Ayah dan Semangat

Ketika duduk di bangku Sekolah Dasar dulu, banyak hal yang saya inginkan tak pernah terwujud, terutama sebuah keinginan yang melibatkan sesuatu yang harus diperoleh dengan uang. yang bagi sebagian orang jumlahnya tak begitu banyak tetapi tidak demikian bagi kami. Uniknya, ayah tak pernah mengatakan ia tak punya uang dan selalu berkata “ Sabar, nanti ayah belikan, berdoa saja!”. Berkali-kali kalimat itu keluar dari mulutnya yang saya sendiri bingung apakah itu sebuah janji atau nasehat.

Untuk menagih janji itu, tak ada satupun dasar yang kuat kapan dan bagaimana janji itu diucapkan oleh ayah pada saya, maka yang terjadi adalah rasa penasaran  kenapa ayah tak tampak meluluskan permintaan saya sesegera mungkin jika ia tak mengeluh tak punya uang.

Menagih apa yang dimintakan kepada ayah lebih sering terhalang oleh jadwal tugasnya yang tak menentu. Sebagai tentara dalam satu batalyon pasukan, belum sempat ia mengabulkan permintaan saya, panggilan tugas sudah menunggu dan membawanya berbulan bulan mengembara di hutan belantara. Ibu yang akhirnya lebih sering memberikan pengalihan pikiran terhadap apa yang saya pinta, dari permintaan akan sebuah mainan terbaru menjadi permintaan pada Tuhan agar ayah bisa kembali kerumah dengan tubuh dan jiwanya yang masih bersatu.

Suatu kali dibawah sinar bulan yang benderang ketika anak anak lain sibuk bermain di malam libur,saya pernah meminta ayah untuk membelikan sebuah bola kaki, namun belum sempat bola itu mampir dikaki, di suatu pagi buta ayah sudah harus berangkat ke suatu tempat yang waktu berangkat dan pulangnya tak dapat dijadwalkan seperti  layaknya perjalanan wisata. Dengan ransel hijau penuh dengan segala perlengkapan, satu tas coklat seperti sangsak tinju yang saya sendiri tak tahu apa isinya dan kilatan senjata laras panjang seolah menghapus pikiranku terhadap sebuah keinginan memiliki bola kaki yang jadi anganku beberapa hari sebelumnya.

Kali berikutnya ketika kulihat ayah sudah nampak sedikit agak lama berdiam dirumah, keinginan akan sebuah bola kaki seolah hilang lenyap dari kepala digantikan keinginan untuk memiliki sebuah game watch ayam dan telur, Sebuah kotak permainan elektronik  yang siapapun memimpikannya ketika kecil dulu padahal itu hanya sebuah permainan bagaimana seekor tikus harus menangkap telur yang terus menggelinding dari kandang dan tak boleh pecah.

Lagi lagi ayah hanya tersenyum dan mengelus kepala sambil mengucap kata yang sama , “Sabar dan Berdoalah!”. Malangnya tak sampai seminggu permintaan itu kuutarakan, ayah kembali  pergi dari rumah  dengan ransel hijau , tas coklat dan senjata laras panjangnya. Doa untuk sebuah Game watch pun berubah menjadi doa agar ia pulang dengan selamat dan berkumpul kembali dengan kami.

Keinginan demi keinginan akhirnya memang harus atau terpaksa pergi seiring dengan drama rutin kepergian ayah yang tak menentu. Keinginan akan semua impian saya itu akhirnya berubah menjadi sebentuk harapan agar ia pulang dengan selamat, membawa serta kembali  nafas dalam tubuhnya yang menghembus terdengar ditelinga  ketika ia memeluk kami  keluarganya setelah kepergian sekian bulan lamanya demi Negara.

Suatu hari di sore yang terang setelah satu hari ayah kembali dari tugas, Ayah bertanya apakah aku sudah berdoa untuk mendapatkan apa yang aku pinta , game watch,bola kaki dan mainan lainnya selama ayah pergi?, Saya hanya menggeleng dan berkata padanya bahwa semua itu tak lagi singgah di pikiran saya, yang penting ayah bisa kembali selamat dan aku bisa tidur dalam pelukannya.

Meski seorang tentara, matanya sore itu berkaca kaca dan ia menatap saya begitu tajamnya. Sore itu juga ayah mengajak  saya ke pasar minggu lalu masuk ke sebuah toko grosir disana untuk mendapatkan beberapa barang seperti rokok,jamu,obat-obatan,batu battery,odol,sabun,minyak angin dan banyak macam lainnya hingga penuh tas itu dengan berbagai  macam barang yang dibelinya.

“Untuk apa ayah?” Saya bertanya. Dan ia menjawab dengan sigap dan penuh senyum.

“Untuk persiapan kalau ayah berangkat tugas lagi,ayah akan jual di tempat tugas dan uangnya bisa membeli mainan yang kamu dan adikmu minta, selebihnya buat ibu!” jawab ayah.

Rupanya,tas coklat mirip sangsak tinju yang selalu ayah gendong ketika berangkat tugas bersama ransel hijau serta senjatanya adalah bagian dari nalurinya untuk memberikan tambahan bagi ibu dan kami untuk sedikit rejeki selain dari gaji ayah yang tak seberapa. Konsumen ayah adalah kawan-kawannya sendiri yang tak mungkin mendapatkan warung ditengah hutan untuk memperoleh barang-barang yang sepele namun sangat berguna disana.

Tak lama ketika tas coklat telah penuh, ayah menggamit lenganku menuju Toko ‘Tetap Segar’ dan  semua mainan yang saya minta dari  Bola Kaki, Game watch hingga  papan monopoli singgah ke kedua tanganku.

