menaikkan seorang penumpang laki-laki yang kemudian duduk dekat pintu, sebangku dengan gadis tadi namun diapit oleh seorang penumpang lain. Baru saja beberapa meter angkot berjalan, si penumpang yang baru naik ini tiba-tiba merasa mual dan muntah meski dari mulutnya tak mengaluarkan cairan apapun dan tak lama kemudian meminta angkot berhenti dan turun. Pete-pete kemudian berjalan kembali setelah menurunkan laki-laki yang telah menyita sejenak perhatian kami, namun tak lama berselang, Si gadis yang duduk berhadapan dengan lelaki yang sedari tadi sibuk dengan handphone nya tiba-tiba berseru kehilangan handphone nya yang membuat seisi angkot panik termasuk lelaki di sebelahku yang kemudian menjatuhkan sebuah handphone ke bawah tempat duduknya. “Hp ku !!! … kenapa bisa ada di situ ??? ” kata si gadis sambil menunjuk ke bawah tempat duduk si lelaki. Pak Sopir kemudian menghentikan angkot yang ternyata di tempat yang sama banyak rekan-rekan sesamanya para sopir sedang beristirahat. Mengetahui insiden di dalam pete-pete mereka hampir saja menurunkan si lelaki dan mengeroyoknya tapi dengan memasang wajah tak berdosanya meski tampak ketakutan pun lelaki ini berdalih tak sengaja. Untung saja bapak-bapak sopirnya baik sehingga lelaki ini selamat dari aksi pengeroyokan. Kembali ke pete-pete, usut punya usut ternyata aksinya dimulai saat lelaki yang muntah yang ternyata adalah rekannya mengusik perhatian kami. Kami hanya memperhatikan dia muntah tapi tak memperhatikan tangannya yang ternyata menepuk bahu si gadis agar si gadis terhipnotis dan lelaki yang duduk disebelahku bisa mengambil handphone di tas kecil si gadis. Sentuhan magic yang sudah terasah tentunya, namun kata si gadis ternyata tak cukup berhasil karena si gadis yang kebetulan sedang berpuasa-puasa sunnat mungkin-tak lupa mengingat Allah katanya. Subhanallah, Allah Maha Besar. dan ganjarannya ia  tahu bahwa Allah Maha Melihat, Maha Melindungi.

Oh, iya balik lagi ke gadis penjaga toko yang entah ia pun melakukan hal yang sama sepertiku atau tidak it’s okay lah karena aku kan punya argumen yang cukup untuk menguatkan pengamatan yang mungkin ada sebagian orang yang menganggap aneh meski aku merasa itu wajar dan sah-sah saja. Yup karena selain alasan-alasan tadi itu dengan pengamatan seperti ini aku bisa mengasah dan memperkaya kepekaan, rasa, ingatan, pengalaman dan yang terpenting memperkaya Analekta-ku tentunya hhehee …

Di pertemuan ke tiga dengan si gadis penjaga toko ini, ada sesuatu yang beda tampaknya. Rambut yang sebelumnya lurus tergerai itu, sekarang terbalut rapi  sebuah jilbab paris berwarna hitam. Alhamdulillah, segala puji Sang Pemberi hidayah. Semoga tetap istiqomah. Amin.

***. pete-pete it’s angkot, di makassar kami menyebutnya demikian oh iya penyebutannya pete’-pete’ … jangan salah ya 🙂

Mom

lirik by Art2tonic-Bunda

Adakah hidup yang sempurna

Bagai dongeng kecilku dulu

Teringat ku hadirmu Bunda

Manjakan ku di kecil dulu

 

Tak pernah kuingin menjauh

Tahukah kau akan rinduku

Sujud ampunkanlah dosaku

Melukai hatimu, Bunda

Apakah tergetar hatimu

Disini anakmu terjatuh

Tak ada tempatku mengadu

Tangisku dalam sendiriku

 

Tak ada setulus cintamu

Tak ada seteduh pelukmu

Rinduku hadirmu Oh Bunda

Tidurkanku dalam pelukmu

tentang suatu malam yang hening, in my home sweet home. Duduk  bertengger di atas loteng (my fav. place, selain bedroom tentunya ), menikmati hembusan angin malam yang mammiri sepoi-sepoi dari segala ventilasi.

