in memoriam – hujan di bulan ke enam

Kesedihan selalu membuat diri begitu rapuh dan sentimentil. Dan kehilangan kau tahu seperti apa rasanya. Dan bahwa live must go on itu pun aku sepakat, namun ada kalanya rasa sedih, rindu dan kehilangan tiba-tiba kembali mengusik. Sangat mengusik, dan tak ada yang dapat aku perbuat selain menitikkan air mata. Yah, aku menangis, dan kau tahu ada sesak yang mendera di dada dan hanya air matalah penawarnya. Seperti malam ini, aku menangis. Namun, kali ini aku tak hanya menangis. Aku menulisnya, dan akan ku simpan. Seperti aku menyimpan semua kenangan. Aku tertawa dan menangis, namun malam ini sebuah kenangan membuatku menangis.

from web

from web


“Mengapa aku memilih Ayahku menjadi Papaku ? … Aku sangat tahu jawabanya.
… Terima kasih, kau beri kami cinta”.

dalam Juni

Hampir sepekan Juni membersamai,

dan sisa-sisa hujan yang masih menitik

apa resolusiku, tanyamu ?

melanjutkan hidup,

menemukan kedamaian di sudut hati orang-orang terkasih

hanya itu ? tanyamu lagi

ya, hanya itu

Langit Juni masih mendung,

namun percayalah semua tak akan lama

kuharap senyumnya segera bersemi

menghapus kelam bayangan langit

dan kembali kita temukan pijar masing-masing

Di satu Juni aku merenung

di satu Juni aku berduka

di satu Juni aku tersenyum

semua tak sama

tak selalu sama

meski demikian, aku ingin pulang dan mengulang

semua bersama

12-losari-01