@t jeda ke dua

mampir sebentar, menengok situasi dan kondisi analekta-ku, didera [www.rindu.com]
menyelipkan beberapa kalimat yang sempat terlintas …
… semakin banyak saya memiliki, mengetahui ternyata semakin banyak pula yang akan saya bagi. Sejak dulu sampai hari ini saya merasa telah begitu banyak menerima, karena itu saya pun selalu merasa ingin memberi dan memberi, meski itu hanya sebatang coki-coki atau sebaris senyum. Pemberian apapun itu, kalau yang memberinya tulus dan ikhlas, hati dan tangan yang menerima pun akan merasakan hal yang sama.

Ikhlas … seperti nama salah satu surah dalam Al-Qur’an, namun saat kau membacanya, tak kau temukan kata ikhlas di dalamnya. Dan hanya hati yang benar-benar berserahlah yang dapat memaknainya …

Salam,

me

@t jeda ke dua, menanti adzan ashar

kotak kenangan

Aku merelakanmu di satu senja.

Ikhlas, mungkin demikian aku memaknainya.

Menengok kembali ke satu masa, yang ada kamu bersamaku. Bahagia.

Tapi kemudian waktu dan usia kembali menyadarkanku,  kau tak lagi ada.

Kau pernah ada, meski kemudian pergi

Kau meninggalkanku, namun ku harap kelak ada yang kemudian kembali mengisi

kotak-kotak episode di hidupku dengan kenangan-kenangan baru

Kucoba berdamai dengan takdir, karena demikianlah hidup.

Selalu ada yang berubah dalam hidup ini..Melalui fase demi fase, kita semua

pasti berubah,

Ya … tak mungkin bisa kita memutar waktu, pun terus-menerus terkungkung dalam putaran bernama masa lalu.

Karena hidup itu berjalan ke depan, hingga akhirnya kelak di satu masa

kita bertemu dengan diri kita yang lebih dewasa.

Sementara kenangan-kenangan itu, biarkanlah tersimpan rapi dalam kotak-kotak kenangan, di relung hati kita.