kucerna kata demi kata dari setiap lirik mu yang mengalun indah dari Si Merah (laptop andalan) … hiks hik hiks …  Bunda … kasihmu sepanjang masa, luv u so much ^_kiss’n’hug_^ 

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

dobedo : Naufal … munyu munyuuuuuu

” munyu munyu munyuuuuuuu … “

#. comment para fans :

Alma Salmawati manami gigixxxx

Fauziyah Muh Yusuf Ompongq tawwa tante,…

Fadhliyah Muhammad Yusuf nantipi pinjam giginya affan :-p

Alma Salmawati Gigix month nai kh maumi jg nbw tikus

Fauziyah Muh Yusuf Hahahaaaaaaaaa

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

kotak kenangan

Aku merelakanmu di satu senja.

Ikhlas, mungkin demikian aku memaknainya.

Menengok kembali ke satu masa, yang ada kamu bersamaku. Bahagia.

Tapi kemudian waktu dan usia kembali menyadarkanku,  kau tak lagi ada.

Kau pernah ada, meski kemudian pergi

Kau meninggalkanku, namun ku harap kelak ada yang kemudian kembali mengisi

kotak-kotak episode di hidupku dengan kenangan-kenangan baru

Kucoba berdamai dengan takdir, karena demikianlah hidup.

Selalu ada yang berubah dalam hidup ini..Melalui fase demi fase, kita semua

pasti berubah,

Ya … tak mungkin bisa kita memutar waktu, pun terus-menerus terkungkung dalam putaran bernama masa lalu.

Karena hidup itu berjalan ke depan, hingga akhirnya kelak di satu masa

kita bertemu dengan diri kita yang lebih dewasa.

Sementara kenangan-kenangan itu, biarkanlah tersimpan rapi dalam kotak-kotak kenangan, di relung hati kita.

.: nostalgia senja :.

Menghangatkan sore dengan sepiring kue pancong. Bersama bapak tersayang, menikmati hangatnya setiap gigitan. Maklumlah kue pancongnya baru saja di angkat dari pembakarannya. Tapi justru di situlah kenikmatannya, karena rasa  dan aroma kelapanya yang kuat akan lebih berasa saat masih hangat. Dan kehangatan inilah yang kemudian membawaku kembali ke masa kanak-kanak dulu yang di sana ada Bapak, kakak, aku, adik dan si jeruk. adalah Si jeruk motor honda bapak yang menjadi saksi sejarah keberlangsungan hidup Bapak dan keluarga sederhananya. Di masa kanak-kanak, tepatnya saat berseragam hijau-kuning, disitulah awal perkenalanku dengan si kue pancong atau yang lebih familiar kami sebut buroncong. Boruncong adalah menu wajib untu isian kotak makanan kami. Di perjalanan menuju sekolah, ayah selalu menghentikan si jeruk di samping sebuah gerobak buroncong seorang kakek paruh baya. Terkadang kami protes juga, soalnya teman-teman sekolah isi kotak makannya selalu berganti-ganti, sementara kami setiap hari, dari senin sampai senin berikutnya  isinya tetap sama. Buroncong. Tapi, bukan si bapak namanya kalau tak bisa meredam protes kecil kami. Bersama si jeruk dan oh iya satu lagi, si baju bosi-bosi, sweater andalan bapak bermotif garis-garis berwarna abu-abu dan merah dan keperakan untuk garis yang lebih kecil lagi , yang selalu membuat gaya atau pun cerita lucu yang membuat tawa kami kembali pecah dan akhirnya melupakan  tentang isi kotak makan.

