reuni semalam

Sore hari, Kamar 606 Imperial Aryaduta merekam moment hangat itu, meski air condition menebar suhu yang cukup dingin. Tujuh tahun memang bukan waktu yang singkat untuk sebuah kata bernama perpisahan. Dan di kamar inilah, kemudian kehangatan itu kembali tersenyum. Cipika-cipiki, say hai kabar masing-masing and then mengalirlah cerita-cerita lama yang selalu indah untuk dikenang.

Diiringi tawa dan celoteh bocah-bocah lincah yang tak mau kalah, topik apapun dalam perbincangan ini terasa seru. Bahkan kamar yang sudah seperti kapal pecah akibat ulah para bocah-bocah lincah pun membuat pertemuan makin seru.

Tak terasa, waktunya shalat maghrib. Kami pun bergegas memenuhi seruan Nya. Usai menunaikan kewajiban 3 rakaat, aku tergoda untuk menyeduh segelas kopi. Ku tuang sebotol air mineral 150 ml ke dalam ketel fasilitas hotel untuk memanaskan air. Hmmm … aroma kopi yang khas semakin menggoda saat diseduh. Kutambah sebungkus creamer dan gula. Hmmm … rasanya benar-benar nikmat. Tak salah jika aroma dan rasanya masih melekat sampai saat ini.

Selanjutnya, atas kesepakatan semua pihak, reunian berlanjut ke Es Teler 77 di seberang jalan.

Udara dan angin malam Pantai Losari yang mammiri sepoi-sepoi sungguh menyenangkan. Selengkung bulan sabit tipis di atas kubah Masjid terapung laksana garnish semakin mempercantik suasana malam itu. Aku sukaaaaaa

Hasfi SHutRudi AshadiAsmar SayutiNiar DanyahAlma SalmawatiДушата Майка, dan aku. Sayang banyak yang tak bisa datang, dadakan sih. Aku juga taunya tak lama sebelum akhirnya memutuskan untuk bergabung. Kapan lagi kan.

 

 

Iklan

once upon a time in Kodingareng Island

Dari Kamar Makassar Golden Hotel

Dari Kamar Makassar Golden Hotel (Photo credit: photoblog0004)

Sabtu 21 April 2012, jelang pukul 11.00 dengan menyewa sebuah taxi aku, berdua dengan eki Clb Eky Amalia Putri meluncur menuju Dermaga Kayu Bangkoa.Dermaga yang sudah sangat berumur ini terletak di belakang hotel dan pertokoan di Jalan Pasar Ikan. Gerbang masuknya sangat mudah dikenali dengan sebuah plang nama bertuliskan Café Dermaga Kayu Bangkoa. Semenjak reklamasi dan revitalisasi Pantai Losari, dermaga ini semakin berperan penting bagi kehidupan masyarakat khususnya masyarakat di pulau-pulau sekitar Makassar. Ini dikarenakan, perahu-perahu yang dulunya sering mangkal di sekitar Pantai Losari, sekarang dipindahkan ke dermaga ini. Hanya saja, sungguh sangat disayangkan karena peningkatan peran ini tidak dibarengi dengan pengelolaan yang baik. Areanya dibiarkan menyempit dan kurangnya fasilitas umum yang memadai. Tengok saja lantai-lantai kayunya yang mulai lapuk dan berlubang. Btw, kembali lagi ke aku, kami  maksudku akhirnya tiba di dermaga ini. Suasananya sangat ramai … Hosh hosh hosh … dan delay !!! Masih harus menunggu. Kapal penumpang terakhir ternyata tak mampu lagi menampung kami dan bibit-bibit sukun bawaan kami. Kami pun tertolak hohoho …

Tapi tak apalah kami juga masih kurang 1 awak lagi, masih ada banyak kapal kecil yang nongkrong di dermaga. Kami yang tergabung dalam Komunitas Beranda Baca (KBB) yang akan berangkat hari ini ada delapan orang , Tiwi Hinta (Tiwi),  Mira Azisty (Mira), Chimbo Dopans (Chimbo),  Hamzah Ms (Ancha), Anwar Junior (Anwar), Clb Eky Amalia Putri (Eki), aku sendiri (Lia) dan  Idham Malik (Idham) yang masih berstatus daftar ditunggu. Empat orang rekan kami, Sasliansyah Arfah (Sasli), Mahadi Serang (Mahadi), Ieta Fauzy Harahap (Ita), dan Aulia Syahbani (Aulia) sudah berada di sana, mereka berangkat sehari sebelumnya. Dari short message terakhir Si Idham  katanya kami boleh duluan, dia akan menyusul kemudian atau … “tak berangkat sama sekali”, celetuk Si Mira. Tapi  seruan diplomatis Si banker kami, Tiwi … “kita bukan butuh orangnya tapi uangnya” ahhahahaaaa … ups !!! so sorry Mas Bro Idham, jangan dimasukkan ke hati ya cukup dimasukkan ke saku celana yang bolong saja, hhheheheeheee … just kidding, pissssssss dua jari :))))

