untuk “Ayah Luar Biasa”

Seorang anak 10 tahun bernama Putra, pada suatu malam akan menonton sirkus bersama ayahnya. Ketika tiba di loket, dia dan ayahnya antre di belakang rombongan keluarga besar yang terdiri dari bapak, ibu, dan empat orang anaknya.

Dari pembicaraan yang terdengar, Putra tahu bahwa bapak dari ke-4 anak tadi telah bekerja ekstra untuk dapat mengajak anak-anaknya nonton sirkus malam itu. Namun ketika sampai di loket dan hendak membayar, wajah bapak 4 anak itu tampak pucat. Ternyata uang yang telah dikumpulkannya dengan susah payah tidak cukup, kurang Rp 20.000.

Pasangan suami istri itu pun saling berbisik, tentang bagaimana harus menjelaskan kepada anak-anak mereka yang masih kecil, bahwa malam itu mereka batal nonton sirkus karena uangnya kurang. Padahal mereka tampak begitu gembira dan sudah tidak sabar lagi untuk segera masuk ke arena pertunjukan sirkus.

Tiba-tiba ayah Putra menyapa bapak yang sedang kebingungan itu sambil berkata, “Maaf, Pak! Uang ini tadi jatuh dari saku Bapak.” Kemudian, diserahkannya lembaran Rp 20.000 sambil mengedipkan matanya dan terseyum.

Betapa takjubnya si Bapak, dengan apa yang dilakukan ayah Putra. Dengan mata berkaca-kaca, ia menerima uang itu dan berbisik mengucapkan terima kasih kepada ayah Putra, sambil mengatakan betapa Rp 20.000 itu sangat berarti bagi keluarganya.

Setelah rombongan tadi masuk, Putra dan ayahnya bergegas pulang. Mereka batal nonton sirkus, karena uang untuk menyaksikan sirkus sudah diberikan kepada keluarga besar tadi. Tapi Putra justru merasa sangat bahagia. Ia memang tidak dapat menyaksikan sirkus, tetapi ia telah menyaksikan dua orang ayah yang luar biasa.

Netter yang Luar Biasa,

Kebahagiaan tidak hanya diperoleh ketika menerima pemberian orang lain, tetapi juga pada saat kita MAMPU MEMBERI. Cerita di atas juga menunjukkan bagaimana menolong orang lain dengan cara yang sangat halus, tanpa menyinggung harga diri orang yang ditolong.

Dunia ini terus berputar. Ada kalanya kita menolong, dan ada kalanya kita juga memerlukan pertolongan dari orang lain. Maka, selagi masih mampu, tetap lakukan kebaikan dengan ikhlas dan bijaksana.

sumber : klik disini

15 Juni 2014 adalah Hari Ayah Internasional ? jujur saya baru tahu setelah membaca kiriman Newsletter ini, ditambah lagi kalimat-kalimat pengantar yang sukses membuat air mata meleleh. Apalagi karena saya tahunya di saat saya tak punya bahkan satu kali pun kesempatan untuk mengucapkannya pada Ayah saya. Allaahumma’ghfirlahu war-hamhu …

@t #tahunketiga …

Bahagia

Hmmm, harapannya apa ya … ??? tak muluk-muluk-lah, sederhana saja, … ” bahagia ” that’s it !!!. Aku hanya ingin bahagia, bersama mereka-mereka yang selalu special di hatiku, di mana dan ke mana pun kaki ini melangkah.