Buroncong adalah kue tradisional yang terbuat dari bahan-bahan sederhana yang sangat mudah ditemukan di semua dapur, yaitu tepung terigu, parutan kelapa muda yang sebelumnya telah dibuang terlebih dahulu kulit kasarnya, gula pasir, dan sedikit garam sebagai perasa, oh iya biasa juga ada yang menambahkan backing powder. Nah, setelah  semua bahan lengkap, kemudian di satukan dalam satu wadah.Tuangkan air sedikit demi sedikit sampai adonan menjadi agak encer. Aduk sampai rata.
Setelah itu, tuang adonan ke dalam cetakan khusus buroncong berbentuk semi lonjong yang telah dipanaskan  terlebih dahulu di atas bara api/arang dan diolesi dengan margarin (namun, masih ada juga yang mengolesi cetakan dengan minyak kelapa dan memanfaatkan tulang pelepah daun pisangnya sebagai kuas). Tutup cetakan.
Setelah adonan berwarna agak kecoklatan, pertanda buroncong sudah matang. Nah siap untuk diangkat, biasanya menggunakan gancu.

Langit senja makin memerah, dan tak terasa buroncong di tangan sudah habis, di tangan Bapak pun  sudah berganti dan … hohoho senyum Bapak makin menghangatkan sore. Guratan-guratan  hidup di wajahnya sangat nyata. Uban di kepalanya pun saling berlomba. Usianya semakin senja, pun baju Bosi-bosi teman cerita kanak-kanak kami yang telah usang termakan usia. Si jeruk pun demikian, tak mampu melawan korosi yang menggerogoti. Itulah ketetapan hidup yang sifatnya fana, tak abadi. Namun, meski demikian kisah kanak-kanak kami bersama Bapak, si jeruk dan baju bosi-bosi selalu hangat dalam kenangan, sehangat buroncong sore ini. Kue sederhana yang selalu menghadirkan kehangatan dan kebahagiaan di hati kami yang akhirnya membuatku mengerti tentang satu hal bahwa “Bahagia itu Sederhana”.

Belajar menghargai setiap hal-hal kecil…belajar menghargai hal-hal sederhana, biar tau betapa bersahajanya KESEDERHANAAN…^ ^

*. Beranda, 30 April 2012. Menikmati kehangatan senja terakhir April.

.: mengikat rasa :.

Tapi terlepas dari penyakit lupa itu, toh hari ini galau dan tawa , sedih dan bahagia menyambangi rasaku hampir bersamaan yang akhirnya sukses membuatku teringat akan beberapa kisah yang kembali nyata memenuhi selasar pikiranku dan ohhhhhhhh … aku juga bingung harus mulai menguraikan dari mana karena semua seakan berlomba tapi ah, coba dululah lagian mending diungkapin juga biar dada lapang-lega habis kemarin pake acara lupa buang di laut pas trip ke Kodingareng kemarin hhehee …

Jum’at malam kemarin ke Rumah Sakit Awal Bros sama teman-teman jenguk istrinya K’ Andre yang habis lahiran anak ke dua. Sebelumnya, di malam jum’atnya sudah sepakat buat rame-rame ke RS nya dan dilanjutkan di pagi jum’atnya memberi kabar ke beberapa teman lagi kalau-kalau mereka mau bergabung, termasuk Dia si x-man yang sempat bikin galau, man … !!! Dan … ternyata dianya bilang … “insyaallah” dan itu berarti “ya” … oh no !!!

Satu pagi senin yang cerah, seorang sahabat tiba-tiba muncul dengan raut wajah sedih kontras dengan cuaca di luar jendela. Ia pun kemudian menceritakan kesedihannya padaku panjang lebar. Rumah tangganya kembali galau karena si misua (baca: suami) yang sangat posesif. Aku turut prihatin apalagi ada dua malaikat kecil yang telah meramaikan keluarga kecilnya, tapi sikap posesif si misua malah makin menjadi-jadi, dan ujung-ujungnya selalu menyalahkan isteri dan kariernya.  Hmmm …

Tepat sebulan Bapak keluar dari rumah sakit setelah sebulan lebih terbaring di rumah sakit karena penyakit jantung . Alhamdulillah semakin membaik, tapi masih harus rawat jalan. Kemarin ibu bilang Bapak sudah bisa sholat berdiri … Alhamdulillah, aku jadi terharu dan sangat bersyukur mendengarnya. Dan bahagia pun makin bertambah karena sakitnya Bapak, dua saudara laki-laki ku akhirnya berani bilang stop to smoke.  Demikianlah ada hikmah di balik  musibah.

