Oktober tanpa hujan

Oktober tanpa hujan

siangnya pun menyengat

tak ada kumpulan awan gelap

pun titik – titik hujan

sumur di ladang akhirnya mengering

sungai pun hanya menyisakan bebatuan

Ke mana katak melepas dahaga ?

Bebatuan kali semakin panas dipijak

Berlindung pada belukar dan pepohonan ?

mereka pun butuh rerimbun dan kerindangannya

“Angsana mulai berbunga, Si katak bernyanyi riang

“Hujan pun akan datang, Si katak terus bersenandung

Lagu Hujan mengantar Oktober pulang

seperti pelangi

rainbow

Jauh

tapi pelangi selalu punya warna

dan saat kau merindukannya  diapun berkirim pesan pada hujan

di satu sore dia akan datang dan kau bisa melihat dari jendela

selengkung senyum manis untukmu

meski jauh

namun hati telah terpaut, kaupun menyimpan sekeping untuknya

jauh hanya masalah waktu

dan kau pun tahu

dia tak pernah ingkar janji

 

 

 

 

pesan hujan

Ada kalanya mendung tak membawa pesan dari hujan.

Dia hanya lewat dan mungkin sejenak mampir, sekedar memayungi mu dari terik.

Tapi kali ini, mendung yang menggantung di atas sana sepertinya sedang membawa pesan dari hujan.

Baiklah, aku memang sedang menantikannya.

Tik tik tik, nada berdering saat aku pun menerima sebaris pesan

“sedia payung sebelum hujan”

dua sisi

sore hari salah satu jasa layanan pengiriman barang sudah membuat hati ini kesal luar biasa. Bagaimana tidak, barang kiriman katanya harus dijemput sendiri ke kantor pengiriman karena si kurir yang ngantar ke rumah sudah dua kali nelpon tapi nomor tak aktif, dan si kurir juga sudah cari alamat tapi gak nemu-nemu. Hellooo padahal hp gak pernah mati, dan P’kurir yang terhormat baru nelpon 2x padahal tau sendiri kan jaringan emang suka trouble apalagi di cuaca ekstrim seperti sekarang. Dan tentang rumah, rumah ipar itu besar, di tepi jalan poros pula.
Aku sudah tiba di kantor pengiriman tersebut, setelah sebelumnya di arahkan ke alamat tersebut, dan oh iya dikasi nomor telpon kantor dan nomor kurirnya juga tapi telpon berkali-kali ke nomor kurir gak pernah ada jawaban, telpon berkali-kali (bukan cuma dua kali lho) ke nomor kantor direject kayak judul lagu dangdut. Maunya apa sih !!!
Di kantor, sama stafnya disuru ke kantor mereka yang satu lagi, dan jaraknya lumanyan jauh, belum lagi ini sudah malam, hujan pula !!!
Tiba di kantor mereka yang dimaksud, harus menunggu karena kena jam istirahat malam. Kebetulan aku lagi dapat, jadi maghribnya aman. Lumayan lama juga sih nunggunya, sejam kali ya. Begitu loket terbuka, aku serahkan nomor pengiriman sebagai bukti, tapi kata si penjaga loket barangnya tidak bisa diambil, harus konfirm via telpon dulu katanya. Tapi bagaimana bisa coba, ini sudah jam berapa layanan telpon batasnya sampai jam berapa. Lagipula tadi juga sudah telpon berkali-kali tapi kan reject mulu hellooooo …
Alhasil aku marah bin komplain ke si penjaga, dan harap dicatat, bukan cuma aku tapi banyak orang yang kecewa dan marah. Ada juga yang bahkan sudah perlihatkan nomor konfirmasi telpon dan sudah disuruh datang tapi barangnya gak ada di sana, akhirnya dia juga marah besar dan ups …. Sungguh terlalu benar jasa pengiriman ini !!!
Akhirnya aku pulang dengan kemarahan yang belum reda, semoga hujan perlahan meredamnya.

