mengelabui rindu

from : gladiaria.wordpress.com

from : gladiaria.wordpress.com

Menikmati sisa hari dengan secangkir cokelat hangat

Kurasa bayangan senyummu pun larut dalam setiap kehangatannya

seperti bayangan senja yang perlahan menyapa dari balik jendela,

meski aku terus berkata tidak, namun gesekan rasa ini mengusik hebat

gemerisik di antara dedaunan dan angin malam yang mendesau

mengalirkan sepi yang sama hebatnya

dan bersama bayangan malam pekat, kembali ku larutkan senyummu dalam secangkir cokelat

sekedar untuk mengelabui rindu

 

 

 

 

 

Iklan

nada diam

Hanya satu pesan singkat, ladu diam … dan sepi …

Tak ada nada, hampa tak bersuara …

Demikianlah, percakapan pun terhenti

Inikah akhirnya ??? … Entahlah, mungkin seseorang di seberang sana punya jawabannya.

Atau barangkali, diamnya adalah sebuah jawaban.

Mungkin aku ini terlalu naif dan polos

Tak bisa membaca dan memahami isyarat dan makna dari diammu.

Tapi jika pun demikian, meski hanya sekedar memberi sapaan, salahkah ???

Hanya itu.

Namun, jika pun itu adalah kesalahan juga, mungkin memang beginilah akhirnya.

Kelak aku tak lagi akan berbagi kabar padamu.

“Akhirnya hanya ada satu nada untuk kita, “diam”.

rasa [senja]

midnight sun on Senja

midnight sun on Senja (Photo credit: Zanthia)

[Senja] Anging mammiri mulai mengirimkan sinyal senyap dan dingin. Menciptakan irama gesekan dahan-ranting padu dalam desau angin semilir, rambat merayap, menelusup relung sendi. Oh, rindu dan sepi perlahan mengusik hati.

[Mendung] dan oh ku kira akan turun hujan namun titiknya tak kunjung pun, hingga malam mulai merangkak, panjang dan kelam. Rinduku kian membiru. Duhai Dewi malam, selimuti hatiku dengan dekap hangatmu. Aku tak ingin beku menjemput pagi. Kuatkan aku untuk tak bisu, menyerah dalam kebekuan tuk menjemput remang sinar keemasan di ufuk fajar.

Anging Mammiri: 
Anging mammiri ku pasang
Pitujui tontonganna
Tusarroa takka luppa
Eaule .. na mangu’rangi
Tutenayya, tutenayya pa’risi’na
 
Battumi anging mammiri
Anging ngerang dinging-dinging
Nama lantang sa’ri buku
Eaule .. na mangu’rangi
Ma’lo’lorang, ma’lo’lorang je’ne’ mata
 
 
Artinya:
 
Wahai angin yang bertiup semilir, aku menitip pesan
Sampaikanlah hingga ke jendela rumahnya
Pada dia yang sering melupakan
Duhai .. Hingga dia dapat teringat
Si dia yang tak memiliki simpati
 
Datanglah wahai angin yang bertiup semilir
Angin yang membawa rasa dingin
Yang menusuk hingga ke sumsum tulang
Duhai .. Agar dia teringat
Bercucuranlah, bercucuranlah air mata 

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.