Si Naufal, ponakanku yang umurnya baru empat bulan, masuk rumah sakit karena masalah pernafasan dan menyedihkannya karena aku dan saudara-saudaraku harus merahasiakan tentang hal ini pada Ibu dan Bapak. Naufal dirawat inap selama 3 hari dan selama itu pula kami harus menutupinya dengan alasan kesehatan ke dua manusia yang telah sangat berjasa di hidup kami. Sumpah demi Allah, ini sangat tak mudah dan tak tak mengenakkan. Fuuuuuuuu …

Bulan ini penjualan container alhamdulillah sukses untuk ukuranku dan teman-teman yang masih pemula dan amatiran. Banyak kekurangan di sana-sini dan kami masih harus belajar banyak. Mulai dari urusan trucking dan buruh yang tak jarang sukses merepotkan kami, container yang dikompalin karena alasan bocor atau kotor, beberapa shipper nakal yang mangkir dari pembayaran stapelan dan freight containerlah, urusan nego by tambang yang sesuai ke pelayaran yang mendadak naik karena bulan ini, hingga permohonan pembebasan uang jaminan untuk Jakarta. Dan, mungkin masih banyak lagi … yang kadang membuatku dan teman-teman sangat emosional, cemas, galau, sedih, tersenyum, bahagia, tertawa di saat yang sama. Semangat semangat !!!

Masih banyak hal tapi rasanya tak dapat mengurainya saat ini, semuanya … mungkin di satu saat dan kembali lagi … jika memoriku tentangnya masih awas.  Termasuk giro yang  jatuh tempo hari ini bersamaan dengan permintaan muatan yang membuatku H2C dan tiba-tiba ada sms dari P’Salim yang sangat menyejukkan datang … “saya sudah isi mandirita 35 jt … “. Alhamdulillah alhamdulillah alhamdulillah. Selalu ada rahasia di balik rahasia.

Semua rasa yang memenuhiku saat ini  tiba-tiba membuatku begitu merindukan rintik dan hujan agar aku bisa merintik dan menderas bersamanya,   menari-nari di antara tirai-tirainya yang basah dan tak ada yang tahu bahwa saat itu i’m crying …

Oh, Lord I fall, I rise, I make mistakes, I live, I learn, I’ve been hurt but I’m alive. I’m human, I’m not perfect but I’m thankful…

Dan akhirnya Alhamdulillah For Everything !!

Mutiara pengikat : Belajarlah untuk melihat sisi positif dari keadaan apa adanya, bersyukurlah selalu. … “sabar jadi subur” , katanya dear grand ma almarhumah yang semoga dilapangkan selalu alam kuburnya. 

once upon a time in Kodingareng Island

Dari Kamar Makassar Golden Hotel

Dari Kamar Makassar Golden Hotel (Photo credit: photoblog0004)

Sabtu 21 April 2012, jelang pukul 11.00 dengan menyewa sebuah taxi aku, berdua dengan eki Clb Eky Amalia Putri meluncur menuju Dermaga Kayu Bangkoa.Dermaga yang sudah sangat berumur ini terletak di belakang hotel dan pertokoan di Jalan Pasar Ikan. Gerbang masuknya sangat mudah dikenali dengan sebuah plang nama bertuliskan Café Dermaga Kayu Bangkoa. Semenjak reklamasi dan revitalisasi Pantai Losari, dermaga ini semakin berperan penting bagi kehidupan masyarakat khususnya masyarakat di pulau-pulau sekitar Makassar. Ini dikarenakan, perahu-perahu yang dulunya sering mangkal di sekitar Pantai Losari, sekarang dipindahkan ke dermaga ini. Hanya saja, sungguh sangat disayangkan karena peningkatan peran ini tidak dibarengi dengan pengelolaan yang baik. Areanya dibiarkan menyempit dan kurangnya fasilitas umum yang memadai. Tengok saja lantai-lantai kayunya yang mulai lapuk dan berlubang. Btw, kembali lagi ke aku, kami  maksudku akhirnya tiba di dermaga ini. Suasananya sangat ramai … Hosh hosh hosh … dan delay !!! Masih harus menunggu. Kapal penumpang terakhir ternyata tak mampu lagi menampung kami dan bibit-bibit sukun bawaan kami. Kami pun tertolak hohoho …