Di rumah, bersih-bersih body, makan, bersih-bersih body kembali, duduk-duduk sebentar kemudian zzZzzZ … tapi sepertinya kekesalan tadi belum sepenuhnya hilang, jadinya aku terbangun, mungkin tadi doanya gak pooolll. Belum lagi suara tipi diluar sepertinya mengusik, aku keluar kamar bergabung dengan adikku yang lagi ditonton tipi karena sudah ketiduran. Aku mencari-cari acara tipi yang bagus sampai akhirnya nemu pelem negeri hindustan. Hmmm, sepertinya aku pernah nonton pelemnya, tapi waktu itu bukan nonton juga namanya ala kadarnya tepatnya hehheeee …
Judulnya PAA. Yang main om amitabh bachan (mohon ma’ap bila nama tak sesuai) hihihiii … Film Paa menyajikan cerita yang unik, ia menceritakan kehidupan seorang anak yang menderita penyakit Progeria atau penuaan dini. Adalah Auro anak yang menderita Progeria, yaitu penyakit genetic yang menyebabkan penderitanya memiliki factor usia 5-6 kali lebih cepat daripada usia normal. Jadi, penderita Progeria akan memiliki kehidupan 5-6 kali lebih cepat daripada orang normal, misalnya penderita Progeria berumur 10 tahun, maka perkembangan fisiknya seperti orang berumur 60 tahun. Pada cerita ini, Auro digambarkan berusia 13 tahun, namun fisiknya menyerupai orang yang berusia 80 tahun. Auro tinggal bersama ibu dan neneknya yang sering dipanggil “Bum” (dalam bahasa India berarti pantat) yang sering membuat si nenek merasa malu apalagi jika dipanggil di tempat umum. Betapa isengnya dia kan padahal si nenek sudah berulangkali mengatakan untuk tidak memanggilnya dengan sebutan itu jika berada di keramaian. Sementara Ibu Auro bekerja sebagai ginekologyst dan sering menangani kasus melahirkan. Saat ibunya bekerja, Auro dirawat oleh neneknya di rumah.
Meskipun menderita Progeria yang menyebabkan Auro tampak seperti kakek-kakek secara fisik, namun Auro juga merasakan duduk di bangku sekolah. Beruntungnya karena teman-teman Auro tidak mengucilkannya bahkan justru menghormati dan menyayangi Auro. Auro selalu tampak ceria bersama temannya, ia bahkan memimpin gerakan “king-kong” yang diciptakannya sendiri dan ditirukan oleh semua teman-temannya…. hohohoooo … rasanya tak mungkin aku menceritakan semuanya di sini, lagipula film ini sangat familiar jadi kamu pastilah tau ceritanya, kalaupun belum kamu bisa mencarinya dan akan dengan mudah menemukannya.

Ceritanya sangat menarik, dengan PAA, aku tertawa sendiri kemudian terharu, kemudian tertawa dan terharu kembali … sangat menikmati … Meski jelang akhir cerita suara hujan begitu hebat dan saat suara hujan kembali mereda aku hanya mendengar si tokoh utama auro berkata “ibu … Ayah … ” Sebagai kalimat terakhirnya. Kemudian hujan di tipi dan diluar rumah kembali seirama, menderas …
filmnya tamat, malampun semakin larut, lalu akupun menarik selimut …

Tersemat tulisan di dinding kamar Auro “behind every monkey there is [spasi panjang] a man called Auro”.

senja basah di dermaga phinisi

Entah kenapa kakiku melangkah ke tempat ini. Hhhh … rasanya aku seperti orang yang kalah.

 

Tidak, aku bukan kalah. Aku hanya lelah dengan semua, dan kurasa ini tempat yang tepat untuk sejenak menepi.

 

Hujan baru saja reda, meski genangan tak akan aku temukan karena hamparan pasir putih ini telah menelannya, bau basahnya masih menyisakan jejak. Dan …  lihatlah di sana, kurasa itu pelangi pertamaku. Hohohooo … sepertinya aku mulai menyukai tempat ini.

 

Phinisi Boat

Phinisi Boat (Photo credit: vicky lennon)

Kapal-kapal banyak tak berlayar, tak terkecuali kapal-kapal nelayan, ramai tertambat. Rupanya badai laut terlalu garang, mereka memilih tak menjaring ikan hari ini. Mereka sudah kenyang “garam” lautan, dalam badai seperti ini ikan-ikan sulit dicari.  saat badai mereka berenang ke dasar, bersembunyi. Insting hewan sangat peka.