Setelah menunggu untuk waktu yang gak mengenakkan klo dibilang singkat, kami pun bertolak dari dermaga kayu bangkoa menuju sebuah pulau bernama kodingareng. Perjalanan kami tempuh selama kurang lebih satu setengah jam. Suara deru mesin kapal, cipratan air laut dan riakan gelombang adalah irama dan nada yang mengiringi perlanan short weekend kami. Sambil sesekali kami berbagi canda dan tawa sekedar menghilangkan kantuk, meski pada akhirnya beberapa di antara kami tak kuasa menahan beban kantuk yang menggantung di kelopak mata. Tapi beruntunglah aku yang lolos dari sihir kantuk si angin laut. Rasa penasaran ku ternyata lebih besar, secara ini trip pertamaku ke sana dan aku tak ingin melewatkannya. Jarang-jarang kan bisa memanjakan mata dengan hamparan permadani biru yang hanya berbatas cakrawala. Meski tak seberapa lama tapi efeknya itu lho … berasa sampai ke hati. Hati berasa lapang seluas samudera hohoho hiperbola gak ya ???

Akhirnya, setelah memanjakan mata dengan hamparan laut di sejauh mata memandang, tampaklah sketsa abu-abu pulau kodingareng. Semakin lama semakin nyata. Tak lama lagi kami akan tiba. And finally … kami pun tiba. Alhamdulillah. Gradasi biru kehijauan air laut yang mempesona menyambut kedatangan kami. Wow !!! so beautifull view … how great and how great the creation … Subhanallah. Sepertinya spectrum warna ini yang akan membuat kita rindu untuk kembali. Dan ini baru sesuatu pertama yang aku temukan, sesuatu yang spontan make me love at the first sight. Sesuatu berikutnya akan segera ku temukan, aku yakin itu.

Bersama dua orang rekan kami, Sasli dan Mahadi, sekumpulan anak-anak generasi pulau yang ternyata sedari tadi menunggu kami, segera menghampiri kapal, membantu menurunkan bawaan untuk selanjutnya di bawa ke rumah Dg. Safa. Base camp kami selama di Kodingareng.  Tuan Rumahnya ramah dan sangat welcome. Apalagi suguhan makan siangnya mmm … mantaplah !!! dan ini sesuatu yang ke dua.

Setelah briefing kecil, sholat ashar, trip dilanjutkan dengan menyambangi satu-satunya sekolah dasar yang ada di pulau Kodingareng. Oh iya, satu hal yang mengusik otakku jauh sebelum menginjakkan kaki di kodingareng adalah perkataannya sasli tentang gersangnya pulau ini. Alhasil pikiranku pun dibuat sibuk dengan membayangkan tentang seberapa gersangnya pulau ini. Boleh jadi memang gersang karena dia kan sebelumnya pernah datang ke tempat ini, apalagi Si Sasli bilang di tempat bakal PLTS di samping sekolah adalah eks hutan kecil. Tapi untuk aku yang baru pertama kali menjejakkan kaki di pulau ini, awalnya tak separahlah dari dugaanku sebelumnya, apa jangan-jangan aku malah membayangkan gurun sahara ya ??? hheheheeee … Meski pun aku tak menemukan sebatang pun nyiur melambai, tapi di beberapa titik adalah tegakan si Lannea Grandis (kayu jawa), Hibiscus similis Bl. (Waru), dan Erythrina lithosperma Miq. non B1 (Dadap Serep) atau Moringa oliefera Lamk (kelor) yang ditanam entah sejak kapan tahun. Di perjalanan menuju sekolah pun  kita bisa menemukan sebatang Alstonia scholaris(pulai) yang berdiri kokoh, beberapa pohon Artocarpus altilis (sukun) yang sangat tinggi dan pastinya sangatlah tua. Iklim mikro yang tercipta dari tutupan tajuk-tajuk mereka kontras dengan aura panas dan tandus di area bekas tebangan yang eks Hutan Kecil. Barisan tapak dara Catharanthus roseus yang cerah merekah di tepi jalan saat melintasi pemakaman. Tapi satu hal yang membuat miris adalah beberapa ekor kambing yang memakan kulit-kulit kering dari pohon-pohon yang telah ditebang. Ouwwww … klo yang ini sih bukan sesuatu. Karena sepengetahuanku hewan ternak sejenis kambing di tempat lain memakan rumput, kulit pisang, daun lamtoro Leucaena leucocephala, daun gamal Gliricidia sepium dan dedaunan hijau lainnya yang amanlah untuk  dicerna. Tapi kenyataan berkata lain di pulau ini, karena bahkan kambing-kambing pun harus berjuang keras untuk kelangsungan hidupnya. Dan tahulah aku betapa pulau ini sangat membutuhkan hijauan lebih dari yang sudah ada.

