dalam Juni

Hampir sepekan Juni membersamai,

dan sisa-sisa hujan yang masih menitik

apa resolusiku, tanyamu ?

melanjutkan hidup,

menemukan kedamaian di sudut hati orang-orang terkasih

hanya itu ? tanyamu lagi

ya, hanya itu

Langit Juni masih mendung,

namun percayalah semua tak akan lama

kuharap senyumnya segera bersemi

menghapus kelam bayangan langit

dan kembali kita temukan pijar masing-masing

Di satu Juni aku merenung

di satu Juni aku berduka

di satu Juni aku tersenyum

semua tak sama

tak selalu sama

meski demikian, aku ingin pulang dan mengulang

semua bersama

12-losari-01

Pelangi hatiku

 

Ronsen Tulang Paha tanggal 27 september kemarin,

La Hawla Wa Laa Quwwata Illa Billaah…

Segala upaya kesembuhan milik manusia, tapi ternyata Allah Azza Wa Jalla punya kehendak yang berbeda …

7 bulan berjalan, tulang paha masih belum nyambung juga …

Alhamdulillah🙂

– MAKA NIKMAT TUHANMU YANG MANAKAH YANG KAMU DUSTAKAN? (QS. Ar Rahman) – 

Alhamdulillah … aku memuji Nya bukan karena kaki yang tak kunjung sembuh, namun lebih dari itu adalah karena kebesaran hatimu menerima takdir Nya.
Semangat dan ikhlasmu-lah yang selalu mengembangkan hatiku, membuatku kemudian mengukir senyum tipis meski di saat yang sama sudut mataku basah karena haru dan bahagia.
Karenanya di pagi dan mendung yang membersamainya, ku coba mencerna dan memaknai  kedamaian hatimu. Mendung tak berarti galau, karena toh hatimu demikian lapang, seluas samudera menerima ketetapan Nya untuk berdamai dengan takdir. Jika pun akhirnya mendung membawa hujan, kelak hujan pun akan membawa selengkung pelangi dan satu hal bahwa pelangi tak akan kembali menghadirkan mendung.
“Pelangi tak pernah mendung” seperti hatimu yang selalu menghadirkan pelangi untuk hatiku.
Semangat ^^d