RIP dear papa (2)

Hari ini, adalah untuk 59 tahun mengenang kelahiranmu

dan hari ini pun adalah tepat sebulan sepeninggalmu.

Hari-hari terasa berbeda, tapi sungguh demikianlah hidup menguatkan kami

bahwa ada yang datang dan kemudian pergi

namun sungguh engkau selalu hidup dalam kenangan dan doa-doa kami,

anak-anakmu.

RIP-lah dear papa, we love u, but Allah hauh lebih mencintaimu

menyayangimu sebagaimana engkau menyayangi kami.

“Allaahumma-gfir lahu warhamhu wa akrim nuzulahu wa wassi’ madkholahu wa qihi fitnatal-qobri wa ‘adzaaba-nnaar”

Iklan

di ruang rindu kita bertemu

aaaahhhh semilir angin pagi menghembuskan kerinduan, dan lagi-lagi aaaaagggghhhh pagi-pagi meleleh pagi-pagi melankolis.

dan kemudian pagi beranjak siang namun tak demikian dengan rindu yang tetap mengusik sedari pagi meski teriknya siang mulai menyengat. Lalu kemudian teriknya siang perlahan memudar di balik rona senja, namun rindu ini tetap terjaga.  “Namamu tersemat di ruang rindu, oh adakah dirimu demikian ?? ” , tanya hatiku.

pada penggalan waktu sore yang indah, 
telah kutitipkan cinta di selaput tipis ruang hatimu yang teduh,
maka biarkan cinta itu lelap disana,
meski gigil menggigit ngilu dan sedikit mengusik lelapnya mimpi,
mimpi tentang samudera yang terarungi namun tiada pernah terlihat tepiannya .

Ku tau cinta yang kutitipkan tak elok seperti asa di kehidupanmu,
hingga aku tak pernah tau seberapa berartinya cinta itu bagimu,
karena ku tau engkau seseorang yang penuh dengan ketakterdugaan ,
Namun pun begitu, 
ku tau dirimu telah mampu meneduhkan resah pada kesunyian yang tiada pernah sedetik pun enyah dari ruang waktu ku,
hingga tiada alasan apapun untuk tidak mengakui bahwa benarlah hadirmu telah mampu menerbangkan putik putik cinta dari dalam taman hatiku.

Aku tau engkau membutuhkan waktu untuk menerjemahkan setiap goresan kataku menjadi sebuah makna kalimat tentang cinta,
aku juga tau engkau memerlukan waktu untuk mengenal warna suaraku dimana intonasinya sering menjadi kacau kala kuterbius di indah suaramu.

Kadang terfikir olehku tentang keberanian untuk mencintaimu,
sedang ku tau akhir kisah ini tak akan menjadi indah seperti kisah cinta Romie dan Juliete .

Ah … aku merindukanmu,
sebuah ucapan ironis yang tanpa kusadari telah terucap dari belahan bibirku yang kaku lagi beku,
hingga langit akalku melesat untuk mencari cinta yang kutitipkan di selaput tipis hatimu itu .

Aku menyadari bahwa aku telah mengambil resiko untuk mencintaimu,
hingga kadang munafik ku berkata dengan angkuh nya bahwa aku akan siap untuk kehilanganmu ,
padahal jika sekejab saja aku kehilanganmu, 
ada kelu yang mengelus hati,
lalu menghadirkan sebuah rindu yang tak mampu kuramu untuk menjadi sebuah penawar .

Entahlah,
aku tidak sedang ingin menangis, 
kala ku tau engkau sedang meniti detik waktu yang ramah dalam sebuah romansa yang indah .

Hingga biarlah waktu yang mengajariku tentang sebuah kata kebahagiaan,
di mana kebahagiaan yang kau rasa akan kurasakan juga,
entah mulai detik ini, 
entah esok atau nanti ,
dan entah hingga ruang waktu yang akan memaksanya , 
karena aku telah terlanjur mencintaimu dalam sebuah ruang kerinduan 

sumber : http://apsas.multiply.com/journal/item/911

Rindu ini mulai menguras hati 😦

melanjutkan hidup

Ada sedih, ada duka. Tapi ku yakin Dia Maha tahu yang terbaik. ‘ Ya Allah, ampuni Bapak, angkatlah sakitnya. Demikian munajat terakhirku sebelum Dia menunjukkan Takdir dan Kehendak Nya bahwa setiap yang bernyawa akan merasakan kematian. Innaalillaah wa innaa ilaihi rooji’un. Dan bahwa hari-hari selanjutnya akan terasa berbeda, tapi live must go on. Aku harus melanjutkan hidup yang telah tertakdirkan padaku.

“Ya Rabb, ampuni segala dosanya, lapangkan alam kuburnya, jauhkan ia dari azab kubur dan api neraka”, dan satukan kami kelak di tempat yang Engkau ridhai”. Amin.

Aku berdoa untuk seorang lelaki yang telah menjadi bagian hidupku
Seorang lelaki yang telah mengajarkanku bagaimana mencintaiMu
Seorang lelaki yang hadir dalam setiap doa setelah shalatku
Seorang lelaki yang meletakkan namaku dalam lantunan doanya untukMu
Seorang lelaki yang hidup bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuku, Ibu, adik-kakakku, dan untukMu
Seorang lelaki yang selalu menasehatiku untuk membakar kelemahan dan kekuranganku
Seorang lelaki yang membutuhkan senyumku untuk mengatasi sedihnya
Seorang lelaki yang membutuhkan dukunganku sebagai peneguhnya
Seorang lelaki yang menjadi pemimpinku di saat aku kehilangan arah
Seorang lelaki yang membutuhkan doaku untuk kehidupannya
Seorang lelaki yang selalu mengingatkanku akan mimpi besarku
Seorang lelaki yang menjadi pahlawan dalam keluargaku
Seorang lelaki yang ku ingin untuk mendampingiku menuju JannahMu

Dan akhirnya, Kami atas nama Kel. Muh. Yusuf Alm. menghaturkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas doa, perhatian dan bantuan Bapak/Ibu,Saudara, Rekan-rekan dan Sahabat sekalian yang tidak dapat kami sebutkan satu per satu. Semoga beliau mendapatkan ampunan dan mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya. Semoga kami, keluarga yang ditinggalkan mendapatkan keikhlasan dan karunia-Nya. Semoga pula amal, keikhlasan dan budi baik Bapak/Ibu, Saudara, Rekan, Sahabat semuanya mendapatkan pahala yang setimpal. Amin.