Burasa

Kata Wikipedia :

Burasa adalah salah satu panganan khas masyarakat Bugis dan makassar di Sulawesi Selatan. Panganan ini dikenal juga dengan nama lapat, lontong bersantan atau buras.[1] Bentuknya hampir mirip dengan lontong cuma agak pipih dan dimasak dengan cara tersendiri. Burasa merupakan makanan wajib bagi masyarakat Sulawesi Selatan di hari lebaran yang bisanya tersaji bersama coto makassar ataupun opor ayam.

Panganan ini terbuat dari beras yang dimasak tertebih dahulu dengan santan yang banyak hingga menjadi nasi lembek dan selanjutnya dibungkus dengan daun pisang. Biasanya dibuat menjadi dua bagian dalam satu ikatan (menggunakan tali rapia atau daun pisang) kemudian direbus hingga matang. Panganan ini juga biasanya ditemui di luar provinsi Sulawesi Selatan seperti Gorontalo atau Kalimantan dan beberapa daerah lain di Indonesia dan Malaysia. Mungkin dikarenakan banyaknya suku Makassar dan Bugis yang merantau dan menetap di daerah-daerah tersebut sehingga panganan ini ikut menjadi bagian dari tradisi hari lebaran di daerah-daerah tersebut.

Selain untuk hidangan di hari lebaran, burasa juga banyak dipilih sebagai makanan untuk bekal dalam perjalanan karena mampu bertahan hingga 2 x 24 jam. Burasa bisa dikonsumsi dengan sambal kacang, telur rebus atau sambal haban tetapi bagi masyarakat Bugis atau makassar lebih sering menjadikannya teman untuk makanan coto makassar, Sop Konro, pallubasa, nasu lekku’ (ayam masak lengkuas versi sulawesi selatan) atau makanan yang berkuah lainnya.

Bagi saya dan orang Sulawesi pada umumnya, burasa memang identik dengan hari lebaran. Idul Fitri, kemudian Idul Adha kemarin pun saya bersama orang-orang di rumah masih menyempatkan waktu membuat panganan ini. Beras dimasak dengan santan yang banyak, tak lupa pula bawang putih – bawang merah yang telah dihaluskan dengan garam secukupnya dan batang sereh yang telah dimemarkan, dimasak di kuali/wajan sambil terus diaduk hingga santan terserap merata (setengah matang).

Buras dibungkus dengan daun pisang yang dengan ukuran sesuai selera dan biasanya daun pisangnya telah dibuat layu agar saat membungkus daun pisang tidak sobek. Selanjutnya diikat menggunakan tali rafia. Cara mengikat burasa pun tidak asal mengikat, agar saat membuka nantinya hanya dengan sekali tarik, ikatan bisa langsung terbuka.

 

Tingkyu Allah

antarafoto.com

Jelang lebaran sepertinya eh bukan sepertinya lagi sih tapi memang iya semua pada antusias menyiapkan ini dan itu di hari H. Ahad kemarin, dua bersaudara Affan-Naila bersama ibupun tak terkecuali, bareng si Bunda juga mulai dari Pasar Butung yang terkenal-pusat grosir di makassar yang terkenal murahnya-sampai ke MTC pun mereka kunjungi juga. Sebenarnya akupun rencana awalnya adalah bagian dari mereka, tapi karena kondisi mata yang belum bisa bersahabat jadinya hanya stay at home padahal rencana sudah mantap ehhehheee.

Nah, karena penasaran dengan perjalanan mereka kemarin, seninnya aku akhirnya tanyakan ke ibu deh, minta berbagi pengalaman eh gak taunya si ibu malah ngeluh bin curhat katanya perjalanan. “kemarin itu butung jadi lautan manusia, bergerak pun susah, alhasil buat sekedar cuci mata pun gak bisa apalagi buat milih-milih. Belum lagi si dua bocah itu beberapakali mengeluh kakinya terinjak. Makanya hunting-annya dipindah ke MTC. MTC ramai juga sih tapi setidaknya lebih nyamanlah”. Ooooo … ternyata ada hikmahnya juga sakit mata ini, ya biarpun agak malu-maluin tapi paling tidak bisa menyelamatkan aku dan puasaku hheheee … lagian sakitnya juga kan karena debu-debu intan yang melimpah akibat kemarau dan karena akunya juga yang tak pandai “menjaga mata”. Tapi apapun itu, aku toh tetap bersyukur ada hikmah dibalik musibah. Alhamdulillah, tingkyu Allah ^^d.