Bahagia

Hmmm, harapannya apa ya … ??? tak muluk-muluk-lah, sederhana saja, … ” bahagia ” that’s it !!!. Aku hanya ingin bahagia, bersama mereka-mereka yang selalu special di hatiku, di mana dan ke mana pun kaki ini melangkah.

Aku dilahirkan, di hari ke lima di bulan Maret, lebih dari sepuluh, dua puluh, tiga puluh tahun yang lalu pukul 15:15 menit di RSB ST. Fatimah Ujung Pandang (Makassar sekarang). Aku anak ke dua, dan sekaligus cucu ke dua. Konon, keluarga sangat bersukacita, apalagi karna aku anak perempuan pertama dari keluarga Bapak. Maklumlah, ayah bersaudara laki semua, maka sebagai ungkapan syukur mereka telah dikaruniai seorang bayi perempuan finally, pas akikahan yang mestinya cuma satu kambing, kemudian digenapkan menjadi dua kambing. Satu kambing untuk anak perempuan, syar’inya memang demikian, adapun yang satu itu hanya sekedar bentuk ungkapan syukur semata plus karena kambing kakek lagi banyak-banyaknya ūüôā

bone-boneDemikianlah, hingga aku pun kemudian menjadi cucu kesayangan Kakek-Nenek. Tinggal bersama mereka di sebuah desa kecil yang sejuk di kaki gunung di bagian utara Sulawesi Selatan. Namun, saat memasuki usia sekolah, aku kembali bersama Bapak dan Ibu di Ujung Pandang dan kembali berlibur ke kampung saat libur panjang tiba. Kakek dan Nenek, salah satu dari mereka akan datang menjemput menjelang liburan. Dan setiba di kampung, seekor ayam kampung pun sudah siap, demikian pula menjelang kepulanganku kembali ke Ujung Pandang.¬†Hohohooo … masa kecil yang indah, banyak cerita, banyak kenangan yang masih lekat terekam di memori.

Seiring perjalanan usia, satu persatu dari mereka, Nenek, Kakek dan kemudian Bapak beberapa bulan yang lalu, kembali ke Sang Maha Pencipta. Teriring do’a semoga mereka di beri ampunan, mendapat tempat terbaik di sisi Nya. Amin.

Demikian cerita hidup terus berlajut, bak episode dalam drama dan sinetron. Ada yang pergi, dan ada yang kemudian datang mengisi. Satu persatu anggota baru kemudian datang mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh mereka. Meski demikian, posisi mereka tetap tak akan terganti. Selamanya. Tanpa jasa besar mereka, kaki ini tak bisa berjalan sejauh ini. Terima kasih tak berhingga dan Alhamdulillah, puji syukur tak berbatas pada Sang Maha Pencipta, Pemilik dan Penyatu yang telah menyatukan kami dalam sebuah ikatan bernama keluarga. Semoga kelak, kembali menyatukan kami dalam sebuah ikatan yang sama. Amin.

naluri cahaya

English: A green version of http://commons.wik...

English: A green version of http://commons.wikimedia.org/wiki/Image:Allah-eser2.jpg (Photo credit: Wikipedia)

Tanpa aba-aba alias miscall terlebih dahulu, eh tiba-tiba lampu main padam begitu saja. Hmmm … seperti kedatangan hujan yang menderas seketika pun disusul oleh angin kencang yang sukses menerbangkan atap beberapa rumah tetanga, akhirnya berimbas ke pemadaman yang sering terjadi. Yah, untuk masyarakat yang cerdas akan segera mafhum kalau ini semata-mata adalah demi alasan keselamatan, meskipun tak bisa dipungkiri juga bahwa akibat pemadaman yang lebih sering dari minum obat sesuai resep dokter alias lebih dari 3×1 sehari akan berimbas pula pada umur alat-alat elektronik seperti lemari es dan lainnya.

Oh iya, sebelum merembes ke banyak hal … “merembes” hohohoho air kali ya ??? … karena sebenarnya ini hanyalah pengamatan seorang amatir dari diriku dan sebuah prolog dariku tentang sebuah percakapan sederhana yang biasa terjadi di sekitar kita dan baru saja terjadi di gubuk sederhanaku.

