Contoh Surat : fasilitasi pertemuan dua pihak yang bersengketa

Berikut adalah contoh surat ke Kepala Desa untuk memfasilitasi dua pihak yang bersengketa dalam hal kepemilikan tanah :

KOP SURAT

Nomor             : xxx/xxx/xxxx

Lampiran         : 1 (satu) berkas

 

Kepada Yth :

Bapak Kepala Desa Timbuseng

Kecamatan Patallassang Kabupaten Gowa

 

Di_ Tempat

 

Assalamu alaikum wa rohmatullah wa barokatuh

Dengan Hormat,

  • Berdasarkan dengan Sertifikat yang dimiliki Perumahan Patallassang Mas dengan Luas 2.6 Ha dan Berdasarkan Surat Somasi yang kami tembuskan
  • Berdasarkan bukti-bukti yang kami miliki, ada perbedaan mendasar letak sertifikat tersebut dengan lokasi kami
  • Dengan demikian mohon kiranya Bapak Kepala Desa Timbuseng bisa memfasilitasi pertemuan kedua belah pihak (PT. Pakkatto Properti Sejahtera dan Perumahan Patallassang Mas), agar masalah tersebut dapat diselesaikan dengan cara yang bijaksana.

 

Demikian  penyampaian kami, atas perhatiannya kami haturkan terima kasih.

 

Sungguminasa, 29 Juni 2019

Pakkatto Properti Sejahtera

                                                                                                Direktur Utama

Andi Idris A.M.A.Idjo

 

Tembusan :

  1. Camat Patallassang
  2. Arsip

segenggam garam dari seorang ajengan

Seorang pemuda kembali ke kampung halamannya untuk menemui seorang kakek yang tak lain adalah gurunya. Seorang ajengan yang sangat dihormati. Kepada Si Kakek, pemuda tersebut menceritakan tentang penderitaan yang baru saja dialaminya. Setelah mendengar keluh-kesah muridnya, Sang Guru mengambil segenggam garam dan melarutkannya ke dalam segelas air. “minumlah” kata beliau kemudian … dan pemuda itupun meminumnya. “Bagaimana rasanya ?”, lanjutnya… “asin, pahit, Guru …!!!” jawab si pemuda.

 

Kemudian Si Kakek mengajak pemuda tersebut ke tepi sebuah telaga. Sesampai di tempat yang dimaksud, Si Kakek kembali mengeluarkan segenggam garam dan menaburkannya ke dalam telaga dan mengaduknya dengan sepotong kayu. “minumlah” kata Si Kakek. Dengan rasa penasaran bercampur ragu, pemuda itu pun mengambil segenggam air telaga dan meminumnya. “Rasanya seperti apa ?” tanya si Kakek kembali. “Wah, segarrrr …, Guru!!!” seru si Pemuda.

 

Akhirnya Sang Guru berkata dengan bijaknya : “Nak, pahitnya kehidupan ini layaknya segenggam garam. Tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa asin itu adalah sama, tetapi rasa asin yang kita rasakan sangat tergantung dari wadah tempat kita meletakkan perasaan itu … dan wadah itu adalah HATI”.

courtessy of : Mandiri Pettarani episode : antrian dpn CS -menghabiskan 1/3 pagiku di awal Oktober ini tingkyu-so much …  mmmuach, ternyata menunggu tak selamanya membosankan…ya ya ya ^^d …

tingkyu tingkyu tingkyu so much ^__^