Tapi tak apalah kami juga masih kurang 1 awak lagi, masih ada banyak kapal kecil yang nongkrong di dermaga. Kami yang tergabung dalam Komunitas Beranda Baca (KBB) yang akan berangkat hari ini ada delapan orang , Tiwi Hinta (Tiwi),  Mira Azisty (Mira), Chimbo Dopans (Chimbo),  Hamzah Ms (Ancha), Anwar Junior (Anwar), Clb Eky Amalia Putri (Eki), aku sendiri (Lia) dan  Idham Malik (Idham) yang masih berstatus daftar ditunggu. Empat orang rekan kami, Sasliansyah Arfah (Sasli), Mahadi Serang (Mahadi), Ieta Fauzy Harahap (Ita), dan Aulia Syahbani (Aulia) sudah berada di sana, mereka berangkat sehari sebelumnya. Dari short message terakhir Si Idham  katanya kami boleh duluan, dia akan menyusul kemudian atau … “tak berangkat sama sekali”, celetuk Si Mira. Tapi  seruan diplomatis Si banker kami, Tiwi … “kita bukan butuh orangnya tapi uangnya” ahhahahaaaa … ups !!! so sorry Mas Bro Idham, jangan dimasukkan ke hati ya cukup dimasukkan ke saku celana yang bolong saja, hhheheheeheee … just kidding, pissssssss dua jari :))))

Setelah menunggu untuk waktu yang gak mengenakkan klo dibilang singkat, kami pun bertolak dari dermaga kayu bangkoa menuju sebuah pulau bernama kodingareng. Perjalanan kami tempuh selama kurang lebih satu setengah jam. Suara deru mesin kapal, cipratan air laut dan riakan gelombang adalah irama dan nada yang mengiringi perlanan short weekend kami. Sambil sesekali kami berbagi canda dan tawa sekedar menghilangkan kantuk, meski pada akhirnya beberapa di antara kami tak kuasa menahan beban kantuk yang menggantung di kelopak mata. Tapi beruntunglah aku yang lolos dari sihir kantuk si angin laut. Rasa penasaran ku ternyata lebih besar, secara ini trip pertamaku ke sana dan aku tak ingin melewatkannya. Jarang-jarang kan bisa memanjakan mata dengan hamparan permadani biru yang hanya berbatas cakrawala. Meski tak seberapa lama tapi efeknya itu lho … berasa sampai ke hati. Hati berasa lapang seluas samudera hohoho hiperbola gak ya ???

Akhirnya, setelah memanjakan mata dengan hamparan laut di sejauh mata memandang, tampaklah sketsa abu-abu pulau kodingareng. Semakin lama semakin nyata. Tak lama lagi kami akan tiba. And finally … kami pun tiba. Alhamdulillah. Gradasi biru kehijauan air laut yang mempesona menyambut kedatangan kami. Wow !!! so beautifull view … how great and how great the creation … Subhanallah. Sepertinya spectrum warna ini yang akan membuat kita rindu untuk kembali. Dan ini baru sesuatu pertama yang aku temukan, sesuatu yang spontan make me love at the first sight. Sesuatu berikutnya akan segera ku temukan, aku yakin itu.

Bersama dua orang rekan kami, Sasli dan Mahadi, sekumpulan anak-anak generasi pulau yang ternyata sedari tadi menunggu kami, segera menghampiri kapal, membantu menurunkan bawaan untuk selanjutnya di bawa ke rumah Dg. Safa. Base camp kami selama di Kodingareng.  Tuan Rumahnya ramah dan sangat welcome. Apalagi suguhan makan siangnya mmm … mantaplah !!! dan ini sesuatu yang ke dua.