Adzan maghrib sudah berkumandang, saat tiba-tiba pemadaman lampu kembali terjadi. Si Ica, adikku dengan sigap menyalakan “lampu cash” imut kami dan meletakkannya di atas tempat tidurku, tepat di samping Si Ria, adik bungsuku yang sedang bersiap-siap hendak melaksanakan Sholat Maghrib. Saat Si Ria sedang sholat, Si Mama masuk ke dalam kamar sambil berkata pada Ica, “kenapa lampunya diletakkan di situ, apa tidak mengganggu orang sholat”. Dengan santainya Si Ica menjawab, ” sengaja M, nanti kalau dijauhkan dia tak tahu di mana tempat sujudnya hehehe :)”.

Jawaban adikku yang satu ini memang hanya bercandaan kecil seperti yang biasa kami lakoni satu sama lain. Namun, dibalik itu naluriku sedikit terusik oleh sebuah kata. “Cahaya”. Bahwa cahaya, adalah termasuk ke dalam golongan orang-orang yang beruntung yang diberi cahaya oleh Allah SWT, dan sebaliknya merugilah orang-orang yang tak mendapatkannya. Bahwa karena cahaya itulah, orang-orang yang beruntung tadi akhirnya bersegera memenuhi panggilanNya, menunaikan Sholat saat mendengar seruan dari para Mu’adzin. Yah, hanya orang-orang yang mendapat cahaya di dalam hatinya yang tergerak, sebaliknya betapa banyak orang yang mengabaikannya karena hatinya masih gelap karena belum mendapatkan cahaya. Bahwa orang-orang yang telah diberi cahaya di dalam hatinya, dalam keadan gelap sekalipun, entah karena berada di tempat yang gelap atau bahkan karena “maaf” secara fisik penglihatan mereka¬†¬†terbatas atau tidak dapat melihat sama sekali pun, mereka tetap tahu ke mana dan di mana tempat sujud mereka. Karena sejatinya kita dari tanah dan atas izin Allah kita diciptakan sebagai makhluk yang sempurna dan kelak atas izinNya pula kita akan dikembalikan ke tanah pula.

Sebuah ungkapan sederhana yang sudah sangat familiar di telinga, apalagi saat kita kanak-kanak, saat masih jadi santri di sebuah surau, masjid (belajar mengaji) dulu, ada baiknya aku sematkan di akhir celotehku ini …

“Sholatlah kamu sebelum disholati”¬†

<<semoga bermanfaat^^>>

2012 in review

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2012 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

600 people reached the top of Mt. Everest in 2012. This blog got about 2.400 views in 2012. If every person who reached the top of Mt. Everest viewed this blog, it would have taken 4 years to get that many views.

Click here to see the complete report.

Langkah Sukses Bersama Bank Mandiri

Pagi yang mendung ini ku awali dengan secangkir kopi dan 2 potong brownies ditambah seiris pisang goreng hangat buatan ibu. Efek kafein dari secangkir kopi panas kurasa cukuplah untuk menghangatkan semangat dan menghalau kantuk yang kadang menyerang di saat yang tidak tepat. Pagi ini, aktifitas luar ku awali dengan kunjungan ke Bank Mandiri. Ada setoran kliring yang harus dijalankan pagi ini, sekalian cetak buku tabungan dan mengambil buku cek baru. Hari Kamis, hampir seminggu yang lalu aku mengajukan permintaan buku cek 25 yang baru, dan semestinya sehari setelahnya sudah bisa diambil, tapi karena aktifitas yang cukup padat jadi baru hari inilah aku bisa. Sejak perusahaan EMKL (Ekspedisi Muatan Kapal Laut) tempat aku belajar mandiri pindah rumah ke lokasi yang boleh dibilang tak searah dengan Bank Mandiri Cabang tempat aku membuka Rekening Giro, aku mengalihkan transaksi tunaiku ke cabang terdekat dari Kantor. Kecuali untuk hal-hal tertentu yang memang mengharuskan untuk diproses di cabang asal seperti urusan giro ini, mau tidak mau aku harus ke kantor cabang yang dimaksud. Repot, mungkin iya tapi mungkin aku sudah terbiasa dengan ritme dan rutinitas ini, sebagai orang yang diamanahi tanggung jawab untuk urusan finansial ekspedisi yang telah aku perjuangkan bersama sahabat-sahabatku yang luar biasa.

