seperti purnama

Maksud hati memanjakan badan sambil rebahan, lumayan refresh sebentar sambil mendengar ceramah tarwih Pak Ustadz di Masjid Kompleks yang suaranya masih terdengar jelas sampai ke rumah. Tapi, ouuuuwwww sesuatu mengusik pandanganku dari langit-langit hijau di dalam kamar. Sependar cahaya bulat nun jauh di sana, dari balik tirai putih dan kaca jendela tampak dekat malam ini. Bulat sempurna, duduk manis di atas sana. Ku singkap tirai, oh subhanallah dia sungguh mempesona. Purnama. Si rembulan telah sampai pada kuartir ke dua revolusi dan malam ke 14  Ramadhan, yah kiranya aku tak salah menduga. Tak terasa membersamai Ramadhan hampir separuh perjalanan. Semoga semangat ini tak terpengaruh kuatnya godaan big sale dan discount, meski tak ada salahnya juga tampil cantik dan apik di hari fitri nanti asalkan sesuai kemampuan. Namun toh itu bukanlah salah satu ukuran sempurnanya ibadah dan termasuk golongan orang-orang yang menang. Kemenangan itu tak sekedar berhasil menahan lapar dan haus semata, tapi lebih dari itu sifat dan sikap pun harus dimenangkan agar kelak di hari fitri jiwa kita terlahir sebagai jiwa baru yang fitrah, yang suci.

Taqobballah minnaa wa minkum

Semoga Allah meridhoi. Amin amin amin Yaa Robb.

Ramadhan ke 14 di 1433 Hijriyah

Full Super Moon

Full Super Moon (Photo credit: Hastu Wicaksono)

Seorang anak kawan lama mencarimu pagi ini.

“Amanat Bapak”, demikian katanya. Dan seperti beberapa kawan-kerabat lainnya. “Tak tahu”.

Mereka tak tahu namun sebuah hasrat kuat, firasat atau ikatan kah ??? entahlah namun membuat mereka begitu ingin menjumpaimu.

Namun, lagi-lagi takdir telah berkata lain, hanya nama dan kisahmu yang terdengar lirih. “innaa lillah wa innaa ilaihi roji’un … “.

28 days have passed … rest in peace papa. sampai jumpa di kehidupan yang lain.

*. Ya Allah, ampuni segala dosa-dosanya, lapangkan alam kuburnya, jauhkan ia dari siksa kubur dan api neraka. Amin amin amin Ya Robb.

.: Jum’at, 1 Ramadhan 1433 H :.

Hujan Bulan Juni

Tak ada yang lebih tabah

dari hujan bulan Juni

dirahasiakannya rintik rindunya

kepada pohon berbunga itu

Tak ada yang lebih bijak

dari hujan bulan Juni

dihapusnya jejak-jejak kakinya

yang ragu-ragu di jalan itu

Tak ada yang lebih arif

dari hujan bulan Juni

dibiarkannya yang tak terucapkan

diserap akar pohon bunga itu

Sapardi Djoko Damono.1989

Matahari memang terik, tapi mata dan hati kami basah oleh sedih dan air mata. RIP dear Bapak … doa ku selalu menyertaimu.

Ya Allah, ampuni segala dosa bapakku, lapangkan alam kuburnya, jauhkan dirinya dari siksa kubur dan api neraka. Amin amin amin Yaa Rabbal ‘alamiin”.

in memoriam dear Bapakku 23 Juni 2012 … 612