Sekolah ternyata sangat ramai, padahal untuk jam siang-sore mestinya hanya ada kelas empat, lima dan enam. Tapi ternyata sangatlah ramai karena anak-anak lain datang bermain di halaman sekolah saat sore. Setelah meminta izin pada Kepala sekolah dan guru kelas masing-masing untuk melibatkan adik-adik kami generasi penerus pulau ini untuk menanam bibit-bibit sukun sepulang sekolah. Kami pun berarak menuju dermaga untuk memulai penanaman. Oh iya satu hal lagi tentang sekolah adalah bahwa akhirnya SLTP yang semula ku klaim sebagai SLTP terakhir “SLTP 38” ternyata ada di pulau ini. Jangan heran kalau ada orang yang nekat keliling Makassar mencari sekolah ini, dijamin sampai lebaran monyet pun tak bakalan nemu, karena ternyata sekolahnya terdampar di pulau ini ahhahaaaa … inilah sesuatu ketiga.

Kegiatan penanaman di sore hari sampai menggambar di malam harinya sangat heboh. Penuh riuh celoteh anak-anak pulau. Suara mereka kompak memenuhi telinga. Yang awalnya hanya kelas empat dan lima ternyata lebih dari itu bahkan yang tak bersekolah pun tak mau kalah. Alhasil tak tahulah, bingunglah kita karena semua menyatu sama hebohnya. Dan berhubung mereka anak-anak pulau jelas suara mereka satu dualah dengan ombak hhhehehee … mengingat nama-namanya pun rasanya masih sulit. Ku coba ya … Nadia, Marsya, Naila, Nasrul, Henry, Febregas, Torres, Messi, Messi, Messi, Messi, Messi … hohoho ternyata banyak pemain bola di sini. Ke depannya I hope so, amien. Nah, ini sesuatu ke empat.  Tapi terlepas dari sesuatu ini, mereka adalah cikal-bakal pulau dan negeri ini. Kelak di tangan merekalah pulau dan Negara bergantung. Tak masalah mereka anak-anak pulau atau bukan toh tak ada seorang pun yang dapat memilih di mana dia akan dilahirkan. Anak-anak yang tinggalnya di mamuju alias maju mundur jurang tak pernah meminta agar mereka dilahirkan di mamuju. Anak-anak yang hidup di bawa desingan peluru di afganistan dan palestina pun tak pernah meminta agar mereka dilahirkan di afgan dan palestin, atau anak-anak yang serba kekurangan gizi dan hidup di bawah garis kemiskinan di Somalia dan Ethiopia. Atau sebaliknya si Brooklyn yang nota bene anak David dan Victoria Beckham, atau Suri anak Tom Cruise dan Katie Holmes, atau Si afikah yang lucu menggemaskan. Mereka dan kita semua tak pernah meminta dilahirkan di tempat kita akhirnya lahir. Tak ada. Karena kita berjalan di atas garis takdir kita masing-masing. Yang ada adalah bagaimana dengan apa yang ada pada kita, dengan apa yang kita miliki kita bisa survive, karena boleh jadi apa yang dianggap orang adalah kelemahan justru disitulah kekuatan kita. Kembali lagi ke Nadia dan Messi-messi kecil, mereka adalah anak-anak pulau yang punya hak yang sama dengan anak-anak Indonesia lainnya. Mereka berhak memiliki masa depan, dan mencerdaskan mereka bukan hanya tanggung jawab para orang tua mereka tapi lebih dari itu, adalah tanggung jawab kita semua. Mereka adalah anak-anak nelayan yang tangguh yang suaranya mampu mengalahkan ombak. Dan kelak pada merekalah negeri ini bergantung. Anak-anak dari ayah-ayah nelayan yang luar biasa. Karenanya aku akan menyematkan sebait puisi Yuka Fainka Putra  yang selalu ku suka

Tak ada nelayan yang ragu pada hujan, namun badai membuat setiap nelayan penasaran.
Di hujan nelayan akan melempar pukat, ia menjala kata, dari benih-benih mitos laut yang masih tersisa. Laut selalu punya tanya dan cerita. Laut selalu mengizinkan kita untuk bersajak riang gembira dan laut juga akan memilihkan alur kuat untuk prosa-prosa miris yang tak tertuntaskan …

bersama KBB aku datang dan kelak bersama KBB pun akan kembali so, see u again ^^d

*. Isra Icca Ibhe  maaf nah, kemarin cuma melintas depan Grand Palace dan akhirnya ke kodingareng duluan hheheheheee …