Setelah briefing kecil, sholat ashar, trip dilanjutkan dengan menyambangi satu-satunya sekolah dasar yang ada di pulau Kodingareng. Oh iya, satu hal yang mengusik otakku jauh sebelum menginjakkan kaki di kodingareng adalah perkataannya sasli tentang gersangnya pulau ini. Alhasil pikiranku pun dibuat sibuk dengan membayangkan tentang seberapa gersangnya pulau ini. Boleh jadi memang gersang karena dia kan sebelumnya pernah datang ke tempat ini, apalagi Si Sasli bilang di tempat bakal PLTS di samping sekolah adalah eks hutan kecil. Tapi untuk aku yang baru pertama kali menjejakkan kaki di pulau ini, awalnya tak separahlah dari dugaanku sebelumnya, apa jangan-jangan aku malah membayangkan gurun sahara ya ??? hheheheeee … Meski pun aku tak menemukan sebatang pun nyiur melambai, tapi di beberapa titik adalah tegakan si Lannea Grandis (kayu jawa), Hibiscus similis Bl. (Waru), dan Erythrina lithosperma Miq. non B1 (Dadap Serep) atau Moringa oliefera Lamk (kelor) yang ditanam entah sejak kapan tahun. Di perjalanan menuju sekolah pun  kita bisa menemukan sebatang Alstonia scholaris(pulai) yang berdiri kokoh, beberapa pohon Artocarpus altilis (sukun) yang sangat tinggi dan pastinya sangatlah tua. Iklim mikro yang tercipta dari tutupan tajuk-tajuk mereka kontras dengan aura panas dan tandus di area bekas tebangan yang eks Hutan Kecil. Barisan tapak dara Catharanthus roseus yang cerah merekah di tepi jalan saat melintasi pemakaman. Tapi satu hal yang membuat miris adalah beberapa ekor kambing yang memakan kulit-kulit kering dari pohon-pohon yang telah ditebang. Ouwwww … klo yang ini sih bukan sesuatu. Karena sepengetahuanku hewan ternak sejenis kambing di tempat lain memakan rumput, kulit pisang, daun lamtoro Leucaena leucocephala, daun gamal Gliricidia sepium dan dedaunan hijau lainnya yang amanlah untuk  dicerna. Tapi kenyataan berkata lain di pulau ini, karena bahkan kambing-kambing pun harus berjuang keras untuk kelangsungan hidupnya. Dan tahulah aku betapa pulau ini sangat membutuhkan hijauan lebih dari yang sudah ada.

Sekolah ternyata sangat ramai, padahal untuk jam siang-sore mestinya hanya ada kelas empat, lima dan enam. Tapi ternyata sangatlah ramai karena anak-anak lain datang bermain di halaman sekolah saat sore. Setelah meminta izin pada Kepala sekolah dan guru kelas masing-masing untuk melibatkan adik-adik kami generasi penerus pulau ini untuk menanam bibit-bibit sukun sepulang sekolah. Kami pun berarak menuju dermaga untuk memulai penanaman. Oh iya satu hal lagi tentang sekolah adalah bahwa akhirnya SLTP yang semula ku klaim sebagai SLTP terakhir “SLTP 38” ternyata ada di pulau ini. Jangan heran kalau ada orang yang nekat keliling Makassar mencari sekolah ini, dijamin sampai lebaran monyet pun tak bakalan nemu, karena ternyata sekolahnya terdampar di pulau ini ahhahaaaa … inilah sesuatu ketiga.