Ia dengan tubuh yang sebetulnya mulai menua menngendong tas coklat mirip sangsak dibahu kanannya sambil membayar semua mainan saya dengan tumpukan uang lusuh merah dan biru. Uang dari para tentara yang terendam kadang dikubangan lumpur,pematang sawah serta tampias hujan dalam tenda-tenda.

Dulu ketika kecil,saya tak pernah mengira betapa hidup itu sangat bergantung pada apa yang kita pikirkan. Semakin kuat kita memikirkan sesuatu maka semakin kuat  juga kecenderungan  apa yang ada dipikiran itu akan menjadi kenyataan. Ayah mengajarkan bahwa Gaji adalah sebagian yang sangat kecil dari rejeki yang diberikan Tuhan. Ia tak punya rekening gendut atau menakuti rakyat dengan bedil dan seramnya seragam miliknya untuk menambah rejeki. Ayah hanya memiliki tas coklat gendut dengan segala macam isi yang  memanfaatkan selisih harga beli dan harga jual tidak lebih dan itu yang membawa kami meloloskan diri dari sebagian kesulitan yang dihadapi bersama-sama.

Peluh, keringat, jauhnya jarak, bahkan nyawa kerap tak bisa dihindari bagi beberapa pria pelindung keluarga. Dibalik kagagahan dan kegigihan kadang terselip air mata bila mengingat apa yang diminta oleh anak anaknya tak mampu dipenuhi saat itu juga, dalam kesulitan mendapatkanya hampir semua pria membenamkan permintaan itu sebagai sebuah energi yang tersimpan dan menjadikanya sebagai pemicu dan pelecut semangatnya untuk kemudian dipergunakan sebagai tenaga tambahan.

Seorang ayah memang tak akan pernah sempurna di hadapan anak anak dan istrinya, namun justru ketidak sempurnaan itulah yang menjadi jaminan ia akan melindungi anak dan istrinya untuk mencapai sebuah kesempurnaan.

Terima kasih kepada para ayah yang telah memberikan pelajaran bagi kita semua tentang arti berjuang untuk kehidupan. Dan saat ini, pelajaran itulah yang ditunggu oleh anak anak kita  karena masa kini adalah giliran kita.

Pria yang tak meluangkan waktu untuk keluarga bukanlah pria sejati. -Don Corleone – The Godfather.

Didedikasikan untuk para ayah yang telah mendahului kita dan beberapa yang masih diberi kesempatan menemani kita.

*. Sumber : http://www.readersdigest.co.id/forum/lihat/69

*. Tulisan ini pernah diposting pada milis Reader’s Digest Indonesia dengan judul Semangat Ayah Tak Pernah Pergi.

Iklan

Nenek dan Filosofi Pensilnya

Nasehat Nenek Yang Bijak

Seorang anak bertanya kepada neneknya yang sedang menulis sebuah surat.
“Nenek lagi menulis tentang pengalaman kita ya? atau tentang aku?”
Mendengar pertanyaan si cucu, sang nenek berhenti menulis dan berkata kepada cucunya,
“Sebenarnya nenek sedang menulis tentang kamu, tapi ada yang lebih penting dari isi tulisan ini yaitu pensil yang nenek pakai. Nenek harap kamu bakal seperti pensil ini ketika kamu besar nanti”, ujar si nenek lagi.Mendengar jawaban ini, si cucu kemudian melihat pensilnya dan bertanya kembali kepada si nenek ketika dia melihat tidak ada yang istimewa dari pensil yang nenek pakai.
“Tapi nek, sepertinya pensil itu sama saja dengan pensil yang lainnya”, Ujar si cucu.

Si nenek kemudian menjawab,
“Itu semua tergantung bagaimana kamu melihat pensil ini. Pensil ini mempunyai 5 kualitas yang bisa membuatmu selalu tenang dalam menjalani hidup, kalau kamu selalu memegang prinsip-prinsip itu di dalam hidup ini”,

Si nenek kemudian menjelaskan 5 kualitas dari sebuah pensil.

pertama:
pensil mengingatkan kamu kalau kamu bisa berbuat hal yang hebat dalam hidup ini. Layaknya sebuah pensil ketika menulis, kamu jangan pernah lupa kalau ada tangan yang selalu membimbing langkah kamu dalam hidup ini. Kita menyebutnya Allah, Dia akan selalu membimbing kita menurut kehendakNya”.

kedua:
dalam proses menulis, nenek kadang beberapa kali harus berhenti dan menggunakan rautan untuk menajamkan kembali pensil nenek. Rautan ini pasti akan membuat si pensil menderita. Tapi setelah proses meraut selesai, si pensil akan mendapatkan ketajamannya kembali. Begitu juga dengan kamu, dalam hidup ini kamu harus berani menerima penderitaan dan kesusahan, karena merekalah yang akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik”.
ketiga:
pensil selalu memberikan kita kesempatan untuk mempergunakan penghapus, untuk memperbaiki kata-kata yang salah. Oleh karena itu memperbaiki kesalahan kita dalam hidup ini, bukanlah hal yang jelek. Itu bisa membantu kita untuk tetap berada pada jalan yang benar”.

keempat:
bagian yang paling penting dari sebuah pensil bukanlah bagian luarnya, melainkan arang yang ada di dalam sebuah pensil. Oleh sebab itu, selalulah hati-hati dan menyadari hal-hal di dalam dirimu”.

kelima:
sebuah pensil selalu meninggalkan tanda/goresan…
Seperti juga kamu, kamu harus sadar kalau apapun yang kamu perbuat dalam hidup ini akan tinggalkan kesan.

creativesmilekids.com

Oleh karena itu selalulah hati-hati dan sadar terhadap semua tindakan”
Semoga kita bisa mengambil hikmah dari kisah ini

sumber : DuniaPustaka.com Tempat Download Buku Gratis