Sebenarnya, untuk urusan bank dan keuangan aku juga memulai dari kata ‚Äúbelum tahu‚ÄĚ kemudian dalam perjalanan suksesku terus berproses sampai sekarang. Saat berstatus mahasiswa, aku kadang merasa agak minder juga pada teman-teman kuliah yang bisa dengan mudah menggunakan kartu mahasiswa mereka yang memang dwifungsi juga sebagai kartu ATM. Tangan-tangan mereka lincah memasukkan kartu ke mesin ATM untuk mengeluarkan selembar atau lebih uang kiriman dari orang tua atau sekedar transfer ke rekening lain. Saat menemani salah seorang di antara mereka aku sangat teliti memperhatikan tangan mereka menggerakkan kartu, menatap monitor mesin yang menampilkan banyak perintah saat kartu telah dimasukkan. Aku merasa sangat norak dan kampungan meski aku juga tak ingin bertanya karena takut dibilang kampungan atau apalah, secara aku tinggalnya di kota dan mereka sebagiannya berasal dari desa, tapi untuk urusan menggunakan fasilitas bank mereka lebih beruntung dan ahli. Sungguh gaptek oh gaptek diriku, bahkan aku punya cerita yang cukup memalukan yang sampai sekarang masih ku simpan rapi untuk diriku sendiri. Jadi ceritanya dua minggu setelah aku akhirnya memutuskan untuk membuka rekening di sebuah bank milik pemerintah, untuk menyimpan penghasilan pertamaku di sela-sela padatnya aktifitas perkuliahan dan kegiatan kemahasiswaan yang aku tekuni. Aku mendatangi sebuah ATM untuk mencoba bertransaksi sendiri seperti yang biasa dilakukan oleh teman-temanku dulu, namun saat akan memasukkan kartu ATM-ku aku bingung sendiri dibuatnya karena aku bahkan tak tahu bahagian mana yang harus lebih dahulu aku masukkan. Betapa malu dan bodohnya diriku ini, dan setelah akhirnya aku berhasil memasukkan kartu berkat bantuan si buku panduan dan melaksanakan beberapa perintah yang diinstruksikan, aku harus merelakan kartuku tertelan mesin ATM karena tak lincah mengikuti instruksi. Dan kurasa itulah pengalaman terbodohku bersama ATM yang untuk beberapa waktu membuatku sebisa mungkin menghindari ATM. Namun, seiring perjalanan waktu semakin ke sini justru aku merasa sebagian aktifitasku adalah interaksi dengan dunia perbankan termasuk ATM itu sendiri.

Pada awalnya, untuk jasa pelayanan bank aku menggunakan jasa Bank Milik Pemerintah, namun sejak bergelut di dunia EMKL ini aku memilih menggunakan jasa bank swasta. Langkah awalku ke bank swasta adalah dengan membuka Rekening Tabungan Bisnis di Bank yang Terdepan dan Terpercaya, yaitu¬†Bank Mandiri. Ini dikarenakan fasilitas dan layanan yang memberi kemudahan lebih dalam proses transaksi dengan pelayaran dan sebagian besar pelanggan yang menggunakan jasa ekspedisi kami adalah nasabah di Bank-Bank Swasta. Dua, tiga sampai lima kali dalam seminggu aku mendatangi Bank untuk penarikan atau penyetoran ataupun sekedar untuk mencetak buku untuk mengontrol dan melihat setiap aktifitas transaksi yang masuk dan keluar, apalagi sejak fasilitas histori transaksi di Internet Banking Mandiri ditiadakan jadinya aku semakin aktif bersilaturrahmi ke Bank Mandiri terdekat. Meski kemudian aku bisa medapatinya di bilik Mutasi Rekening, namun ibarat ¬†sebaris ungkapan kata yang sangat akrab di lidah dan telinga “ala bisa karena biasa”, aku sudah terlanjur berada di zona nyaman di bilik Histori Transaksi ūüôā

Namun, jika hanya sekedar untuk bertransaksi non finansial aku sangat berterima kasih atas bantuan internet banking dan mobile banking. Transaksi apapun, entah itu transfer, pembayaran tagihan listrik, tagihan telepon, pembelian pulsa, pembelian tiket atau sekedar cek saldo, dua fasilitas ini bisa diandalkan. Selain itu, untuk  memenuhi berbagai kebutuhan  dengan mudah dan tanpa membutuhkan agunan, fasilitas kredit Mandiri KTA bisa diandalkan. Untuk pembelian rumah tinggal/apartemen/ruko/rukan baik melalui developer maupun penjual perorangan, Mandiri KPR bisa memberikan fasilitas pinjaman. Selain itu dengan Tabungan Rencana Mandiri setoran bulanan bisa ditentukan sendiri sampai jatuh tempo, karena selain suku bunga tabungan yang tinggi juga tabungan kita sudah diasuransikan. Fasilitas lain yang Bank Mandiri berikan untuk para nasabahnya adalah Mandiri Kartu Kredit yang menawarkan diskon dan cicilan yang cukup menggiurkan. Jadi, seiring berkembang pesatnya dunia teknologi, dunia perbankan terkhusus Bank Mandiri pun semakin canggih dengan beragammnya fasilitas yang ditawarkan yang tak lagi hanya Mandiri Tabungan dan kartu debit semata.

