humming galau : menunggu

Listen to the rythm of the falling rain

Listen to the rythm of the falling rain (Photo credit: rainboWaves)

Bersama Desember yang akan segera pergi, dan hujan yang mengguyur deras.

Aroma basah yang menguar di antara pucuk dan tunas yang mulai kuncup-bersemi, dan genangan yang terus bertambah, dan hatiku yang mulai cemas.

Cemas pada hujan atau cemas menatap ponsel yang tak kunjung menampakkan pesan dirimu ??? … aku menanti SMS

Apa kabarmu di sana ???

Masihkah kita berpayung di bawah langit yang sama ???

Jika iya, coba kau tengok dari balik jendela. Pemandangan di luar sana mungkin sedikit kabur, tersamar oleh tirai-tirai basah, bayangan hujan yang hebat, tapi ku harap jalan setapak untuk pulang masih terbayang di pelupuk matamu.

Genangan di pekarangan semakin banyak, seperti sepi yang kian mengusik, menggenangkan bulir kristal, hangat di pelupuk mata. Mengalir, seperti aliran hujan dari balik jendela.

Semakin, semakin mengaburkan pandanganku.

Ku seka anak sungai di pipi, pun kaca jendela yang basah karena hujan yang terus menderas.

Tak ingin ku kaburkan pandanganku, sedikitpun.

Untuk menanti tibamu, saat hujan mulai reda dan selengkung pelangi mulai tersenyum manis, dan hari kembali cerah, pun demikian hatiku.

sendiri

hanya aku dan bayangan yang akhirnya kusadari bahwa itupun hanya diriku

aku dan sendiriku

tak mengapa, toh aku tak cukup tahu tentang dirimu untuk kemudian berbesar hati memaknai sendiriku

aku tak meminta, tika kemudian kamu datang menawarkan rasamu

dan meski aku tak peduli, hatimu tak jera hingga akhirnya aku mencoba menemukan dan menghadirkanmu dalam mayaku

dan sungguh lelah rasanya, ternyata rasamu juga palsu dan semu

dan kini rasa lelah ini pun terasa begitu biasa, jenuh

tapi tak mengapa, toh aku pun tak  cukup mengenalmu, meski aku tlah mencoba menghadirkanmu dalam mayaku

aku merelakanmu untuk berbesar hati pada sendiriku.

 

 

 

 

.: menggenggam hujan :.

Berhari-hari adalah tentangnya yang lama tak saling menyapa

tapi entah mengapa aku tak pernah jenuh, menunggu

dan aku rindu

Hari ini masih tentangnya, yang mengejutkanku lewat satu salam darinya

” Assalamu alaikum…apa kabar de’? “

seketika suka pun senang dan kesejukan menyeruak, berkumpul menjadi satu

dalam mangkuk berlabel “bahagia”

namun seketika berubah mendung seperti bayangan hujan

dari balik  jendela.

” abis tabrakan de’..mobil tabrak mobil..patahtulang kaki dgn tangan.tapi sudah dioperasi 2 bulan lalu… ” katamu tenang .

tapi tidakkah kau tahu ???  bulir-bulir hujan tersirap di mataku

jari-jariku gemas ingin membebaskannya

nyatanya hatiku enggan dan lagi-lagi alirannya semakin menderas

bersama untaian cerita di jiwa

bergemuruh, mendendangkan melodi hujan

Ya Allah, lindungi dia … bahagiakan kami dalam Ridha – Mu. Amin “