Garis Waktu

Dari waktu ke waktu, umurku semakin bertambah namun itu juga berarti jatah waktu pun semakin berkurang.
Hidup adalah sebuah nikmat teramat berharga yang harus ku syukuri, meski tak bisa ku pungkiri bahwa satu demi satu orang-orang terkasih meninggalkan untuk selamanya. Tapi satu hal bahwa kenangan-kenangan bersama mereka tetap hidup membersamai hingga saatnya waktuku pun tiba.
Ada saat-saat di mana kenangan bersama mereka yang tlah pergi kembali mengusik, dan saat itu seakan alur waktu pun mundur kembali memutarnya. Seperti itulah, alur maju-mundur yang awalnya ku temukan di pelajaran Bahasa Indonesia tak hanya berlaku di film-film yang biasa muncul di televisi saja. Karena film yang sesungguhnya adalah kehidupan dan diri kita adalah pemerannya, entah itu sebagai pemeran utama atau hanya sekedar numpang lewat sebagai figuran, namun kuharap dirimu adalah pemeran utama di kehidupanmu seperti halnya hidupku.
Begitu banyak hal yang bisa membuat kenangan itu kembali, seperti di satu sore saat kita tengah bercengkrama dengan orang-orang terkasih, tiba-tiba seseorang di antara kita mengucapkan sesuatu dan membuat kita semua kembali teringat hal pada hal yang sama.

keluarga cemarakuMasih lekat diingatan saat aku menemani kakek mengawinkan salak dan memetiknya. Memetik buah-buah tomat dan dan sayur-mayur, lalu menjualnya saat hari pasar tiba. Hohoho, membawa pulang uang hasil dagangan untuk di[tabung] di rumah kakek punya nilai tersendiri buatku. Dan jika ikan-ikan mas Kakek sudah besar, dan pemilik-pemilik rumah makan mulai berdatangan untuk membeli, aku pun bisa menemaninya menyaksikan para pembeli menangkap sendiri ikan-ikan untuk mereka bawa. Oh iya, aku juga kebagian telur-telur ikannya dan itu sangat lezat 😉
Jika matahari bersinar cerah, aku bisa menemani Nenek-Ibu dari Bapak-menjemur gabah. Menjaganya dari serangan ayam dan burung-burung kecil yang nakal. Itu sangat seru.
Aku juga masih ingat, di satu sore yang hangat, saat aku duduk bersama bapak menikmati sepiring kue pancong. Itu beberapa tahun yang lalu, sebelum kepergiannya.
Saat kecil dulu, Bapak sendiri yang mengajarkan aku dan saudara-saudara huruf-huruf hijaiyah. Mulai dari mengeja hingga tartil. Menjadi imam di sholat-sholat fardhu kami, dan untuk hal yang satu ini kami punya istilah sendiri “penduduk Mekkah”. Sssttt … Ini milik kami.
Nenek-Ibu dari Ibu-pun tak kalah hebatnya. Saat berada di dapur pun aku bisa tersenyum mengenang kembali saat aku membantu nenek membuat puding jagung yang manis, semanis ajaran dan nasehatnya.

Aku akhirnya tahu bahwa mereka adalah orang-orang tua yang visioner. Mendidik dan mengajarkan banyak hal yang sangat terasa manfaatnya di saat anak cucunya beranjak dewasa, dan saat itu mereka tak lagi ada membersamai mereka.

Terima kasih atas pelajaran dan pengalaman berharga, kenangan-kenangan terindah yang tlah kalian hadiahkan untuk hidupku. Ini kado terindah di sepanjang garis waktuku.

kado dari cigna :)

kado dari cigna 🙂

bingkai kenangan

go back in time, dimana semua cerita tentang kita, tentang indahnya sebuah kebersamaan, tersusun rapih dalam sebuah frame bernama kenangan. kenangan manis, seperti manisnya permen yang dulu sering kau hadiahkan untuk kami. Dan kenangan indah, seperti selengkung senyum yang mengantar langkah kami ke sekolah. Kenangan yang selalu hangat dalam dekapan memori, sehangat kue pancong di sore hari.