Untuk melihat betapa Bank terkhusus Bank Mandiri semakin memanjakan nasabahnya   terlihat pada video berikut :

Baca lebih lanjut

aku memilih Bapakku

Tak ada pancong pukis pun jadi.¬†Hmmm … aroma khas yang menguar saat melintas dekat pembakaran sukses bikin perut berbahasa kriuk-kriuk minta segera diisi. Hehehee …

Dulu alm. Bapak juga suka skali, menghangatkan pagi dengan kue pukis dan teh hangat. Tapi lebih dari itu, entah bapak suka atau tak pada semua makanan yang kami, anak-anaknya santap, sisanya selalu dihabiskannya. Itulah salah satu alasan mengapa Si Bapak memilih makan paling akhir, agar bisa menghabiskan makanan yang tersisa dari piring-piring kami. Bapak sangat tak suka membuang-buang makanan dan demikianlah Beliau mengajarkan pada kami dengan caranya.

Mengajarkan baca Qur’an dengan tangannya sendiri, menghibur kami dengan cerita-cerita lucu karangannya sendiri dan lagu-lagu favoritnya meskipun kata Nenek suaranya fals dan tak ngerti nada. Tapi bukan Bapak kami namanya kalau goyah, sebaliknya “lanjut terus”. Bapak kami yang tabah dan kuat meski beberapa orang tak menganggapnya tapi dibalas senyum olehnya. Kepergiannya menyisakan banyak cerita dan kenangan, cinta yang banyak dari keluarga, sahabat dan rekan-rekannya dan yang terpenting [penyesalan] dari mereka yang sebelumnya tak menganggapnya.

Rest in peace dear Bapak. Semoga Allah mengampuni segala dosa-dosamu, melapangkan alam kuburmu, dan dijauhkan dari siksa kubur dan azab neraka. Aamin.


Mengapa aku memilih Bapakku untuk menjadi papaku ??? … kurasa semua ¬†tahu jawabannya.

semua [sesuatu]

Acara pulang kampung dadakannya sudah seminggu berlalu, tapi angin-anginnya masih berasa hmmm … Meski dadakan alias gak ada planning awal sama sekali plus kondisi kantong yang hampir kering, tapi toh berangkat juga, pulang kampung juga hmmm … [sesuatu] gak ya ???

Maybe [yes], dan kuanggap itu takdir dan aku toh berjodoh dengan kampung di hari itu. Ternyata si tante yang gak jadi ikut berangkat dengan rombongannya mama yang berbekal nasi kuning maknyus di pagi hari, membawa berkah buatku karena aku yang kemudian berangkat meskipun dengan judul “menemani tante” ¬†… jadi [sesuatu]-kan akhirnya ¬†hheheee …

[yup] sangat sesuatu, karena bisa menikmati udara segar plus plus meski hanya sehari. trus bisa menikmati perjalanan ala-ala si bolang waktu antar Om Kasman yang jadi raja sehari ke kampung tante baru … oh iya namanya Bolang juga dan hmmm … perjalanannya itu lho, mendaki gunung – turuni lembah wah lumayannnn. Tiba kembali di rumah Si Om, siang-siang bolong petualangan dilanjutkan ke sawah di belakang rumah. Hmmm … lumayan 4 ekor ikan Mas naik ke ember dan akhirnya jadi ole-ole ke Makassar. Nah [sesuatu] lagi kan ???