Kegiatan penanaman di sore hari sampai menggambar di malam harinya sangat heboh. Penuh riuh celoteh anak-anak pulau. Suara mereka kompak memenuhi telinga. Yang awalnya hanya kelas empat dan lima ternyata lebih dari itu bahkan yang tak bersekolah pun tak mau kalah. Alhasil tak tahulah, bingunglah kita karena semua menyatu sama hebohnya. Dan berhubung mereka anak-anak pulau jelas suara mereka satu dualah dengan ombak hhhehehee … mengingat nama-namanya pun rasanya masih sulit. Ku coba ya … Nadia, Marsya, Naila, Nasrul, Henry, Febregas, Torres, Messi, Messi, Messi, Messi, Messi … hohoho ternyata banyak pemain bola di sini. Ke depannya I hope so, amien. Nah, ini sesuatu ke empat.  Tapi terlepas dari sesuatu ini, mereka adalah cikal-bakal pulau dan negeri ini. Kelak di tangan merekalah pulau dan Negara bergantung. Tak masalah mereka anak-anak pulau atau bukan toh tak ada seorang pun yang dapat memilih di mana dia akan dilahirkan. Anak-anak yang tinggalnya di mamuju alias maju mundur jurang tak pernah meminta agar mereka dilahirkan di mamuju. Anak-anak yang hidup di bawa desingan peluru di afganistan dan palestina pun tak pernah meminta agar mereka dilahirkan di afgan dan palestin, atau anak-anak yang serba kekurangan gizi dan hidup di bawah garis kemiskinan di Somalia dan Ethiopia. Atau sebaliknya si Brooklyn yang nota bene anak David dan Victoria Beckham, atau Suri anak Tom Cruise dan Katie Holmes, atau Si afikah yang lucu menggemaskan. Mereka dan kita semua tak pernah meminta dilahirkan di tempat kita akhirnya lahir. Tak ada. Karena kita berjalan di atas garis takdir kita masing-masing. Yang ada adalah bagaimana dengan apa yang ada pada kita, dengan apa yang kita miliki kita bisa survive, karena boleh jadi apa yang dianggap orang adalah kelemahan justru disitulah kekuatan kita. Kembali lagi ke Nadia dan Messi-messi kecil, mereka adalah anak-anak pulau yang punya hak yang sama dengan anak-anak Indonesia lainnya. Mereka berhak memiliki masa depan, dan mencerdaskan mereka bukan hanya tanggung jawab para orang tua mereka tapi lebih dari itu, adalah tanggung jawab kita semua. Mereka adalah anak-anak nelayan yang tangguh yang suaranya mampu mengalahkan ombak. Dan kelak pada merekalah negeri ini bergantung. Anak-anak dari ayah-ayah nelayan yang luar biasa. Karenanya aku akan menyematkan sebait puisi Yuka Fainka Putra  yang selalu ku suka

Tak ada nelayan yang ragu pada hujan, namun badai membuat setiap nelayan penasaran.
Di hujan nelayan akan melempar pukat, ia menjala kata, dari benih-benih mitos laut yang masih tersisa. Laut selalu punya tanya dan cerita. Laut selalu mengizinkan kita untuk bersajak riang gembira dan laut juga akan memilihkan alur kuat untuk prosa-prosa miris yang tak tertuntaskan …

bersama KBB aku datang dan kelak bersama KBB pun akan kembali so, see u again ^^d

*. Isra Icca Ibhe  maaf nah, kemarin cuma melintas depan Grand Palace dan akhirnya ke kodingareng duluan hheheheheee …

.: Bornday nya Ibu :.

031e bold and beautiful

031e bold and beautiful (Photo credit: jjjj56cp)

kau semangatku

kau inspirasiku

U are my everything Ibu ^^d

” U raise me up too more than i can be … ” 

~ kiss n hug  AffanNaila ~

Ehm, ehmmmm … itu dari Bocah-bocah ntuk dearest ibu nya. Nah, selanjutnya dari Akky yang dicopast dari stat. pesbuknya hhheheee …

Happy bornday ibuuu :* longlife ki, akur2ki sama ayah, dan semoga semakin jadi ibu yang baik buat kita semua hahha pokoke wish you all the best lah *poke Alma Salmawati

~ Akky Cantik  ^^d)

Nah, d last nya dari Tanta Lia hhehee …

Learn from yesterday, live 4 today, and hope 4 tomorrow … Happy bornday Ibuuuuuu !!! … may happiness, long life n prosperity be with u

^^ … mmmuuuuuuach … ^^

Copast katanya pepatah yang entah penemunya siapa “panas setahun dihapuskan oleh hujan sehari” , semoga perjalanan ke depan selalu diberi kemudahan nah bu, yang berlalu biarkan berlalu. Hari kemarin sudah kembali ke Pemiliknya, biarkan jadi kenangan dan pelajaran sangat berharga yang akan memperkaya hidup … ok ok ok … semangat ibu !!!

Tadinya masih mo’ nambah banyak, tapi otak sudah terlanjur terhipnotis Tuan Pizza yang akan datang hhehheee … So, happy happy happy bornday ibu tak ada galau tak ada airmata … ok ok ok … semangat !!!