 

Namun, kurasa para nelayan dan pelaut  tak akan berkemul terlalu lama. Setelah badai berlalu, mereka akan ramai-ramai melaut. Dan … benar saja.

 

Pada hamparan samudera yang membentang, mereka melabuhkan asa.

 

Belum lama aku di sini, namun hati sudah terasa lapang. Oh, aku semakin menyukai tempat ini.

 

Hari semakin senja, saatnya aku beranjak. Tapi, hatiku telah berjanji, besok akan kembali.

 

 

 

 

 

hujan dan pelangi

English: A faint rainbow with rain in the back...

English: A faint rainbow with rain in the background as seen near Wichita, Kansas. (Photo credit: Wikipedia)

di balik tirai-tirai hujan yang lebat, terselip selengkung kebahagiaan

percayalah, ia akan mengindah di saatnya,

saat selengkung itu perlahan tersenyum dan kita menyebutnya “Pelangi”

Indah bukan ?

tapi, kau tak akan pernh melihat senyumnya jika hujan tak mengawalinya

dan itulah mengapa aku selalu bersukacita menyambutnya

oh iya, mau aku sampaikan satu rahasia padamu ?

… ” Pelangi tak pernah ingkar janji ” 🙂

 

tak enak body

… dan kali ini benar-benar kehujanan ..kuyup !!! padahal pagi tadi sengaja membiarkan hujan berangkat lebih dahulu dan aku menyusul setelah rintik terakhirnya … Oh ternyata oh ternyata, siangnya basah juga. Namanya jodoh memang tak akan ke mana hohohoooo …

Sebenarnya yang namanya kehujanan bukan hal yang baru dan toh dalam banyak situasi dan kondisi aku bersukacita merayakannya. Tapi, tak untuk kali ini karena body ku yang tak boros-boros ini berada dalam kondisi yang tak fit. Baru juga semalam demamnya turun nyatanya sekarang … demam kembali menghampiri huhuhuuuuu …

Tapi, yah Alhamdulillah situasi inipun patut disyukuri, karena dengan sakit aku bisa mengukur betapa berharganya [sesuatu] yang bernama kesehatan. Alhamdulillah for everything. Semangat semangat, keep fight !!!

dingin atau dingin

 

Monochrome and stones

Monochrome and stones (Photo credit: Francis Gimenez)

Hujan pagi yang memikat, buatku makin bersemangat.

Ada berkah yang tercurah bersamanya.

Dingin … nuansa yang dihadirkan demikian adanya,

Namun, melawan rasa dingin bukanlah dengan menebalkan jaket dan selimut.

Melebur bersama dingin, demikianlah seharusnya

“Menyerang, itulah strategi bertahan kami”, demikian ucap Sang Pelatih Sepakbola.

pun demikian kami, menjemput rezeki di bawah guyuran hujan yang dingin dan hebat

tapi dengan kata “syukur”, demikianlah kami memaknainya

Hujan dan dingin ??? … Siapa takut … !!!

hhohohooo lapar to

 

Masih bersama hujan yang enggan beranjak,

 

kaki pun enggan bergerak jauh dari jendela.

 

Menanti ??? … oh entah aku ini menanti siapa

 

galau laksana mendung yang masih bergelayut manja di atas sana.

 

jelas tampak berbeda dengan dua lelaki yang khusyuk bercengkerama

 

satu sama lain tampak antusias, melawan suara hujan yang menderas hebat

 

prospek masa depan, tampak begitu menggairahkan jiwa mereka

 

pun seketika mengalihkan inderaku, aku tergoda

Study.Lapar.Makan.SambungStudy   Hidup aku seb...

Study.Lapar.Makan.SambungStudy Hidup aku sebangai robot? Recheck balik Surah Al-Kahfi:103-106 Surah Adz-Dzaariyat:56 Surah Al-Baqarah:30 Surah Al-A’raaf:179 Surah Ar-Rad:11 (Photo credit: asyraaf.azahari)

hohohooo … rupanya godaan bukan hanya dari dua lelaki di sudut sana

 

dua wanita dua generasi yang sedari tadi grasak-grusuk, kembali mengusik inderaku dengan aroma yang membangkitkan rasa lapar.

 

Oh, kurasa ini sinyal untuk bersegera, makan siang sudah siap.

 

dan kukira kampung tengah pun sedari tadi meminta subsidi.