analekta and me

Menghangatkan sore dengan sepiring kue pancong. Bersama bapak tersayang, menikmati hangatnya setiap gigitan. Maklumlah kue pancongnya baru saja di angkat dari pembakarannya. Tapi justru di situlah kenikmatannya, karena rasa  dan aroma kelapanya yang kuat akan lebih berasa saat masih hangat. Dan kehangatan inilah yang kemudian membawaku kembali ke masa kanak-kanak dulu yang di sana ada Bapak, kakak, aku, adik dan si jeruk. adalah Si jeruk motor honda bapak yang menjadi saksi sejarah keberlangsungan hidup Bapak dan keluarga sederhananya. Di masa kanak-kanak, tepatnya saat berseragam hijau-kuning, disitulah awal perkenalanku dengan si kue pancong atau yang lebih familiar kami sebut buroncong. Boruncong adalah menu wajib untu isian kotak makanan kami. Di perjalanan menuju sekolah, ayah selalu menghentikan si jeruk di samping sebuah gerobak buroncong seorang kakek paruh baya. Terkadang kami protes juga, soalnya teman-teman sekolah isi kotak makannya selalu berganti-ganti, sementara kami setiap hari, dari senin sampai senin berikutnya …

Lihat pos aslinya 335 kata lagi

.: “sesuatu” from Tasik :.

1 missed call

detail call : +6282120343xxx

hmm, sapa ya … ???

1 message

+6282120343xxx

hmmm, nomor yang sama … !!! … ???

Ass? Ini kak lia ya,

aku wewet dr tasik,

anaknya om suraji.

From:

+6282120343xxx

19:01 02/01/12

me :  Wa’alaikm slm iy Lia ini

Apa kbr kel semua d

mksr.

From:

+6282120343xxx

19:37 02/01/12

me : Alhamdulillh sehat

btw dpt nmrku dri om

dedy ya ?kbrx kel d

prabu bgmn?

Alhmdllah jg, aku mah

di tasik.

From:

+6282120343xxx

19:42 02/01/12

dan kemudian mengalirlah percakapan kami  selanjutnya bla bla bla …

lumayan lama hampir 2 jam-an sepertinya hehehe …

Alhamdulillah, semua berkat Mu Ya Allah, mempertemukan kami kembali,

menjalin kembali tali kami yang  sempat terpisah berpuluh tahun lamanya.

Sangat Alhamdulillah, puji syukur pada Mu Ya Allah.

Om Naryo yang waktu itu pindah tugas ke Makassar beberapa tahun lalu

semata karena kehendak Mu Ya Allah. Semuanya telah Engkau gariskan

pada takdir kami.

Saat  itu adalah kali pertama Om Naryo menginjakkan kaki di Makassar.

Mendengar kata Makassar, Kakek Suraji bukan main girangnya, sangat

bahagia, karena itu berpesan pada Om Naryo sebelum berangkat untuk

mencari sanak keluarga yang ditinggalkan berpuluh tahun yang lalu, saat

Kakek masih kelas 5 SD karena dibawa oleh seorang prajurit (baca :

tentara)yang mengangkatnya sebagai anak ke pulau  Jawa. Meski

kemungkinannya sangat kecil Kakek tak menyerah bahkan sangat bahagia

dan penuh semangat. Dan di Makassar, gayung pun bersambut, seperti

cerita-cerita dalam sinetron, Om Naryo bertemu dan bercerita dengan

orang yang tepat, satu dari anggota keluarga yang selama ini juga mencari

dan merindukannya. Inilah awal dari kisah kami bersama Kakek Rajji’

sekeluarga.

Subhanallah, demikianlah Engkau menyatukan kembali kami yang telah

lama terserak. Tingkyu Allah.

Psnku, jgn smpe pts tali

persaudaraan/tali silaturahmi kita ya.

Diterima:

21:31:26

02-01-2012

Dari:

Fam_T’Wewet Tasik

+6282120343xxx

Huhuhu … jd terharu baca pesannya si Tante. Insyaallah akan selalu terjaga ya Tan … ^^d