Aku dilahirkan, di hari ke lima di bulan Maret, lebih dari sepuluh, dua puluh, tiga puluh tahun yang lalu pukul 15:15 menit di RSB ST. Fatimah Ujung Pandang (Makassar sekarang). Aku anak ke dua, dan sekaligus cucu ke dua. Konon, keluarga sangat bersukacita, apalagi karna aku anak perempuan pertama dari keluarga Bapak. Maklumlah, ayah bersaudara laki semua, maka sebagai ungkapan syukur mereka telah dikaruniai seorang bayi perempuan finally, pas akikahan yang mestinya cuma satu kambing, kemudian digenapkan menjadi dua kambing. Satu kambing untuk anak perempuan, syar’inya memang demikian, adapun yang satu itu hanya sekedar bentuk ungkapan syukur semata plus karena kambing kakek lagi banyak-banyaknya 🙂

bone-boneDemikianlah, hingga aku pun kemudian menjadi cucu kesayangan Kakek-Nenek. Tinggal bersama mereka di sebuah desa kecil yang sejuk di kaki gunung di bagian utara Sulawesi Selatan. Namun, saat memasuki usia sekolah, aku kembali bersama Bapak dan Ibu di Ujung Pandang dan kembali berlibur ke kampung saat libur panjang tiba. Kakek dan Nenek, salah satu dari mereka akan datang menjemput menjelang liburan. Dan setiba di kampung, seekor ayam kampung pun sudah siap, demikian pula menjelang kepulanganku kembali ke Ujung Pandang. Hohohooo … masa kecil yang indah, banyak cerita, banyak kenangan yang masih lekat terekam di memori.

Seiring perjalanan usia, satu persatu dari mereka, Nenek, Kakek dan kemudian Bapak beberapa bulan yang lalu, kembali ke Sang Maha Pencipta. Teriring do’a semoga mereka di beri ampunan, mendapat tempat terbaik di sisi Nya. Amin.

Demikian cerita hidup terus berlajut, bak episode dalam drama dan sinetron. Ada yang pergi, dan ada yang kemudian datang mengisi. Satu persatu anggota baru kemudian datang mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh mereka. Meski demikian, posisi mereka tetap tak akan terganti. Selamanya. Tanpa jasa besar mereka, kaki ini tak bisa berjalan sejauh ini. Terima kasih tak berhingga dan Alhamdulillah, puji syukur tak berbatas pada Sang Maha Pencipta, Pemilik dan Penyatu yang telah menyatukan kami dalam sebuah ikatan bernama keluarga. Semoga kelak, kembali menyatukan kami dalam sebuah ikatan yang sama. Amin.

aku memilih Bapakku

Tak ada pancong pukis pun jadi. Hmmm … aroma khas yang menguar saat melintas dekat pembakaran sukses bikin perut berbahasa kriuk-kriuk minta segera diisi. Hehehee …

Dulu alm. Bapak juga suka skali, menghangatkan pagi dengan kue pukis dan teh hangat. Tapi lebih dari itu, entah bapak suka atau tak pada semua makanan yang kami, anak-anaknya santap, sisanya selalu dihabiskannya. Itulah salah satu alasan mengapa Si Bapak memilih makan paling akhir, agar bisa menghabiskan makanan yang tersisa dari piring-piring kami. Bapak sangat tak suka membuang-buang makanan dan demikianlah Beliau mengajarkan pada kami dengan caranya.

Mengajarkan baca Qur’an dengan tangannya sendiri, menghibur kami dengan cerita-cerita lucu karangannya sendiri dan lagu-lagu favoritnya meskipun kata Nenek suaranya fals dan tak ngerti nada. Tapi bukan Bapak kami namanya kalau goyah, sebaliknya “lanjut terus”. Bapak kami yang tabah dan kuat meski beberapa orang tak menganggapnya tapi dibalas senyum olehnya. Kepergiannya menyisakan banyak cerita dan kenangan, cinta yang banyak dari keluarga, sahabat dan rekan-rekannya dan yang terpenting [penyesalan] dari mereka yang sebelumnya tak menganggapnya.

Rest in peace dear Bapak. Semoga Allah mengampuni segala dosa-dosamu, melapangkan alam kuburmu, dan dijauhkan dari siksa kubur dan azab neraka. Aamin.


Mengapa aku memilih Bapakku untuk menjadi papaku ??? … kurasa semua  tahu jawabannya.