lagi-lagi karena nikmat-Nya

Hari ke dua di pengungsian, maklum rumah lagi direnov jadinya sampai untuk waktu yang entah kapan harus angkat kaki, angkat koper dan sebagian besar isi rumah ke rumah seorang kerabat. Tepatnya sih di kolong rumah dengan segala keterbatasan dan kesederhanaan. Banyak belajar, banyak bersabar, banyak bersyukur, toh masih di kolong rumah dan bukannya kolong jembatan, na’udzubillah. Jadi miris juga membayangkan mereka-mereka yang hidup di kolong-kolong jembatan. Dear Grandma Almarhumah dulu selalu menguatkan dan membesarkan hati kami “sabar jadi subur”.

Segala kesederhanaan kami sambut dengan kesyukuran yang tak berhingga, toh jauh sebelum saat ini kami juga pernah merasakan yang lebih tak berkecukupan dari masa-masa ini dan Alhamdulillah masih bisa survive hingga sekarang. Dan itu semua tentulah karena campurtangan Allah atas hidup kami.

Alhamdulillah ‘alaa kulli haal …”

Selalu dan selalu karena nikmat dan kebesaran – Nya.

syukur …

syukur …

Alhamdulillah …

… dan demikianlah kami memaknai semuanya.

memaknai syukur

Hari kembali malam, sejauh mata memandang yang ada kegelapan. Dua hari terakhir adalah hari-hari bersama mendung dan hujan yang menderas hebat, dan sesekali dikejutkan oleh gemuruh dan petir. Adalah sebuah kesyukuran besar saat hujan kembali menderas, dan kita ada tempat yang hangat dan teduh di sebuah tempat bernama rumah. Pun jika toh hujan mendapati kita saat kita tengah melaju dan berkendara, tapi karena saat itu kita berada dalam kendaraan akhirnya kita bisa terus melaju tanpa kebasahan. Demikian pula untuk yang bermotor, setidaknya masih ada jas hujan yang bisa kita manfaatkan. Dan jika pun harus berjalan kaki, namun kita masih bisa menyiapkan payung yang bisa digunakan saat hujan mulai turun. Bersyukur di setiap cuaca dan keadaan, sejatinya demikianlah kita memaknainya. Dan cobalah kita menengok pada mereka yang tak bisa menikmati hal-hal yang kita nikmati sekarang. Jangankan untuk sekedar berteduh menunggu hujan reda, bahkan untuk tidur pun mereka harus berfikir keras. Selama ini, hanya beralas kardus, namun baru saja hancur menjadi bubur kertas tergenang air. Atap mereka ??? … atap mereka seluas langit, tanpa plafon dan asbes.

Sungguh miris.

So, bersyukurlah kita yang diberi begitu banyak nikmat. 



Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
(QS Ar-Rahman )

Ditemani irama hujan yang mengucur deras, mari kita sama-sama merenungi
. Sebegitu banyak nikmat, sebanyak itu pulakah kita bersyukur ???

Syukur … demikian aku memaknainya

Rumput tetangga lebih hijau ???

DUA Hal yang Membuat Kita Tidak Bersyukur Dengan Keadaan Kita Sekarang

Pertama :

Kita sering memfokuskan diri pada apa yang kita inginkan, bukan pada apa yang kita miliki.
Katakanlah anda telah memiliki sebuah rumah, kendaraan, pekerjaan tetap, dan pasangan yang terbaik. Tapi anda masih merasa kurang. Pikiran anda dipenuhi target dan keinginan.

Anda begitu terobsesi oleh rumah yang besar dan indah, mobil mewah, serta pekerjaan yg mendatangkan lebih banyak uang.
Kita ingin ini dan itu. Bila tak mendapatkannya kita terus memikirkannya. Tapi anehnya, walaupun sudah mendapatkannya, kita hanya menikmati kesenangan.

Kita tetap tak puas, kita ingin yang lebih lagi. Jadi, betapa pun banyak yang kita miliki, kita tak pernah menjadi “KAYA” dalam arti yang sesungguhnya.

Mari kita luruskan pengertian kita mengenai orang ”kaya”.

Orang yang ”kaya” bukanlah orang yang memiliki banyak hal, tetapi orang yang dapat menikmati apapun yang mereka miliki.
Tentunya boleh-boleh saja kita memiliki keinginan, tapi kita perlu menyadari bahwa inilah akar perasaan tak tenteram.
Kita dapat mengubah perasaan ini dengan berfokus pada apa yg sudah kita miliki. Cobalah lihat keadaan di sekeliling Anda, pikirkan yang Anda miliki, dan syukurilah. Anda akan merasakan nikmatnya hidup.

Pusatkanlah perhatian Anda pada sifat-sifat baik atasan, pasangan, dan orang-orang di sekitar Anda. Mereka akan menjadi lebih menyenangkan.
Seorang pengarang pernah mengatakan, ”Menikahlah dengan orang yang Anda cintai, setelah itu cintailah orang yang Anda nikahi.” Ini perwujudan rasa syukur.

Hal kedua yang sering membuat kita tak bersyukur adalah :

Kecenderungan membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Kita merasa orang lain lebih beruntung.

Kemanapun kita pergi, selalu ada orang yang lebih pandai, lebih tampan, lebih cantik, lebih percaya diri, dan lebih kaya dari kita. Di atas langit masih ada langit.

Jadi, setelah ini kemudian masihkah rumput tetangga lebih hijau ??? … Adakah kita menyadari akan sebuah kemungkinan bahwa rumput tetangga tak selalu hijau ??? … Boleh jadi ternyata rumput di halaman kita lebih hijau atau sama hijaunya dengan rumput tetangga.

 

Rumput tetangga tak lebih hijau dari rumput sendiri.

Hidup akan lebih bahagia kalau kita dapat menikmati apa yang kita miliki. Karena itu bersyukur merupakan kualitas hati yang tertinggi.

Hidup tak boleh sekedar hidup. Belajarlah dari hidup dan menikmati apa yang disajikannya. Syukur, demikianlah aku memaknainya …