.: Baru Ditanam sudah Berbuah :.

Zaitun

Zaitun (Photo credit: galigo)

Alkisah seorang Raja dari Negeri Parsi bernama Nusyirwan, suatu hari berkeliling diiringi oleh beberapa orang pembesar kerajaan. Beliau menyamar sebagai orang biasa.  Sang Raja hendak melihat bagaimana kehidupan rakyatnya sehari-hari. Di tengah perjalanan, dilihatnya seorang lelaki paruh baya-seorang kakek-di dalam kebunnya.
Sang Raja tampak keheranan menyaksikan kakek tersebut sedang menanami kebunnya bukan dengan tanaman sayur-sayuran atau pun tanaman berumur pendek lainnya, melainkan tanaman berumur panjang. Diliputi rasa penasaran, akhirnya Sang Raja menghampiri Kakek tersebut.
“Assalamu ‘alaikum, wahai kakek” ujar sang Raja
“Oh…wa’alaikum salam” jawab si kakek terkejut. Penglihatannya yang sudah kabur sejenak memperhatikan lelaki yang tak dikenalnya itu.
“Sedang menanam apa, Kek?”tanya sang Raja kemudian
“Menanam Zaitun.” jawab kakek
“Zaitun… ?”ulang Raja. Semakin heran
“Kakek menanam Zaitun sedang kakek sudah tua, kapan Kakek akan menikmati buahnya ? tanya Sang Raja lagi.
Si kakek tertawa
. Tak tampak sebiji gigi pun di rahangnya.
“Saya maklum wahai anak muda”jawab Kakek mantap. “tetapi bukankah nenek moyang kita dahulu juga begitu ? ia menanam tanaman berumur panjang bukan untuk dirinya, melainkan untuk anak cucunya. Demikian pula yang saya lakukan.”
“sungguh luar biasa jawaban kakek” sahut Sang Raja kagum
“Ini.., Kek. Terimalah hadiah dari saya.” lanjut Sang Raja dan memberikan beberapa keping mata uang kepada si kakek yang disambutnya penuh hormat dan ucapan terima kasih. Ia pun tertawa
.
” mengapa kakek tertawa ?” tanya raja heran
“seperti yang tuan saksikan, biji yang saya tanam baru saja saya masukkan ke dalam tanah, tetapi sudah memberikan hasil (berbuah) yang lumayan. Nampaknya Tuan bukan sembarang orang.” Jawab kakek
Raja sangat kagum mendengar jawaban kakek tersebut. “rupanya otak tua itu kadang-kadang cemerlang juga ya Kek ?”ujar sang raja
“maklum sudah berpuluh tahun diasah”sahut kakek
Raja merogoh sakunya lagi, kagum mendengar jawaban Si Kakek.”ini saya tambah lagi hadiahnya” ujar Baginda Nusyirwan sambil memberikan beberapa keping dinar emas. Melihat kepingan itu, maka tertawalah kakek tersebut lebih keras lagi sehingga seluruh rahangnya yang ompong kelihatan.
“saya sudah terima hasil pohon ini untuk lima tahun panen nantinya” katanya. “saya doakan semoga Tuan diberkahi Allah SWT, lanjut umur dan bahagia. Barangkali Tuan seorang pembesar penting dalam kerajaan dan maafkanlah saya kalau salah menghormati Tuan” lanjutnya panjang lebar.
Baginda Nusyirwan semakin terpikat mendengar perkataan si kakek. Dirogohnya pundi-pundinya. Beberapa keping dinar emas meluncur lagi ke telapak tangan si kakek.
“terima kasih tuan, sudah saya terima upah untuk seumur hidup saya, insyaallah saya tidak akan kekurangan lagi. Saya yakin tuan adalah Raja negeri ini, sebab tak ada orang yang lebih pemurah darpada Tuan. Semoga Allah memberkahi umur panjang kepada Tuan dan menjadi pemimpin yang bijaksana yang mensejahterakan rakyatnya” Ucap Si kakek.
Akhirnya Baginda Nusyirwan berpamitan pada si kakek berotak cemerlang yang berpikir jauh ke depan
. Ia berbuat bukan untuk pribadinya, tapi lebih dari itu untuk generasi selanjutnya.

***. Kisah ini di kutip dari sebuah buku kecil bersampul hijau muda, dengan judul yang sama Baru ditanam sudah berbuah”. Kisah yang selalu menjadi favoritku.

***. kemudian di akhirnya aku sematkan petuah yang sangat bijak ” Jangan Hutan yang meninggalkan Kakek, tapi Kakek yang meninggalkan Hutan.

***. Baru ditanam sudah berbuah ^^d

Iklan

segenggam garam dari seorang ajengan

Seorang pemuda kembali ke kampung halamannya untuk menemui seorang kakek yang tak lain adalah gurunya. Seorang ajengan yang sangat dihormati. Kepada Si Kakek, pemuda tersebut menceritakan tentang penderitaan yang baru saja dialaminya. Setelah mendengar keluh-kesah muridnya, Sang Guru mengambil segenggam garam dan melarutkannya ke dalam segelas air. “minumlah” kata beliau kemudian … dan pemuda itupun meminumnya. “Bagaimana rasanya ?”, lanjutnya… “asin, pahit, Guru …!!!” jawab si pemuda.

 

Kemudian Si Kakek mengajak pemuda tersebut ke tepi sebuah telaga. Sesampai di tempat yang dimaksud, Si Kakek kembali mengeluarkan segenggam garam dan menaburkannya ke dalam telaga dan mengaduknya dengan sepotong kayu. “minumlah” kata Si Kakek. Dengan rasa penasaran bercampur ragu, pemuda itu pun mengambil segenggam air telaga dan meminumnya. “Rasanya seperti apa ?” tanya si Kakek kembali. “Wah, segarrrr …, Guru!!!” seru si Pemuda.

 

Akhirnya Sang Guru berkata dengan bijaknya : “Nak, pahitnya kehidupan ini layaknya segenggam garam. Tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa asin itu adalah sama, tetapi rasa asin yang kita rasakan sangat tergantung dari wadah tempat kita meletakkan perasaan itu … dan wadah itu adalah HATI”.

courtessy of : Mandiri Pettarani episode : antrian dpn CS -menghabiskan 1/3 pagiku di awal Oktober ini tingkyu-so much …  mmmuach, ternyata menunggu tak selamanya membosankan…ya ya ya ^^d …

tingkyu tingkyu tingkyu so much ^__^