Oh iya, acara mandi-mandi di sungai juga [sesuatu] yang lain lho hhehheee … sehari yang penuh kesan, semua … [sesuatu] ^^d

dobedo : dasar bocah

dengan berjalan miring seperti kepiting kurasa dan ke dua tangannya disilang kebelakang, mata melirik-gaya khasnya klo ada hal aneh yang dilakukannnya-ke arahku, dipikirnya mungkin aku, eki dan ibunya akan marah kali ini, seperti biasa kalau kenakalannya tak bisa kami kendalikan hohoho … tapi kali ini, meski aku tahu ada [sesuatua] yang disembunyikannya di balik dua tangan mungilnya itu, aku benar-benar tak bisa menahan tawa melihat ekspresinya ¬†wkwkwkkkk …

dasar bocah :-p

nda’ profesionalko ceweTTT *colek¬†Alma Salmawati¬†Fadhliyah Muhammad Yusuf¬†Isra Icca Ibhe¬†… masih perluko belajar #nailainaction :-p

bingkai kenangan

go back in time, dimana semua cerita tentang kita, tentang indahnya sebuah kebersamaan, tersusun rapih dalam sebuah frame bernama kenangan. kenangan manis, seperti manisnya permen yang dulu sering kau hadiahkan untuk kami. Dan kenangan indah, seperti selengkung senyum yang mengantar langkah kami ke sekolah. Kenangan yang selalu hangat dalam dekapan memori, sehangat kue pancong di sore hari.

analekta and me

Menghangatkan sore dengan sepiring kue pancong. Bersama bapak tersayang, menikmati hangatnya setiap gigitan. Maklumlah kue pancongnya baru saja di angkat dari pembakarannya. Tapi justru di situlah kenikmatannya, karena rasa  dan aroma kelapanya yang kuat akan lebih berasa saat masih hangat. Dan kehangatan inilah yang kemudian membawaku kembali ke masa kanak-kanak dulu yang di sana ada Bapak, kakak, aku, adik dan si jeruk. adalah Si jeruk motor honda bapak yang menjadi saksi sejarah keberlangsungan hidup Bapak dan keluarga sederhananya. Di masa kanak-kanak, tepatnya saat berseragam hijau-kuning, disitulah awal perkenalanku dengan si kue pancong atau yang lebih familiar kami sebut buroncong. Boruncong adalah menu wajib untu isian kotak makanan kami. Di perjalanan menuju sekolah, ayah selalu menghentikan si jeruk di samping sebuah gerobak buroncong seorang kakek paruh baya. Terkadang kami protes juga, soalnya teman-teman sekolah isi kotak makannya selalu berganti-ganti, sementara kami setiap hari, dari senin sampai senin berikutnya …

Lihat pos aslinya 335 kata lagi

Jembatan : sinrijala

Jembatan. Pembangunannya memasuki hari ketiga sekarang, dan sangat memungkinkan butuh berhari-hari atau mungkin minggu sampai bulan untuk proses pembangunannya mengingat sungai depan rumah ini tergolong dalam belum lagi musim penghujan yang sepertinya sudah mengirimkan pesan kalau bentar lagi dia akan datang menyapa dan menderaskan bulir-bulir basahnya. Tapi setidaknya aku dan semua warga berlogo sinrijala, sukaria dan sukamaju mestilah bersyukur, “Alhamdulillah ya [sesuatu] hheheeeheee ūüôā

Allah lewat tangan-tangan bapak-bapak tukang yang kecipratan rejeki dari pemerintah dengan tekun dan cekatan mewujudkan mimpi kecil kami, yaitu punya jembatan lagi yang bisa kembali mempererat silaturrahim kami sesama warga sempadan sungai sinrijala. Wah, masjid Nuruttaufiq dijamin jama’ahnya- yang beberapa bulan terakhir sejak jembatan sebelumnya terbawa arus-akan hadir kembali. “Insyaa Allah, ada jalan”, begitu katanya Maher Zain kan ūüôā

Di hari pertama mereka mengisi pasir ke dalam karung-karung plastik kemudian menenggelamkannya ke dalam sungai. Di hari ke dua pun masih melakukan hal yang sama, karena sungai depan rumah ini lumayan dalamlah. Sangat melelahkan sepertinya, belum lagi mereka harus bolak-balik ke seberang sungai demi melakukan hal yang sama. Untung saja beberapa diantara mereka bermotor, jadinya di dua hari kemarin untuk ke seberangnya mereka berkeliling menyusuri sempadan sungai kira-kira 200m kemudian berbelok menyeberangi jembatan di ujung jalan … wah wah wah, salute … smangat !!! ¬†makanya di hari ketiga ini mereka akan membuat rakit dari bambu untuk memudahkan pekerjaan.

Jadi sabar sabar sabar bersyukur bersyukur bersyukur, copast kalimatnya dear grandma alm.-semoga Allah mengampuni, melapangkan alam kuburnya- “sabar jadi subur”, amin amin amin ūüôā